Story

Why Passion is Overrated

Anak jaman sekarang percaya banget soal bekerja sesuai passion. Kalo ngga suka, jangan dikerjain. Kalo lo berasa ga kerja, berarti itu passion lo. Ada yang bilang, embrace your passion. Kalo ngga ngerti passion lo apa, mending mati aja deh!

Padahal mah emang pengennya kerja asal gampang aja. Asal enak, santai, masih punya waktu buat main, pacaran, jalan-jalan. Kerja seadanya, tapi mau dapet gaji gede. Eyakali, situ pikir situ oke?

Apa iya begitu?

Anehnya, pas ditanya passion lo persisnya apa, jawabnya ngawang-ngawang. Masih galau, Kak. Belum tahu pasti passion diri sendiri apa. *eyeroll* *bolakbalik*

Danton Prabawanto, CEO JagoanHosting bilang, “Passion itu bisa dibentuk. Kalau kata orang Jawa, istilahnya itu ‘witing tresno jalaran soko kulino’. Cinta itu datang karena terbiasa. Pas udah nyoba, baru ngerti dan bisa suka. Kalo ngga pernah nyoba apa-apa, mana bisa sih tau passion nya yang mana? Yang suka ngomong passion tuh mesti latar belakangnya mampu. Kalo kayak aku gini ya nge-set kalau passionku ya jualan, bisnis, dagang. Soalnya ya emang terpaksa begitu.”

Pada awalnya, Danton mengaku menjadi pengusaha karena ‘terjebak’ keadaan. “Awalnya sih ya, dari ketidakmampuan, jadi mau gak mau harus cari uang.” Mulai dari ikut MLM sampai jualan kaos, semua pernah dijalani olehnya karena orangtua tidak sanggup membiayai sekolahnya. Oleh karena itu Danton mau berusaha, bekerja keras untuk melakukan semua hal, karena hanya dengan kerja keras lah yang membantu dia menghidupi dirinya dan keluarga.

Lumayan, pada saat masih SMA pun ia sudah berpenghasilan 1,5 juta rupiah sebulan, hampir menyamai gaji orangtuanya sebagai guru. Selepas sekolah, ia pun sempat mencoba bekerja karena tuntutan orang tua. Hanya karena menurut orangtuanya, ukuran sukses itu ya kerja kantoran. Padahal gajinya pada saat kerja kantoran cuma 800 ribu, separuh dari penghasilannya ketika berbisnis.

Ketika menjadi karyawan, ia merasa ngga nyaman karena masih ingin berbisnis, lagi-lagi dengan alasan bisnis bisa membawa penghasilan lebih banyak. Akhirnya ia mencoba melakukan semuanya sekaligus, jadi karyawan, sekaligus coba-coba usaha. Karena merasa tersentil dengan omongan salah satu temannya yang mengatakan kalau jadi pengusaha harus total, jangan setengah-setengah, akhirnya ia memutuskan keluar dari perusahaan tempat ia bekerja.

“Motivasiku pada saat keluar dari pekerjaan itu ya gampang, cari duit buat makan. Minta uang orangtua ngga mungkin, sementara gaji udah ngga terima, jadi mau ngga mau bisnis harus total kalau mau bisa makan. Aku cuma bisa memotivasi diri dengan cara membandingkan diri sendiri dengan teman sebaya. Kalau temanku gajinya 3 juta dalam sebulan, aku juga harus mendapat 3 juta dengan cara berbisnis. Minimal penghasilanku sama dengan temanku bagaimana pun caranya,” kata Danton.

Sebelum ia sukses membangun perusahaan jasa hosting dan website, Danton sudah mencoba berbagai hal. Di tahun 2004, ia mencari peluang di sekitaran kampus, mencari apa saja yang bisa diuangkan, mulai dari jualan kalender sampai makanan ke anak mahasiswa. Ia juga pernah mengelola SPBU yang tidak terurus, sampai mendapat modal yang cukup untuk memulai usaha. Hingga pada akhirnya, ia bertemu dengan co-foundernya yang sekarang dan akhirnya membangun bisnis hosting dan web di Surabaya.

Perjalanan membangun passion itu ngga bisa dicapai cuma dengan cuma nyoba ngerjain satu hal lalu bilang, oke gue ngga passion di sini, karena gue ngga suka sama ini. Passion itu akumulasi dari berbagai trial dan error, dari berbagai pengalaman dan kegagalan. Bukan dari nonton film di mana tokohnya terlihat bahagia hura-hura karena melakukan hal yang terlihat keren dan seru, lalu berandai-andai pengen jadi seperti itu juga tanpa mau bekerja keras dan membuktikan diri sendiri.

Atau cuma gara-gara baca bukunya motivator yang ngomong soal passion, lalu galau ngga berujung karena ngerasa ngga ‘passion’ kerja di kantor. Ngga ngerasa ga bisa ngebangun karir karena ga bisa ngebangun semangat untuk kerja.

Tapi ya, cuma mimpi sih boleh-boleh aja. Gratis. Tapi daripada ngimpi doang mending ikutan kompetisi wirausaha yang dibikin sebuah bank sih. Katanya kalo menang bisa jadi motivator terus bikin buku. Eh apa sebaliknya ya?

Hidup itu sejatinya pilihan sih. Ya, terserah lo aja.