Opinion

Orang yang Tersesat, Belum Tentu Tersesat

Pikiran kita melompati jurang yang ada karena reasoning yang tidak lengkap, bisa menyebabkan kesesatan berpikir (fallacy).

“Woi, masa sih? Di mana-mana orang yang tersesat, ya, berarti tersesat!”

Wuits, belum tentu, kawan, orang yang tersesat itu belum tentu tersesat.

“Apanya? Apanya yang gak tersesat?”

Jalan pikirannya. Setiap orang memiliki jalan pikiran masing-masing yang bisa berbeda antara satu sama lain. Untuk bisa membaca jalan pikiran tersebut dibutuhkan reasoning, penjabaran dari alasan dan pertimbangan, yang jelas dan masuk akal. Saat reasoning itu tidak lengkap, bisa menyebabkan pikiran kita langsung mengambil suatu kesimpulan yang berasal dari lompatan pikiran kita. Ketika pikiran kita melompati jurang nalar yang ada karena reasoning yang tidak lengkap, nah ini yang bisa menyebabkan kesesatan berpikir.

Fallacy (image: the priceofrice.com)

Kalau kamu mengambil kesimpulan bahwa saya akan membahas tentang kesesatan berpikir, ya, kamu benar, silakan lanjutkan membaca! Silakan tersesat dalam tulisan ini. Jadikan refleksi diri, sudah sebanyak apakah kamu menyesatkan orang lain. Haha.

Kawan, pernahkah kau melihat seseorang berbicara di depan televisi, terdengar begitu meyakinkan, sampai-sampai membuat kau bertepuk tangan? Tetapi setelah acara berakhir, kamu seperti tidak mendapatkan apa-apa karena ternyata omongan orang tersebut cenderung berputar-putar di inti yang sama. Membuat pikiran kita tersesat gara-gara dikasih penjelasan yang tidak tepat konteksnya karena ada beberapa premis yang tidak diutarakan atau malah diberi penjelasan yang sepertinya menjelaskan padahal tidak menjelaskan apa-apa.

Saya kasih contoh deh, ceritanya ada seorang wakil rakyat yang sedang diburu media untuk menggelar press conference. Setelah dikejar ke sana sini, akhirnya bapak itu mau diwawancarai di situ. Para awak media memenuhi ruangan sampai ke pojok-pojok di bawah tangga. Mereka sedang mengejar penjelasan tentang apa dampak dari keterjangkauan harga pangan terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia. Bapak itu kemudian menjelaskan seperti ini:

“Perekonomian Indonesia sedang di tahap yang baik karena semua harga pangan menjadi terjangkau. Beras, palawija, daging sapi, daging ayam, daging kambing, daging rendang (?), semuanya bisa dibeli bahkan oleh pria yang ada di pojok sana, iya, kamu, yang di bawah tangga. Maka dari itu, saat semua harga pangan itu terjangkau, perekonomian kita sedang baik.”

Setelah mendengar penjelasan itu, ada beberapa wartawan yang sudah merasa mendapat berita yang cukup, lalu mereka pulang. Tapi ada juga yang masih tetap tidak beranjak. Di antara yang tidak beranjak itu, ada yang memang masih ingin bertanya, sisanya ingin tetap di sana cuma karena yang pulang itu belum sebanyak yang masih tinggal.

Begging the question (image: coffeetablecongress.com)

Jawaban bapak itu memang terdengar meyakinkan, tapi menyesatkan. Konklusi yang kita dapat hanyalah premis “perekonomian indonesia sedang di tahap yang baik karena semua harga pangan terjangkau” dengan penataan kalimat yang berbeda. Ini namanya kesesatan berpikir, nama spesifiknya ini tuh jenis begging the question.

Jadi intinya, bapak tersebut memberikan kesimpulan yang muter-muter alias ngga ada isi, karena penjelasannya sama dengan pernyataan di awal. Terpujilah wartawan yang tetap tinggal di sana dan menanyakan pertanyaan yang tepat. Namun, tidak salah juga kalau ada wartawan yang pergi meninggalkan tempat tersebut karena sudah yakin, apapun kalimatnya, jawaban bapak itu pasti sesat.

 

Kesesatan pikiran tuh nggak cuma itu doang, banyak banget macamnya! Ini beberapa di antaranya.

Salah satu yang marak terjadi pas lagi pemilu tuh salah satunya adalah strawman. Kesesatan ini terjadi akibat salah dalam mengartikan argumen seseorang, dengan tujuan menyerang argumen lawan tersebut, biarpun kedua hal tersebut ngga berhubungan. Misalnya, capres X ingin memperkuat pertahanan negara dengan mempersenjatai tentara dengan lebih canggih. Trus orang lain komentar, “Wah, pasti ni orang senengnya ngajak perang negara lain nih, udahlah jangan dipilih. Mending pilih yang ngga suka perang.”

Sekali lagi harus saya tekankan, komentar tersebut tidak salah, cuma penarikan kesimpulannya itu tidak berdasar pada argumen-argumen yang menjelaskan mengapa dia bisa mengambil kesimpulan bahwa memperkuat pertahanan negara itu berarti bakalan ngajak perang negara lain.

Contoh kesesatan berpikir yang lain. Rata-rata orang yang males diajak ngomongin tentang capres-capresan, gara-gara kebanyakan dengerin pendapat orang yang isinya sesat semua, biasanya ngomong, “Udah daripada mikirin pemilihan calon presiden, mending mikirin besok UAS mau milih huruf apa di LJK.”

Red herring? 😛 (image: sheepforcomics.wordpress.com)

Nyet, lo ngelakuin kesesatan berpikir juga. Kenapa? Karena menanggapi sebuah isu dengan cara mengalihkan kita dari topik yang (mungkin) penting. Istilah ini disebut red herring.

Tujuan dari ditulisnya postingan ini karena saya ingin berbagi cerita, gimana indahnya dunia kalau sebelum berpendapat itu mbok, ya, dipikir dulu rasionalisasinya. Apalagi kita hidup di negara demokrasi, mengutarakan pendapat sudah bisa masuk jadi hak asasi, tapi jangan bikin orang sensi. Ditanya kenapa berpendapat kayak gitu, malah jawab semau elu. Gitu.

Bahayanya dari kesesatan berpikir ini tuh saat orang yang punya pengaruh di lingkungannya menjelaskan sesuatu dengan rasionalisasi yang salah, bikin cara pikir yang menyesatkan. Contohnya dari orang yang punya pengaruh itu nggak cuma petinggi negara aja, tetapi juga para penggerak kemahasiswaan, aktivis, guru SD, kepala rumah tangga, sampai kamu yang suka pakai sosial media. Cara pikirmu akan dibaca orang banyak tuh. Apalagi saat kemarin lagi panas-panasnya pemilu, banyak yang pengguna socmed yang ikut berkomentar, memberi pandangan, dan sampe berantem demi capres kesayangannya. Lebih baik dikaji dulu sebelum berkomentar, sudah tepat dengan konteksnya apa belum, jangan salah dalam menyoroti masalah.

“Ribet amat dong kalau seumur hidup itu mau ngomong harus dipikirin berkali-kali terus?”

Ya, kan nggak harus. Ada kalanya harus menyikapi sesuatu dengan argumen yang dipikirkan matang-matang karena memang itu dibutuhkan, ada juga kalanya menyikapi sesuatu dengan cara agar semua senang! Lihat deh stand-up comedy. Kalau itu semua argumen ditanggepin pake rasionalisasi, bakalan basi.

Akhirnya, semua kembali padamu, eh ke pada-Nya deng kalau konteksnya akhir hayat sih. Cuma ada satu yang ingin saya titipkan pada kalian setelah kalian membaca post ini: mari pintar-pintar dalam berkomentar!

Image header credit: deathtostock