Opinion

Nrimo Pangkal Dijajah

Pasrah itu baiknya kalo sudah berusaha dan berupaya dengan gigih dan sekuat tenaga. Kalau belum ada usahanya udah pasrah, ya namanya malas dan bodoh.

Dalam bahasa Jawa, nrimo itu artinya menerima. Kalau diartikan lebih luas lagi, nrimo itu juga bisa diartikan sifat seseorang yang cenderung pasrahan, menerima nasib dan keadaan. Kalo ekstrimnya sih, ya apapun keadaan buruk yang dialami, orangnya cenderung terima apa adanya dan ngga mau melawan.

Pasrah itu baiknya kalo sudah berusaha dan berupaya dengan gigih dan sekuat tenaga. Kalau belum ada usahanya udah pasrah, ya namanya malas dan bodoh.

Tapi ya masalahnya, sebagian besar masyarakat Indonesia itu sifatnya ya begitu. Nrimo. Pasrah. Padahal mereka mungkin sedang mengalami ketidakadilan atau bahkan pelanggaran HAM, tapi mereka malah percaya bahwa yang mereka alami ini adalah karena takdir, jadi mereka kemudian mengikhlaskan hal tersebut.

Nrimo ing pandum – menerima dengan ridho segala pemberian (image: doniepangestu.blogspot.com)

 

Salah satu contoh yang sering terjadi misalnya ketika seseorang sakit. Biasanya, orang sakit baru ke dokter atau ke rumah sakit setelah penyakitnya parah, karena masih ditahan-tahan, dan merasa sakit sedikit saja. Padahal mungkin semakin lama ditahan, semakin parah pula sakitnya.

Lalu pada saat orang tersebut berobat ke rumah sakit, mereka pun tidak merasa perlu untuk menjelaskan dengan rinci, sakit apa yang diderita, di bagian mana, atau gejala apa yang dirasakan. Padahal tentunya dokter perlu mengetahui keluhan yang diderita, supaya diagnosis yang diberikan tepat.

Setelah dokter memberi obat pun, pasien tidak bertanya apa-apa, lalu nurut saja diberi obat apa. Ngga berupaya untuk bertanya obat tersebut gunanya untuk apa, kandungan apa yang ada di dalamnya, apa efek samping yang mungkin terjadi ketika meminum obat ini.

Jika terjadi hal yang lebih parah, misalnya karena penanganan yang terlambat, pasien pun sering ngga berusaha bertanya pada dokter yang tentunya lebih ahli dan berpengalaman dari mereka untuk mengetahui sebab mengapa mereka menderita sakit tersebut. Padahal pasien dan keluarga bisa bertanya dan meminta kejelasan status lho. Toh, ilmu kedokteran itu ilmu pasti, bisa dijelaskan dengan logika. Bukan klenik yang ngga jelas asal-usulnya. Tapi ya, tetap saja mereka ngga berusaha mencari jawaban dengan bertanya sampai dapat penjelasan.

Yang terjadi biasanya malah, kalau sampai penyakitnya akut, mereka cuma bisa berdoa dan bilang, “Ini semua cobaan dari Yang di Atas, kita semua harus bersabar dan bertawakal atas musibah dan takdir yang diberikan Tuhan ini.”

Jelas-jelas emang ga ada usaha mau melawan penyakitnya kok, yang disalahin Tuhan? Emang kalau cuma sekadar berdoa aja bakal sembuh gitu? Ya namanya sakit, ya berobat. Itu kalau mau pake akal dan logika sih.

Ini baru sekedar salah satu kejadian kalau orang sakit. Jelas masih banyak jenis nrimo lainnya di tempat lain, bahkan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Ngga heran bangsa ini dijajah sampe berabad-abad kalau sampai sekarang pun masih nrimo dan pasrahan. Marilah menjadi individu yang pintar, dengan bertanya secara cerdas. Berhentilah menjadi individu yang pasrah dan suka dijajah.