Opinion

Lebaran Jangan Mudik!

Emang ngga gampang menghadapi sekian juta orang dalam satu waktu bepergian secara bersama-sama, dan banyak yang ga tau aturan pula! Tapi mesti ada yang gerak untuk mulai mengubah ketololan yang terjadi setiap tahun ini.

Nggak jauh dari rumah saya, ada seorang penjual martabak. Manis, telor, buatannya dia termasuk enak. Beberapa kali saya melampiaskan hasrat ngidam martabak di gerobaknya yang hampir nggak pernah absen mangkal deket SMP. Sampai suatu lebaran dia pulang, dan setelahnya nggak pernah lagi jualan. Kecelakaan. Sekeluarga, pas mudik naik motor.

Usaha martabaknya emang diwariskan dan tetep jalan meski setelah ia berpulang. Tapi sedihnya banget. Dan nggak cuma kejadian pada keluarga bapak penjual martabak. Iya, angka kecelakaan selama arus mudik dan balik lebaran emang mencengangkan sih. Kalau tahun lalu, kata data Operasi Ketupat Polri, tercatat 3,601 kecelakaan, dengan total 686 korban tewas. Angka ini didominasi oleh sepeda motor, yang emang dituding sebagai biang jalanan.

Makanya, buat teman-teman yang mau mudik, harap selalu berhati-hati ya. Silakan ditonton dulu film pendek ini sebagai pengingat:

Mudik, dari asal bahasa Jawa-nya, mulih disik (pulang dulu), emang jadi fenomena khas Indonesia yang penuh suka duka, ciailah. Konon sejak 1970-an, mudik adalah satu momen paling emosional sepanjang tahun, bisa dibilang. Gimana engga, dari kerasnya kota besar, jutaan orang bela-belain eksodus pulang ke kampung halaman untuk ngerayain Idul Fitri di rumah. Untuk bersimpuh depan orangtua yang masih ada, untuk sekedar makan bareng keluarga, ato duduk di bale-bale sambil ngemil bareng tetangga.

Di antara harga tiket pesawat dan bus yang melambung tinggi, tiket kereta yang sedetik ludes, dan berjubelnya manusia di pelabuhan-pelabuhan penyeberangan, ini yang terjadi. Nggak kehitung banyaknya perusahaan sampe instansi pemerintah sibuk promo nyediain program mudik gratis sampe mudik aman untuk banyak orang.

Berbagai merek otomotif kondang, gelar posko mudik sepanjang jalan. Sepanjang rest area sama juga. Booth-booth merek dagang berjejal menjajakan promo seru untuk para pemudik. Mudik membuat kita semua sibuk. Kemacetan yang mengular sepanjang Pantura, hiruk pikuk stasiun kereta, sampai coverage media di mana-mana.

Mudik hari gini emang rasanya ngga separah lima belas tahun lalu. Udah ada GPS dan Google Maps. Kalo nyasar ga ribet lagi dikit-dikit nanya orang di jalan. Untuk mengecek kemacetan, kita juga bisa memantau jalanan secara real time melalui laporan orang-orang di jejaring sosial. Selain itu, gadget kita juga sangat membantu untuk mengatasi kebosanan di kala macet menghadang.

Suasana macet yang sudah langganan setiap musim mudik lebaran (image: tempo.co)

Tapi, masa sih kita udah puas dengan yang ada sekarang? Biarpun setahun sekali, tapi masa iya tiap tahun macet sampe puluhan jam di jalan? Jalanan jelek, rawan, dan ngga aman? Plus sederet hal lain yang perlu banget diperbaiki.

Kalau saya boleh mimpi, pengen banget di sepanjang Pantura ada “invisible rail” khusus untuk mobil terbang dengan autopilot berseliweran. Atau, revolusi kereta api dengan pengadaan kereta jarak jauh super cepat melebihi Shinkansen di Jepang. Biar mudik dengan kereta bisa mengangkut lebih banyak orang sekali jalan. Atau yang super mimpi: pintu kemana saja for everyone!

Emang ngga gampang menghadapi sekian juta orang dalam satu waktu bepergian secara bersama-sama, dan banyak yang ga tau aturan pula! Tapi mesti ada yang gerak untuk mulai mengubah ketololan yang terjadi setiap tahun ini. Padahal orang-orang mau mudik untuk ketemu keluarga dan sanak saudara, pengen merasakan momen bahagia. Eh, malah dibodohi dengan terpaksa menggunakan sistem transportasi yang asal-asalan kayak gini.

Sebetulnya ada banyak faktor lain yang membuat mudik jadi ngga nyaman. Tapi akar dari segala permasalahan mudik itu, sebenarnya adalah urbanisasi yang ngga kekontrol lagi. Orang dari desa semua mau ke pusat disebabkan karena ketidakmerataan infrastruktur dan pembangunan di tempat mereka. Indonesia begitu terpusat pada Ibukota Jakarta, begitu berkiblat pada pembangunan peradaban di Pulau Jawa. Sampai-sampai semua merantau, mencari penghidupan di kota besar.

Bagaimana kalau infrastruktur di daerah-daerah bisa terbangun dengan baik? Dengan teknologi, harusnya semua tak perlu bedol desa dan menyesaki Jakarta. Kerja bisa dari mana saja, seperti yang udah pernah kita bahas di artikel nomaden kerja di era digital ini.

Dan kalau itu udah terjadi, banyak orang nggak perlu ngoyo nyebrangin lautan setiap lebaran. Mereka bisa mudik, setiap hari!