Opinion

Nggak Usah Takut Dibilang Pencitraan

Beberapa tahun belakangan ini kalian pasti sering mendengar istilah yang namanya “pencitraan”. Jokowi masuk sumur? Pencitraan. Syahrini bikin sensasi? Pencitraan. Semua yang dilakukan public figure dibilang pencitraan.

Pencitraan ini sebenarnya punya persamaan kata atau istilah dengan konotasi yang lebih positif, yaitu personal branding. Ya, yang perlu brand itu bukan cuma bisnis atau produk atau service, tapi juga orang. Bukan cuma artis atau politikus atau atlet juga yang butuh personal branding. Setiap orang yang progresif juga butuh ngerti dan melakukan usaha personal branding.

Terus, gue harus pencitraan gitu?

Lo mungkin langsung berpikir kayak gitu. Ini adalah mindset yang salah tentang sesuatu yang namanya pencitraan atau personal branding. Pencitraan atau personal branding itu bukan serta-merta tentang usaha lo bikin persepsi orang lain tentang diri lo itu bagus, dan bukan juga hanya tentang bagaimana bikin diri lo terkenal.

Baca juga: Jangan Termakan Online Persona di Social Media!

Sekarang gue tanya, apa sih tujuannya bisnis harus punya brand? 1) Biar dikenal, 2) Biar bisa dibedakan dari brand lain. Itu juga tujuan orang melakukan pencitraan, yaitu biar dikenal dan bisa dibedakan. Masalahnya, orang cuma focus on gaining the fame. Sensasi-sensasi yang artis lakukan kadang cuma bikin mereka jadi word of mouth, tapi apakah itu terus bikin reputasi mereka baik dan membedakan mereka dari orang lain?

Personal branding equals self-impression.

Itulah mengapa proses personal branding yang benar sebenarnya dimulai dari mengenal diri lo sendiri.

Sebuah brand, baik bisnis ataupun orang,  memang harus menentukan positioning (bagaimana mereka ingin dilihat di mata konsumen) tapi sebelum itu bisnis ataupun seseorang pasti mulai dari value. Nilai-nilai apa yang lo punya dan lo junjung, sehingga membedakan lo dari orang lain. Itu yang harus lo tanya dulu ke diri sendiri.

Baca juga: Bangga Sama Indonesia Itu Ngaku Lokal, Bukan Sok Internasional

personal branding gambar: sukadi.net

 

Misalnya, katakan si A itu paling gak suka sama orang-orang yang gak on time, dan A merasa salah satu kelebihannya adalah dia hampir gak pernah terlambat apapun yang terjadi. Berarti kedisipilinan adalah salah satu value A. Saat A sudah mengenal value dirinya sendiri, baru A bisa membedakan dirinya dari orang lain.

Kenapa mengenal diri sendiri itu penting? Tujuannya supaya citra diri lo itu jujur, dan gak palsu. Kayak contoh di atas, brand A itu akan jadi genuine dan jujur kalau memang dia orang yang disiplin. Jangan sampai lo membangun citra bahwa lo itu orang yang disiplin, kalau faktanya lo sering gak tepat waktu. Bagaimanapun, brand is all about consistency dan sekali lo gak konsisten, orang akan menganggap bahwa citra diri lo itu tidak genuine alias palsu.

Personal brand equals reputation.

Satu mindset yang juga salah adalah bahwa orang langsung lompat ke tahap mempromosikan diri saat sedang membangun citra dirinya.

Baca juga: Belajar dari Kedai Kopi Bernama Starbucks

Bagi lo yang punya bisnis, lo pasti familiar dengan istilah 4P dalam ilmu pemasaran, yaitu Product, Price, Place dan Promotion. Nih ya, di literatur-literatur yang ada, yang namanya produk itu selalu duluan dan promosi itu terakhir. Harus ada produknya kan baru bisa promosi?

Tapi ternyata, dalam proses pencitraan atau personal branding, orang suka langsung promosi padahal belum ada produknya.

‘Loh, produknya kan gue?’

Ya iya produknya diri lo sendiri. Tapi misalnya, lo promosiin ke orang-orang kalau gue ini desainer lho, kalau butuh desain hubungin gue aja, tapi portfolio lo masih somplak atau bahkan gak ada. Gimana orang mau percaya sama lho?

Lebih baik fokus membangun “produk” dulu, yaitu reputasi lo, sebelum lo mulai berkoar-koar ke orang tentang who you are, what you do, and what you’re good at. Saat lo punya produk atau reputasi yang bagus, orang-orang otomatis akan bicara tentang betapa hebatnya atau kerennya diri lo dan lo bahkan gak perlu mempromosikan diri lo lagi.

Baca juga: Xiaomi: The Company that Brings Global to the Locals

Ingat lagi brand is all about consistency, jadi karya lo atau hasil kerja lo harus konsisten kualitasnya. Saat lo sudah konsisten, citra atau personal brand lo akan terbentuk sendiri tanpa lo sadari. Orang-orang akan datang sendiri ke lo nawarin proyek dan pekerjaan karena personal brand is about reputation.

So, masih mau anti sama yang namanya pencitraan?

header image credit: timtialdo.com