Insight

Summing Up: Indonesia’s Creative Economy

Sebulan terakhir Ziliun ngebahas lumayan banyak tentang industri kreatif Indonesia, mulai dari dilema ayam dan telur di industri kreatif, profil 10 kreator pilihan untuk PopCon Asia, sampai ke bedanya paten, merek, dan hak cipta.

Dari bahasan ini, kita ketemu nih banyak masalah yang dihadapi industri kreatif.

Pertama, harus diakui orang Indonesia masih harus terus belajar dari segi skill dan kreativitas, supaya bisa bersaing dengan pekerja kreatif lain di tingkat global.

Kedua, masalah hak kekayaan intelektual (HKI). Masyarakat masih kurang menghargai HKI, sementara para pekerja kreatif juga seringkali belum sadar akan potensi yang begitu besar, kalo aja mereka cerdas dalam memanfaatkan IP rights alias hak kekayaan intelektual mereka.

Ketiga, kurangnya kesadaran dan keberanian berkolaborasi antar pekerja kreatif dengan skill yang beda. Padahal, dengan kolaborasi, hasil karya kreatif akan jadi jauh lebih maksimal.

Keempat, pekerja kreatif kurang bisa memberikan nilai atas karya kreatif mereka sendiri, makanya butuh banyak tukang hitung kreatif, kayak produser atau kurator yang bisa ngasih harga yang pas untuk sebuah karya kreatif.

Memang sih, data-data yang ada mestinya bisa bikin kita lebih optimis, karena ekonomi kreatif Indonesia–saat ini aja–mampu mempekerjakan lebih dari 11 juta orang.

Terus, gimana dong solusi buat masalah-masalah ini? Jawabannya kita dapet dari wawancara dengan Mas Lance Mengong, salah satu sutradara film Indonesia, yang punya concern dengan ekosistem perfilman. Menurut Mas Lance, ekosistem perfilman Indonesia terdiri dari lima hal–Studi, Produksi, Distribusi, Ekshibisi dan Apresiasi–yang masing-masing membutuhkan peran maksimal dari stakeholder terkait.

Nah, pemetaan ekosistem ini gak cuma berlaku di industri film, tapi juga berlaku di subsektor industri kreatif lain, dengan formula yang kurang lebih sama. Semua subsektor industri kreatif butuh lembaga-lembaga formal dan informal sebagai tempat studi, butuh infrastruktur yang mumpuni untuk produksi, butuh kanal distribusi yang terintegrasi, ekshibisi sebagai suatu bentuk showcase, hingga apresiasi, supaya pekerja kreatif selalu semangat bikin karya lagi dan lagi.

Ini gak sekompleks yang kita bayangkan, kok. Dan, menurut Mas Lance, dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN, kita justru akan lebih terpacu untuk maju karena dituntut untuk memenuhi standar internasional.

Makanya, ayo dong semuanya, berkontribusi untuk ekosistem industri kreatif Indonesia. Sesuatu sekecil apresiasi bisa jadi sangat berarti.

Header image credit: libreshot.com