Featured

Crowdfunding: To Try or Not To Try

Apa crowdfunding cara yang tepat untuk membiayai startup lo? Mendingan lo baca dulu apa aja pro dan kontranya crowdfunding.

Buat kalian yang bergelut di dunia startup, pasti udah pernah denger istilah “crowdfunding”. Tren yang awalnya dipelopori situs Kickstarter ini sekarang udah semakin luas. Di negara kita sendiri, ada situs-situs crowdfunding seperti wujudkan.com dan kitabisa.co.id yang gak cuma diperuntukkan bagi startup, tapi juga untuk proyek-proyek sosial.

Oke, kita tahu crowdfunding memang lagi hip, karena bentuk pendanaan ini gak konvensional. Tapi, apa crowdfunding cara yang tepat untuk membiayai startup lo? Sebelum buru-buru nge-post proyek di KickStarter atau IndieGoGo, mendingan lo baca dulu apa aja pro dan kontranya crowdfunding.

Baca juga: Kunci Membangun Komunitas dari Founder Fotografer.net 

PROS

Hemat Waktu dan Biaya

Gak bisa dipungkiri kalau proses ngumpulin modal lewat crowdfunding itu lebih efisien dibanding cara biasa. Biasanya, lo harus capek-capek menghubungi investor dan venture capitalist satu-satu untuk atur jadwal pitching dan lain-lain (belum lagi latihan pitching-nya dan capek ditolaknya). Lewat crowdfunding, sekali nge-blast, proyek startup lo bisa dilihat oleh ribuan orang di dunia maya.

Gak Perlu Takut Bawa Ide Gila

Misalnya lo punya ide startup yang gila, niche banget, dan unik abis. Biasanya, kalau lo pitch ke investor, mereka akan minta proyeksi pendapatan lo hingga beberapa tahun ke depan. Gimana coba caranya lo proyeksi kalau ide lo bahkan belum pernah ada di pasar sebelumnya? Itulah kelebihan crowdfunding. Lo bisa pasang ide gila lo dan siapa tahu ada orang-orang gila di luar sana yang penasaran dan mau kasih lo modal tanpa nanya tentang proyeksi.

Valuable Market Feedback

Dengan “mengumumkan” ide lo ke khalayak ramai di situs crowdfunding, lo sama saja dengan melakukan market testing. Investor yang menyuntikkan dana buat proyek lo bisa sekaligus memberikan feedback untuk pengembangan produk atau pasar ke depannya. Dan karena yang lo tuju adalah crowd, feedback yang lo dapat bisa ribuan jumlahnya. Tinggal gimana lo pilah dan pilih mana yang valuable dan harus ditindaklanjuti.

Baca juga: Bikin Startup? Modal Uang Nggak Cukup!

CONS

All or Nothing

Kebanyakan situs crowdfunding menerapkan basis “all or nothing”. Artinya, kalau lo pasang target funding sebesar 50 juta rupiah dan funding yang lo dapatkan hanya 25 juta rupiah, lo gak bakal mendapatkan apa-apa. Di satu situs crowdfunding sendiri, lo harus bersaing dengan proyek-proyek menarik lainnya. Jadi, kalau story dari startup atau brand lo gak bisa menarik funder, lo gak akan mendapatkan dana yang lo butuhkan sama sekali.

Konsep crodfunding (image: reidhoffman.org)

Risiko Menyenangkan Semua Orang

Lo dapat dana dari venture capitalist? Tugas lo adalah memuaskan venture capital itu. Lo dapat dana dari 10.000 investor di situs crowdfunding? Tugas lo lebih berat lagi, yaitu memastikan 10.000 investor itu puas dengan startup lo. Berat memang, karena itu risiko dari crowdfunding. Sekali startup lo berhasil memenuhi harapan, 10.000 orang itu akan membicarakan lo dengan positif, tapi kalo lo gagal, there’s a price to pay.

Baca juga: Bikin Startup dan Menjadi Dewasa

Plagiarisme

Supaya ide lo menarik funder, otomatis lo harus mendeskripsikan proyek startup lo secara detil di situs crowdfunding. Seraya lo menunggu dana dari crowd masuk, bisa-bisa ide lo yang udah konkret itu dicuri oleh orang yang punya modal gede. Crowdfunding memberikan risiko besar bahwa ide lo akan diplagiat. Namanya juga crowd, gak bisa diprediksi.

Sekarang semuanya kembali ke lo dan startup lo. Is crowdfunding worth the risk?

Baca juga: I Have a (Shopping) Dream…

Header image credit: gratisography