Story

Tri Rismaharini: Integritas, Konsisten, Peduli

Saya dulu cukup yakin kalau integritas itu sesuatu yang mustahil dimiliki pemerintah kita. Tapi pertemuan saya dua kali dengan Bu Risma meyakinkan saya kalau moral itu tidak mati.

Integritas. Barangkali banyak dari kita yang sering mendengar kata ini, tapi ngga gitu ngerti artinya. Saya pun demikian. Supaya di kemudian hari saya ngga sok-sokan pake kata ini tapi salah kaprah, mendingan saya buka kamus.

Integrity (blogs.nature.com)

Menurut dictionary.com, integrity artinya adherence to moral and ethical principles; soundness of moral character; honesty. Atau artinya kira-kira: Patuh pada prinsip moral dan etika; jujur dan memiliki keteguhan moral.

Saya merasa perlu mengecek arti kata integritas karena beberapa hal, salah satunya karena pertemuan saya dengan pihak pemerintah beberapa waktu belakangan. Pemerintah dan integritas. Dua kata yang sepertinya, saya percaya sejak lama tidak bisa berjalan beriringan.

Baca juga: Start Surabaya Dibuka, Forward Factory Resmi Jadi Coworking Space Terbaru Surabaya

Sampai kemudian saya bertemu dengan Ibu Risma, Walikota Surabaya, beberapa waktu yang lalu. Beliau bukan pemimpin pemerintahan pertama yang saya temui. Tapi beliau adalah yang pertama yang membuat saya percaya kalau integritas di dalam pemerintahan Indonesia itu bisa dan sangat mungkin dimiliki.

Saya yakin banyak dari kita mengikuti pemberitaan tentang beliau di media massa. Gebrakannya menutup lokalisasi pelacuran, mengubah kota yang gersang jadi banyak taman, sampai terakhir ikut mengurusi korban kecelakaan pesawat. Banyak yang kagum, tapi banyak juga yang bilang, ah, cuma pencitraan.

Bu Risma, ketika meresmikan Start Surabaya

Buat yang sudah pernah bertemu dan berinteraksi langsung dengan Ibu Risma, rasanya sepakat kalau beliau ngga jauh beda dari ibu-ibu dan orangtua kebanyakan. Cerewet, suka ngomel, rewel. Mirip-mirip lah sama orangtua kalian. Ibu kalian.

Bayangin pas kalian lagi bandel-bandelnya, let say, pas jaman SMA. Suka pulang malem, sembunyi-sembunyi ngerokok, curi-curi pacaran. Kalau sudah lewat jam malam, pasti ibu kalian bakal ngomel dan senewen minta ampun, telepon tiap 15 menit sekali sampai kalian pulang. Resek banget lah. Tapi pas kalian pulang–tentunya setelah diomelin sebentar–ibu kalian sudah siap dengan cokelat panas dan handuk, buru-buru nyuruh kalian mandi dan istirahat.

Baca juga: Arek Suroboyo Bahu Membahu Membangun Kota dengan Komunitas

Interaksi Bu Risma dengan peserta Start Surabaya

Cerewet karena perhatian. Ngomel karena peduli. Ibu Risma pun demikian. Cuma bedanya, satu kota Surabaya ini beliau anggap anaknya sendiri. Yang mesti dijagain, dikasih makan, dibuat nyaman, disekolahkan supaya pandai, dan dirawat sampai besar.

Kalau yang sudah pernah ngobrol langsung dengan Bu Risma, pasti bisa merasa kalau Ibu ini memang tulus, bukan dibuat-buat seperti orang lain yang suka kita lihat di televisi. Ngga palsu sama sekali.

Memang saya ngga punya pembanding. Saya ngga pernah ketemu dengan ibu-ibu lain yang jadi walikota, apalagi di kota besar seperti Surabaya. Yang lain yang pernah saya temui adalah bapak-bapak petinggi, yang seringkali kesannya seperti jauh lebih pingin dihormati, ada jarak dan ruang yang ngga mau didekati dan dihampiri.

“Dihampiri”

Baca juga: Mulai Jadi Pahlawan Melalui Start Surabaya

Anyway, saya ngga mau menjelaskan lebih jauh soal palsu atau ngga palsu. Soal terasa tulus atau ngga tulus. Jatuhnya jadi terlalu banyak konsep abstrak yang sifatnya subyektif.

Katakanlah saya subyektif.

Yang saya sayangkan, begitu sering beliau diberitakan di koran dan media massa, tapi begitu banyak hal mengenai Bu Risma yang dilewatkan oleh rekan-rekan media. Salah satunya mengenai detail bahwa betapa Bu Risma adalah orang yang memiliki integritas tinggi.

Beliau bilang, namanya jadi pemimpin, ya harus tegas dengan aturan. Konsisten. Yang salah dibilang salah, yang benar dibilang benar. Bukan yang salah dibenarkan karena dia punya uang. Jangan sampai mau kalah dengan kepentingan. Ketika aturan sudah dibuat, mau siapapun yang melanggar ya tetap salah. Mau bapaknya yang punya tanah separuh Surabaya pun, kalau dia salah ya tetap dihukum.

Baca juga: Blusukan Buat Anak Muda, Bukan yang Udah Paruh Baya

Menurut beliau, karakter tiga juta warga Surabaya yang keras justru membuat beliau harus sangat konsisten dengan peraturan. Orang ketika diberikan aturan, mau karakternya sekeras apapun, lambat-laun akan ikut. Kalau aturan itu dibuat dan hasilnya baik, orang-orang akan mau membantu menjaga apa yang sudah mereka rasakan baik itu. Beliau percaya semua orang mau diberikan yang baik. Dijadikan manusia seutuhnya.

Tapi lagi-lagi, Bu Risma ngga cuma sekadar bikin aturan sana-sini tanpa mengerti kondisi warganya. Bu Risma tahu persis keadaan di lapangan, sehingga ia tahu bagaimana memberikan alternatif solusi atas permasalahan yang ada. Menurut beliau juga, kalau ada masalah, jangan langsung tiba-tiba kasih peraturan ngga boleh ini itu. Cari tahu akar masalahnya, carikan solusi, baru bikin aturan. Orang bisa memilih, dan ketika mereka diberikan pilihan yang menguntungkan, ngga mungkin mereka ngga mau ikut.

Baca juga: Pemimpin Itu Harus Kepo

“Kanalisasi masalah, lalu kasih solusi,” tegas Bu Risma.

Lagi-lagi beliau bisa bilang begitu karena beliau percaya betul apa yang diberikan kepadanya adalah tanggung jawab. Tugas yang ia percaya 100% adalah hal yang ia pertanggungjawabkan dunia akhirat. Makanya Bu Risma kerap ngga tidur, karena beliau ngga bisa tidur kalau tahu ada warganya yang kebanjiran, kelaparan, atau terkena musibah.

Saya dulu cukup yakin kalau integritas itu sesuatu yang mustahil dimiliki pemerintah kita. Tapi pertemuan saya dua kali dengan Bu Risma meyakinkan saya kalau moral itu tidak mati.

Terima kasih, Bu.

Header image credit: wallconvert.com