Story

Proklamasi: Membangun Indonesia dari Formula Minimum Viable Product

Kisah drama kemerdekaan negeri kita ternyata enggak kalah seru. Ada cerita soal pihak Jepang yang berusaha ngakalin kaum pergerakan supaya mau bantu Jepang lawan Sekutu, ada juga soal kaum muda yang enggak menyerah terus-menerus mendesak Soekarno dan Hatta untuk mendeklarasikan kemerdekaan. Tapi dari drama tersebut, apa sih yang bisa relate sama kondisi kita sekarang?

Seperti biasa, Ziliun pengen ngajak mikir bareng-bareng. Setelah sebelumnya bahas pelajaran startup dari peristiwa Sumpah Pemuda, BPUPKI dan PPKI, sekarang kita bahas relevansi startup founder dengan Proklamasi. 

Baca juga: Dimulai dari Sumpah Pemuda, Ide Startup Pertama di Negeri Ini

Temen-temen pernah terpikir enggak, kenapa ya Soekarno dan Hatta berani melakukan deklarasi Proklamasi kemerdekaan, padahal komponen-komponen dasar sebuah negara masih dirumuskan? Yup, batas wilayah Indonesia saat itu masih belum diputuskan, kabinet kerja pun baru dibentuk setelah proklamasi. 

Sebenarnya hal tersebut bukan hal yang aneh atau ajaib. Kalau kita bangun startup, ada formula yang namanya Minimum Viable Product (MVP). Apakah itu? Sederhananya, MVP merupakan pengembangan yang dilakukan ketika startup baru punya produk atau aplikasi baru yang fiturnya sesederhana mungkin dengan pembuatan yang secepat mungkin. 

Menurut N. Taylor Thompson dalam Harvard Business Review, dalam membuat MVP maka seorang entrepreneur akan bereksperimen untuk mengetahui mana yang bisa memvalidasi asumsi mereka soal bisnis model yang tepat. Jadi, ketika kita membuat sebuah produk, kita tidak langsung seiring dengan eksperimen yang kita lakukan, produk tersebut terus direvisi.

Misalnya aplikasi Go-Jek. Awalnya aplikasi in hanya menawarkan jasa transportation ojek (Go-Ride), setelah banyak orang mengetahui dan menggunakan aplikasi tersebut, dilakukanlah pengembangan fitur-fitur lainnya seperti Go-Food, Go-Tix, dan yang lainnya.

Nah balik ke zaman 1945, waktu menjelang proklamasi, founding fathers alias para bapak bangsa kita telah mengalami malam-malam yang panjang. Bisa kita ibaratkan, malam-malam tersebut diisi dengan menyiapkan produk MVP alias naskah proklamasinya sendiri. Walaupun sederhana, MVP juga butuh persiapan. Ini dia hal-hal yang harus diperhatikan ketika membangin MVP.

Jangan Cuma Fokus di Produk

Ketika kita bikin startup, apa sih yang pertama kali kepikiran. Kalau ternyata yang keluar cuma pertanyaan, “Mau bikin apaan?” Hmm berarti kita punya PR yang besar.

Jauh sebelum Proklamasi dilakukan, sudah banyak yang disiapkan oleh para bapak bangsa kita. Bahkan sejak tahun 1928, Sumpah Pemuda melantangkan value persatuan untuk negeri ini merdeka. Yup, value adalah awal mula yang penting. Soekarno Dan Hatta dengan anggota BPUPKI dan PPKI lainnya telah merumuskan dasar negara Indonesia. 

Ketika dinihari 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta pergi ke rumah Laksamana Maeda lalu bertemu kaum muda yang mendesaknya untuk segera membuat pengumuman kemerdekaan. Kemudian Soekarno dan Hatta merancang naskah proklamasi tersebut berdasarkan teks dari Pembukaan Undang-Undang Dasar. 

Baca juga: Belajar Bootstrapping untuk Startup dari Sejarah BPUPKI dan PPKI

Mengajak Audiens untuk Terlibat

Ketika merumuskan naskah proklamasi, terjadi perdebatan soal siapa saja yang harus menandatangani naskah tersebut. Setelah berunding dengan, salah satu dari kaum muda akhirnya member ide agar dua orang saja yang menandatangani atas nama rakyat Indonesia. 

Yes, dalam membuat MVP perlu banget melibatkan audiens. Kalau Indonesia ya rakyatnyalah yang perlu dilibatkan. Kalau startup kita, tentu saja target pasar kita. Hal ini sering jadi kesalahan startup baru yaitu menghiraukan feedback dari konsumen. Padahal, untuk mencapai produk yang bagus dan bisnis model yang tepat, audiens-lah yang bisa memberikan insight tersebut pada kita. 

Saatnya Menguji!

Setelah produk selesai kita buat, saatnya launching dan uji coba! Seperti saat setelah naskah rampung, Sukarni mengatakan bahwa proklamasi harus diumumkan di Lapangan Ikada karena rakyat telah diberitahukan untuk mendatangi tempat itu. Namun, Soekarno menolak dan mengusulkan untuk membacakannya di kediamannya, Pegangsaan Timur karena pekarangannya yang luas. Ia juga khawatir jika terjadi insiden jika dilakukan di Lapangan Ikada. Akhirnya rakyat diminta berkumpul di Pegangsaan Timur pukul 10.00 pagi. Naskah proklamasi lalu diketik oleh Sayuti Melik.

Pukul 9.50 Hatta belum juga datang di Pegangsaan Timur. Soekarno bersikeras menolak jika harus membaca naskah proklamasi sendiri. Akhirnya lima menit kemudian Hatta datang dan disambut dengan meriah.

Setelah kemerdekaan diproklamirkan Soekarno dan Hatta, Soekarno mengatakan, “Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lain yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun negara kita. Negara merdeka, dengan Repblik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah Tuhan memberkati kemerdekaan kita ini.”

Nah, seperti yang Bung Karno bilang, setelah proklamasi bukan berarti segalanya selesai. Saatnya kita menyusun negeri ini. Kalau startup kita udah berhasil bikin MVP, saatnya kita susun lagi strategi untuk mengembangkan produk yang kita buat! 

Oh iya, Ziliun juga mau mengucapkan selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia. Ayo terus rayakan kemerdekaan ini dengan semangat menciptakan solusi untuk negeri!