Story

Belajar Bootstrapping untuk Startup dari Sejarah BPUPKI dan PPKI

Hari kemerdekaan sebentar lagi tiba! Ziliun kali ini ingin ngajak temen-temen untuk belajar sejarah kemerdekaan Indonesia. Eits, bukan sekedar belajar sejarah kemerdekaan kayak di sekolahan, melainkan mencari tahu: apa sih yang bisa kita pelajari dari peristiwa bersejarah ini untuk startup kita?

Nah, kemarin kan kita udah bahas soal peristiwa Sumpah Pemuda sebagai ide startup pertama di negeri ini. Sekarang, yuk kita lanjut ke masa pembentukan BPUPKI dan PPKI di tahun 1945 silam.

Baca juga: Dimulai dari Sumpah Pemuda, Ide Startup Pertama di Negeri Ini

Kalo Sumpah Pemuda kita ibaratkan sebagai ide startup, nah si BPUPKI ini bisa kita bayangkan ketika para founding fathers alias bapak bangsa cuma punya sumber daya yang terbatas untuk merumuskan sebuah negara. Yes, ini mengingatkan kita pada masa startup melakukan bootstrapping. 

Di sini ada yang belum tahu apa itu bootstrapping? Sederhananya, bootstrapping ini adalah masa ketika para founder startup belum mendapatkan suntikan dana dari aktor eksternal alias pake uang sendiri. Hmm emang bisa ya startup besar cuma pake modal sendiri yang pas-pasan? Jawabannya tentu bisa! Buktinya? Lihat dong, Indonesia kan udah sebesar ini.

Fokus Pada Progres!

Yuk kita balik ke masa 1945, waktu Jepang udah terdesak oleh Sekutu. Saat itu Kunaiki Kaiso yang menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang mengusulkan pada seluruh parlemen Jepang agar nantinya memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Alasan Kaiso, agar kaum pergerakan di Indonesia tidak memberontak dan bahkan membantu Jepang melawan Sekutu. Akhirnya, ide tersebut berujung pada pembentukan BPUPKI. 

Seperti yang kita ketahui dari buku-buku sejarah di sekolah, BPUPKI alias Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekan Indonesia adalah institusi yang dibuat Jepang untuk merumuskan dasar negara Indonesia. Nah, tapi udah pada tahu belum, kalo sebenernya BPUPKI ini tuh awalnya adalah akal-akalan Jepang untuk menjinakan kaum pergerakan? Tapi walaupun mengetahui bahwa BPUPKI adalah akal-akalan Jepang, tentunya kaum pergerakan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk terus maju menuju kemerdekaan. 

Ini nih sebenarnya yang bisa kita terapin ketika baru punya ide bikin startup. Walaupun tahu keadaannya enggak kondusif atau sesempurna yang kamu bayangin, tetap peka lihat peluang dan fokus pada progress!

Bentuk Tim dan Validasi Ide

Organisasinya sudah terbentuk, dan tentunya timnya juga mulai disusun. Diketuai oleh Radjiman Wediodiningrat yang juga penggagas Boedi Oetomo pada 1908, akhirnya kepanitiaan BPUPKI dibentuk. Walaupun institusi ini buatan Jepang, anggotanya tetap didominasi oleh orang Indonesia. Ada 59 anggota dan isi timnya pun beragam. Empat orang dari golongan Tionghoa, satu orang dari golongan Arab, dan satu orang dari pergerakan Belanda. Yup, beragam banget. Keberagaman ini juga bukannya enggak disengaja, melainkan supaya banyak perspektif yang terwakili dalam pembentukan dasar negara nantinya. 

Kalau kita sering ngerasa Co-Founder atau rekan lu yang lainnya punya pemikiran yang berbeda dari kita, jangan langsung kesel dulu atau bahkan berantem. Karena, perbedaan perspektif ini justru bisa bikin kita kaya dalam memvalidasi ide. Inget, dalam membuat startup, kita juga butuh memahami audiens kita. Nah, karena audiens kita juga pasti beragam, keberagaman perspektif di tim kita menjadi penting supaya keberagaman audiens juga bisa terwakili. Dengan modal yang enggak banyak, kita sudah bisa riset audiens!

Brainstorming

Masa-masa awal bikin startup emang enggak selancar yang dibayangkan. Mungkin aja setiap startup punya cara yang beda-beda, tapi gimana sih caranya ngumpulin ide buat rencana ke depan? Yup, brainstorming. Jika kita ngelakuin brainstorming, kita bisa memilah dan menentukan value dan misi startup kita. Founding fathers kita juga ngelakuin yang namanya brainstorming di sidang-sidang BPUPKI untuk nentuin rumusan-rumusan dasar negara.

Pada sidang pertama pada 29 Mei sampai 1 Juni dikumpulkan rumusan-rumusan dasar negara dari para anggota. M. Yamin, Mr Soepomo, dan Soekarno mengusulkan ide dasar negara pada sidang pertama ini. Namun hingga sidang berakhir, belum ada keputusan yang dibuat karena ada perdebatan antara golongan nasionalis dan agamis. Perdebatannya soal bentuk negara, apakah Indonesia akan dibawa menjadi negara kebangsaan atau negara Islam. Akhirnya, sidang pertama berakhir tanpa keputusan, dan dibuatlah panitia sembilan untuk mencari jalan tengah. 

Setelah panitia sembilan terbentuk, maka dilakukanlah perundingan pada 22 Juni 1945 yang menghasilkan Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Terus berlangsung perdebatan, hingga nantinya terdapat perubahan sila pertama yang tadinya berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” menjadi “Ketuhanan yang maha Esa.” 

Kejar Momentum

Saatnya launching

Sehabis BPUPKI selesai, lalu dibentuk PPKI atau Pantia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 7 Agustus 1945 untuk mempercepat upaya kemerdekaan negara Indonesia. Saat PPKI dibentuk, Jepang sudah benar-benar lemah sehabis peristiwa bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Bahkan Amerika Serikat kembali menjatuhkan bom atom pada 9 Agustus di Nagasaki.

Ketika mendapat kabar bahwa Jepang benar-benar kalah dari Sekutu, kaum muda mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya Proklamasi dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945 tanpa menunggu persetujuan Jepang. Niat Jepang untuk mengakali kaum pergerakan Indonesia akhirnya tidak berhasil, dan seperti yang kita peringati setiap tahunnya: 17 Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita!

Baca juga: Mera Bura: Strategi Membangun Narasi Kemerdekaan dari Copa de Flores

Revisi?

Sama halnya dengan bangun startup, setelah startup kita jadi, bukan berarti segala perkara udah selesai. Begitupun yang terjadi pada founding fathers kita. Pada tanggal 18 dan 19 Agustus, digelar sidang PPKI berikutnya dan menghasilkan pengesahan Undang-Undang Dasar 1945 dan memilih Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia.

Komponen negara lainnya pun dibentuk, yaitu 12 Kementerian dengan 4 Menteri. Wilayah negara pun dibagi ke dalam delapan provinsi. Sidang PPKI pun masih berlanjut pada 22 Agustus 1945 dan menghasilkan rumusan pembentukan Komite Nasional Indonesia yang bertugas membantu presiden dan wakil presiden. Dibentuk pula Badan Keamanan Rakyat (BKR) yakni cikal-bakal TNI dan Polri yang semula bertugas sebagai angkatan perang Indonesia. 

Ketika kita masih bermodal ide, jangan sampai kita putus harapan karena kekurangan modal atau sumber daya lainnya. Menurut gue, enggak akan pernah ada situasi yang sempurna untuk memulai sebuah startup, tapi akan selalu ada cara untuk memulai hal yang baik. Ingat kata-kata Edward Douwes Dekker,  “Burung dara tidak akan terbang ke mulut seseorang dalam keadaan sudah matang. Harus ada kerja!”