Story

Nadya Fadila Saib, Berdayakan Petani Lokal Hasilkan Produk Perawatan Natural

#Ziliun30 adalah rangkaian 30 profil tech entrepreneur yang berusia di bawah 30 tahun, yang berpikir dan bermimpi besar, melihat masalah sebagai peluang, menjunjung tinggi kolaborasi, memahami kegagalan sebagai bagian dari proses, serta membuat terobosan strategi marketing dalam bisnis. #Ziliun30 merupakan kerjasama Ziliun.com dengan the-marketeers.com selama September 2014.

Nggak semua produk kencantikan seperti sabun, shampo, lotion dan beberapa produk kecantikan lain yang punya embel-embel natural itu beneran 100% natural. Nggak sedikit sih, konsumen yang ketipu dengan jebakan promosi produk-produk tersebut dan akhirnya malah menuai masalah kecantikan karena ketidakcocokan produk perawatan yang dipakai.

Berangkat dari situ, Nadya Fadila Saib yang sekarang berusia 27 tahun ini punya ide untuk membuat bisnis produk perawatan tubuh yang sepenuhnya natural dan terbuat dari bahan-bahan alami. Di bawah bendera Wangsa Jelita, Nadya yang lulusan Fakultas Farmasi Institut Teknologi Bandung tersebut terbilang sukses nggak cuman dengan berbagai produk Wangsa Jelita-nya tapi juga sukses dengan usahanya memberdayakan petani lokal guna mensupport bahan baku produksi Wangsa Jelita.

Baca juga: Follow Your Stomach!

Waktu kuliah, Nadya mencoba bereksperimen untuk membuat sabun dari minyak zaitun. Sabun Nadya ini 100% dari minyak zaitun, nggak ada tambahan produk kimia sama sekali. Waktu itu sih Nadya mikirnya kalo eksperimen ini berhasil, produknya bisa jadi akan laris di pasaran. Nah, Nadya kemudian mencoba melepas sabun tersebut ke pasaran dengan membagikan sabtun tersebut ke circle terdekatnya, yaitu teman-teman kuliah.

Setelah sabun tersebut dicoba, respon beragam pun masuk. Mulai dari sabun yang kurang wangi, kurang lembit, sampai kurang busa pun dilemparkan ke Nadya. Yang namanya udah niat sih, beginian doang nggak kali matahin semangat. Setelah beberapa kali bereksperimen, akhirnya Nadya berhasil membuat sabun dengan 100% minyal zaitun, dan yang pasti bebas bahan kimia.

Tahun 2009, ITB mengadakan Program Mahasiswa Wirausaha. Satu kesempatan buat Nadya unjuk gigi. Dengan membawa konsep bisnis sabun natural tersebut, Nadya pun menjadi salah satu peserta ajang tersebut. Ia pun akhirnya mendapatkan dana bantuan modal usaha dengan mengusung Wangsa Jelita sebagai brand-nya. Berbagai macam inovasi pun muncul. Wangsa Jelita sekarang nggak cuman memproduksi sabun natural, tapi juga berbagai macam produk kecantikan lain kayak shampo dan lotion.

Baca juga: Hidup untuk bekerja, atau bekerja untuk hidup?

Di awal Wangsa Jelita berdiri, strategi penjualan yang diterapkan oleh Nadya beragam. Mulai dari penjualan online dan membuka sistem reseller sampai bekerja sama dengan beberapa salon di Bandung. Selain itu produk Wangsa Jelita juga dapat ditemukan di Nusa Dua Bali yang dikemas khusus sebagai souvenir.

Nadya Saib (dok.pri)

Nadya melihat pesatnya perkembangan teknologi dan internet sebagai potensi yang sangat besar dan bisa dimanfaatkan menjadi keuntungan bagi para entrepreneur, khususnya bagi dirinya sendiri. Walaupun produk Wangsa Jelita hanya diproduksi di Bandung, tapi dengan adanya transaksi online, produk Wangsa Jelita pun bisa dicicipi oleh konsumen di kota lain. Dan ini yang akan lebih dimanfaatkan oleh Nadya.

Nadya dengan berani merubah konsep natural yang selama ini disematkan oleh produk-produk perawatan lainnya, dan nggak takut kalo produknya malah nggak laku di pasaran. Di Wangsa Jelita, konsep natural diberikan karena memang produk yang dihasilkan benar-benar menggunakan bahan-bahan alami sebagai bahan bakunya. Tengoklah sabun dari buah apel, bunga mawar, green tea sampai minyak zaitun. Kualitas produk Wangsa Jelita inilah yang menjadi kekuatan utama Nadya untuk mempromosikan Wangsa Jelita.

Baca juga: Bangga Sama Indonesia Itu Ngaku Lokal, Bukan Sok Internasional

Ada satu hal yang bisa dipelajari dari sosok Nadya dan Wangsa Jelita-nya. Suatu ketika, Nadya sedang mencari ide untuk variasi produk Wangsa Jelita di daerah Lembang, Bandung. Ketika itu Nadya ingin bereksperimen dengan buah stroberi, dan berencana membuat produk baru yaitu sabun alami dari bahan buah stroberi.

Nggak sengaja Nadya pun ketemu dengan petani bunga mawar yang ada di Lembang sana. Petani tersebut berkisah mengenai sulitnya menjual hasil panen bunga mawar. Setelah berbincang-bincang, Nadya memutuskan untuk bekerja sama dengan petani mawar tersebut. Rencana Nadya yang semula membuat sabun alami dari bahan stroberi pun berganti menjadi sabun alami dari bahan bunga mawar.

Nadya pun akhirnya melihat bahwa bisnis itu nggak hanya untuk mencari materi aja. Tapi juga harus bisa menyelesaikan yang ada di masyarakat, dan menjadi bermanfaat. Sekarang petani mawar di Lembang menjadi pemasok bahan baku sabun mawar yang diproduksi sama Wangsa Jelita. Mereka nggak kesulitan lagi bagaimana menjual bunga mawar hasil panen. Pun, ketika sabun mawar Wangsa Jelita menjadi produk unggulan dan laris manis di pasaran, kebutuhan bahan baku yang meningkat ini jelas memberikan keuntungan tersendiri buat para petani tersebut.

Baca juga: Belajar dari Kedai Kopi Bernama Starbucks

Nadya emang jeli dalam melihat potensi lokal, dalam hal ini adalah petani bunga mawar. Nadya nggak hanya berhasil membuat produk yang berkualitas dan dapat bersaing, tapi juga mampu menonjolkan potensi lokal dari Bandung dan juga menawarkan solusi masalah yang dialami oleh para petani tersebut. Nggak nyangka kan bunga mawar bisa jadi sabun yang wangi dan segar? Yuk gali potensi lokal di sekitar kita.

Image header credit: gratisography.com