Insight

Jogja, Kota Alternatif untuk Bangun Startup Digital

Dari artikel sebelumnya, kita tahu kalau Jogja menjadi saksi perkembangan startup digital. Lalu, apakah Jogja layak mempelopori startup digital yang dikenal hingga dunia internasional?

Executive Director di Jogja Digital Valley (JDV) dan President Director di Gamatechno, M. Aditya Arief Nugraha, sempat menyebut, “Jogja termasuk 5 besar provinsi di Indonesia yang berpotensi untuk memajukan industri kreatif digital.”

Baca juga: Melirik Perkembangan Startup Digital

Pertumbuhan startup digital di kota pelajar ini memang cukup pesat. Terdapat 190 startup yang tercatat dalam sensus digital yang dirilis oleh JDV. Meski startup umumnya tidak diisi oleh banyak karyawan, hal ini tidak sebanding dengan pendapatan mereka.

Omset tahunan yang startup terima setiap tahun sangat bervariasi. Persentase terbesar 29,25% memang baru di bawah 25 juta rupiah. Namun, ada 7 startup atau 6,78% yang sudah meraup keuntungan di atas 1 milyar rupiah per tahun. Bahkan, ada 4,76% startup yang sudah mengantongi omset di atas 5 milyar rupiah!

Pendapatan startup di Jogja (dalam tahun)

Baca juga: Bisnis Modal Ngutang? Ngga Jaman!

Kenapa startup bisa menerima omset sebesar itu? Well, jarak dan waktu tidak lagi menjadi dinding penghalang berkat teknologi. Wajar, basis digital startup yang ada di Jogja pun mampu bersaing hingga ke dunia internasional. Sebanyak 59 startup, atau 34,21% menyatakan bahwa mereka berorientasi pasar internasional.

Tidak hanya startup lokal yang menembus pasar internasional, tetapi startup internasional pun tertarik melebarkan sayap di Jogja. Seperti game house asal Prancis, Gameloft, yang sudah membuka dua studio di kota gudeg ini. Kini, Gameloft cabang Jogja memiliki 600 karyawan yang tentunya diisi oleh orang-orang Indonesia.

Studio manager Gameloft di Jogja, Andrei Vladimir Lascu, merasa senang atas keputusan Gameloft memilih Jogja untuk produksi dan development. Pria asal Romania ini berkomentar, “Jogja ada banyak universitas dan anak muda. Untuk hidup juga nyaman.”

Baca juga: Stanford University sebagai Jantung Silicon Valley

Sementara berdasarkan riset, sebanyak 32,33% startup mengaku memilih Jogja karena biaya operasional yang kecil. Menyusul alasan-alasan lain, seperti biaya SDM murah, melimpah, dan berkualitas. Juga bebas macet dan transportasi nyaman, serta akses internet yang cukup baik.

Memang, hasil riset menunjukkan bahwa kemunculan startup di Jogja bukan hanya hasil karya pengusaha lokal Yogyakarta. Perusahaan dari kota lain hingga luar negeri pun berdatangan untuk membangun kantor cabang atau produksi. Para penggiat startup sudah melirik Jogja sebagai kota alternatif, selain Jakarta dan Bandung, untuk mengembangkan startup mereka.

Apakah Anda selanjutnya? Semakin banyak bermunculan, semakin optimis kita menatap industri digital kreatif ke depan.

Header image credit: theplanningboardroom.net