Story

Ivan Kurniawan: Angkat Local Value dan Modern Spirit dalam Fashion Batik Denim

#Ziliun30 adalah rangkaian 30 profil tech entrepreneur yang berusia di bawah 30 tahun, yang berpikir dan bermimpi besar, melihat masalah sebagai peluang, menjunjung tinggi kolaborasi, memahami kegagalan sebagai bagian dari proses, serta membuat terobosan strategi marketing dalam bisnis. #Ziliun30 merupakan kerjasama Ziliun.com dengan the-marketeers.com selama September 2014.

Di tangan Ivan Kurniawan, Lazuli Sarae adalah sebuah produk yang mengagumkan. Bagaimana tidak, produk yang berbahan dasar denim ini dipadu padankan dengan motif batik yang melegenda, ciri khas dari Indonesia. Produk Lazuli berfokus untuk pria, wanita, pakaian muslimah, dan beberapa aksesoris.

Keluar sebagai runner up dalam Kontes Rencana Bisnis Kreatif pada PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) 2010 membuat Ivan dan Retta setuju untuk membuat sebuah keputusanagar merealisasikan Lazuli Sarae menjadi sebuah bisnis nyata. Lazuli dijalankan oleh Ivan Kurniawan bersama rekannya Maretta Astri Nirmanda. Sebagai director, Ivan fokus pada business and marketing development sedangkan Retta yang bertugas sebagai designer fokus pada product design and development. Pembelajaran secara akademik via bangku kuliah dan pembelajaran secara otodidak dari berbagai media dan pelaku industri fashion lainnya adalah bekal bagi eksplorasi karya dan produk mereka.

Baca juga: Bangga Sama Indonesia Itu Ngaku Lokal, Bukan Sok Internasional

Ivan Kurniawan (about.me/ivankurniawan)

Berawal dari modal Rp 10jt yang saat itu didapatkan dari hadiah kontes Rencana Bisnis Kreatif pada PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) 2010, Ivan dkk mulai melakukan riset dalam perancangan lebih lanjut atas Lazuli. Bisnis tetaplah bisnis, akan selalu ada pasang surut air laut, hal ini juga dialami oleh Ivan dkk dalam melakukan pemasaran Lazuli. Pada bulan kedua, Lazuli tidak bisa dibilang sukses, banyak biaya pengeluaran yang lebih besar ketimbang pengeluaran. Namun hal ini tak membuat Ivan menyerah, strategi pun mulai dikembangkan kembali dengan cara memasarkan melalui pameran. Beberapa yang sering diikuti antara lain INACRAFT, Trade Expo Indonesia, Indonesia Fashion Week, dan Muslim BIZ World. Selain itu pemasaran melalui e-commerce di website Lazulisarae.com juga dilakukan agar mencangkup buyer yang cukup luas wilayahnya. Hingga tiga tahun kemudian, produk Lazuli Sarae kini sudah memiliki omzet penjualan Rp 20-40 juta per bulan dengan harga produk mulai Rp 50.000 untuk aksesori kerah baju hingga termahal Rp 745.000 untuk sebuah cardigan perempuan.

Baca juga: Pentingnya After-Sales Service Buat Bisnis

Berbicara mengenai produk, Ivan selalu membuat produk dengan nama yang unik, sebut saja Cinereo Mini Cape, Komala Joy Ladies Shirt, Parang Capuchon Jacket, dan Floreo Kellim Shirt. Koleksi yang diberi nama sedemikian rupa dimaksudkan agar selaras dengan visi misi dari Lazuli yaitu batik on denim with local value, and modern spirit.

Rencana kedepan yang akan dilakukan oleh Lazuli adalah membawa produk lokal ini menjadi jajaran produk fashion setingkat dunia. Tak sekedar menjadi ekspansi bisnis, namun dapat sekaligus membawa misi mengenalkan budaya Indonesia go public, salah satunya adalah Batik.

Baca juga: Lendabook, Berbagi Buku untuk Indonesia

Bagi Ivan, industry fashion sebentar lagi akan sangat maju dan memiliki peran besar dalam pembangunan perekonomian. “Para fashion entrepreneur sekarang ini sangat peduli pada pengembangan industri fashion untuk mewadahi para desainer dan entrepreneur muda agar dapat mengembangkan diri lebih lanjut melalui berbagai event. Hal inipun disambut dengan baik oleh kalangan penikmat fashion sebagai apresiator,” ungkapnya agi Ivan.

Pesan yang dilontarkan oleh Ivan adalah untuk mereka yang ingin berkecimpung di fashion industri, Ivan berpesan agar terus berkarya dan jangan merasa kecil diri. “Setiap orang pasti memiliki keunikan dan talenta yang dapat dikembangkan dan diwujudkan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya. Retta kawan sepejuangan di Lazuli juga menambahkan, “peran kritikus fashion sangat baik terutama untuk para fashion artist yang berfungsi sebagai kurator dan pemicu inovasi-inovasi baru sehingga dapat membuat nilai tambah bagi dunia fashion di Indonesia agar dapat bersaing secara global”.

Image header credit: gratisography.com