Featured

Mera Bura: Strategi Membangun Narasi Kemerdekaan dari Copa de Flores

Bagi yang pengen bikin fashion brand, apa sih kira-kira hal yang paling dikhawatirkan? Takut enggak sesuai pasar? Takut desain lo nggak disukai orang-orang? Ternyata, selain desain yang keren, ada hal yang enggak kalah penting untuk kita bangun, yaitu narasi.

Seperti yang diangkat Founder dan CEO Copa de Flores, Maria Gabriella Isabella.  Copa de Flores merupakan sebuah local brand yang mengusung kain tenun ikat sebagai ciri khasnya. Dengan misi menanamkan #FashionablyHumanist, tim Copa de Flores membalut cerita dari setiap perjalanan kain tenun. Brand ini juga memprakarsai sebuah proses meditasi visual berbasis tenun untuk para perempuan-perempuan korban pelanggaran HAM berat masa lalu, pelecehan seksual, dan human trafficking di Flores

Kali ini brand yang baru aja diberi suntikan modal 74 juta rupiah dari Modal rakyat itu membawa narasi kemerdekaan. Hah, narasi kemerdekaan di bulan Agustus kan biasa aja? 

Baca juga: Belajar Bootsrapping untuk Startup dari Sejarah BPUPKI dan PPKI

Di antara brand lain yang sama-sama bawa topik kemerdekaan, Copa de Flores meluncurkan koleksi tematik dengan nama “Mera Bura”. Maria menjelaskan, gagasan koleksi tersebut adalah bentuk upaya dari Copa de Flores untuk meningkatkan inklusi keuangan dan pemberdayaan perempuan di daerah Nusa Tenggara Timur melalui tenun ikat. 

Mera Bura adalah bahasa Maumere, Flores  yang berarti merah putih. Dua warna tersebut juga mereprentasikan filosofi bendera nasional Republik Indonesia, dimana Merah berarti keberanian, sedangkan putih berarti kesucian. “Makna lain yang dapat direfleksikan dari kedua warna itu adalah  warna merah yang melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia,” ujar Maria.

Dirilis 13 April 2019, Copa de Flores membuat 17 design untuk pelatihan di delapan desa di kawasan Nusa Tenggara Timur, dan juga untuk meningkatkan kapasitas usaha dari 45 penenun di daerah tersebut.  Maria bercerita, awal mula ia membuat Copa de Flores karena kondisi keuangan orang tuanya. Namun ketika ia berdiskusi dengan banyak orang, termasuk Komnas Perempuan, ia menemukan bahwa angka human trafficking paling besar di Indonesia ada di Flores loh. “And most of the victim are women,” tutur Maria. Banyak orang, khususnya perempuan Flores yang belum percaya akan potensi mereka, sehingga lebih memilih pergi ke kota besar.

Baca juga: Q&A: MARIA GABRIELLA ISABELLA, BANTU BERDAYAKAN WANITA FLORES LEWAT TENUN IKAT

Menurut Maria, banyak anak muda Flores yang sudah tidak menggunakan kain tenun, bahkan penenun muda juga semakin langka.   Akhirnya dia dan ketujuh Co-Founder Copa de Flores mulai memikirkan apa yang bisa dibantu walaupun mereka tidak tinggal di Flores. 

“Bagi mereka bikin tenun di rumah itu nggak keren, sedangkan zaman dulu menenun di rumah itu adalah wow. Akhirnya misi kami harus ngebuat budayanya menenun jadi keren di mata anak-anak muda di sana,” ujar Maria.

Jadi, desain bagus doang belum tentu membuat fashion brand kamu menjadi besar. Ketika kamu membuat usaha dengan misi sebesar-besarnya untuk lingkungan, maka audiens akan ikut mendukung misi brand kita. Yuk bangun narasi yang dicintai audiens! 

Baca juga: Sumpah Pemuda, Ide Startup Pertama di Negeri Ini