Opinion

Realita Program Inkubator: Dikasih Hati, Minta Jantung

Apa memang anak muda selalu hidup dengan landasan “I need more, I want more” alias dikasih hati minta jantung?

Recently banyak banget program inkubator atau akselerator, khususnya yang berbau entrepreneurship dan sosial, yang menuntut hasil atau outcome pasti at the end of the program. 

Gue bersyukur pernah jadi salah satu program yang berfokus di bidang sosial, yang gue tahu bahwa pada akhir program peserta terpilih wajib membuat sebuah kegiatan sosial yang empowering youth. Well, singkat cerita, pada akhir program banyak banget rekan gue yang protes untuk melakukan kegiatan sosial karena dana yang terbatas, lokasi yang jauh, kesibukan kuliah, dan lain-lain. At the end, hanya sebagian (bisa dihitung pakai jari) dari 34 peserta yang melakukan program akhir. 

Baca juga: Saat Bule Lebih Peduli Daripada Pemerintah Sendiri

Entah kenapa ya kebanyakan anak muda (walaupun ga semuanya) kalau dikasih suatu kesempatan dan ditawari tools (mentorship, dana awal, tempat, dan sebagainya) untuk memulai sesuatu, banyak yang ingkar janji. Mereka yang biasanya terpilih pasti yang sudah disaring dengan berbagai alasan tapi satu kesamaan mereka dalam setiap program inkubator, bahwa mereka berniat to create and to invent something. Ujung-ujungnya niat tersebut kendur dan menyusahkan pencipta program yang niatnya adalah empowering youth. Lo ga berpikir mereka datang, cari anak muda berbakat dan bilang “Hey, I want to waste money, let’s waste money” kan?

Baca juga: Startup Butuh Mentor, Bukan Investor

Image credit: washingtonpost.com

Apa memang anak muda selalu hidup dengan landasan “I need more, I want more”, means dikasih hati minta jantung. Katanya bingung soal arahan kalau jalan sendiri, akhirnya disediakan mentor. Katanya bingung soal tempat diskusi, akhirnya disediakan tempat dengan fasilitas memadai. Katanya butuh dana, akhirnya disediakan akses ke investor. Tapi, ujung-ujungnya malah sering absen mentoring, jarang rapat koordinasi, dan hilang dari peredaran.

Come on, founder Google, Sergey dan Larry, memulai calon perusahaan raksasa dari sebuah garasi yang besarnya tak lebih dari 20 meter. Well, this is not sentimental article. The point is have you gone the extra mile? This is not going to be easy, this is a hard battle between you and yourself. 

Baca juga: Apa yang Salah dari Founder Pemula?

Header image credit: officesnapshots.com