Story

Q&A: Benny dan DSLR Cinematography Indonesia, Menyebarkan Karya dengan Berbagai Cara

“Kita bisa tahu kebudayaan Indonesia dari kacamata orang-orang lokal. Nggak kayak sekarang, yang bikin film dan cerita adalah mereka orang Jakarta yang nggak pernah tau masyarakat Batak, sok bikin film tentang masyarakat Batak dan sok pake logat Batak. Saya sebel banget kalau ada ada orang Jawa yang sok logat Batak atau orang Jakarta yang sok logat Jawa. NGGAK BANGET!” – Benny Kadarhariarto

Benny Kadarhariarto, ia lebih akrab disapa Om Benny. Pria kelahiran Bandung ini sudah 20 tahun lebih berkecimpung di dunia sinematografi. Ia termasuk salah satu orang yang paling berisik di DSLR Cinematography Indonesia (DCI). Beberapa waktu lalu, Ziliun sempat berbincang panjang dengan Om Benny mengenai DCI dan perkembangan industri film tanah air. Simak obrolan kami berikut ya!

Image credit: vimeo.com / Benny KadarHariarto

Boleh diceritakan mengapa Om Benny pada akhirnya memilih jalur sinematografi mengingat background pendidikan Om sebelumnya adalah arsitektur dan seni rupa?

Sebetulnya itu setengah kecelakaan. Dulu saya kuliah di Arsitektur Trisakti, ketemu dengan temen yang sehobi dan sama gilanya dalam memotret. Dulu motret masih pake film, pagi beli film, seharian motret, sore dicetak. Saking asiknya, uang buat bayar kuliah kepake buat beli film. Terus kan nggak bisa kuliah tuh, IPK juga bagus banget, nggak pernah lebih dari satu koma! Haha. Akhirnya pindah ke Seni Rupa.

Waktu kuliah Seni Rupa itu, saya mikir kenapa enggak hobi dijadikan profesi aja. Singkat cerita saya ‘terjebak’ di IKJ yang waktu itu cuman dapet materi fotografi basic banget. Saya bilang sama diri saya sendiri, udah nyebur sekalian aja deh! Dengan berbekal cita-cita sebagai seorang kameramen, saya bikin film pertama dengan modal listrik nyolong. Kesetrum, rasanya udah mau mati dan trauma pegang listrik. Saya dikenalkan dengan industri film oleh dosen saya, Mas Hartanto. Tahun 2009-2010 saat DSLR mulai digunakan sebagai alat perekam video, saya beli kamera paling murah tapi asik, Canon 550D. Nah, kamera itu yang bikin passion saya hidup lagi. Seorang teman meng-invite saya masuk group Canon 550D Indonesia. Ini yang kemudian jadi cikal bakal DSLR Cinematography Indonesia.

Sebagai CEO dari DSLR Cinematography Indonesia, bisa diceritakan bagaimana DCI bisa lahir? Apa yang melatarbelakangi munculnya DCI ini?

Founder DCI adalah Audy Erel dan Indra Yogiswara, mungkin karena saya paling berisik di group ini saya disebut sebagai CEO. DCI berawal dari thread Canon 550D di Kaskus. Karena banyak yang ikutan sharing, lalu kita bikin Canon 550D Indonesia. Grup itu sempat nggak bisa diakses dan bikin kita panik, akhirnya punya plan bikin grup baru dengan cakupan lebih luas yaitu videography dan cinematography. Ya udah, lahirlah DSLR Cinematography (DCI). Seiring dengan kemajuan dan perubahan tren teknologi sekarang, kita berencana merubah nama DCI menjadi Digital Cinematography Indonesia.

Baca juga: Bangkitkan Kreativitas, Bangkitkan Film Indonesia!

DCI bisa berkembang sedemikian dahsyat juga karena adanya kebutuhan dari teman-teman di Indonesia untuk berdiskusi tentang teknologi videography dengan menggunakan DSLR, dan bagaimana cara membuat film. Cuman, banyak temen-temen di pelosok Indonesia yang nggak punya tempat buat belajar dan bertanya tentang cinematography. Nah di DCI dengan tagline “KEEP SHARING, KEEP LEARNING AND KEEP GROWING” ini, semua orang bisa bertanya tentang apapun dan kapanpun nggak dibatasi oleh waktu, tempat dan terutama usia. Silahkan deh coba tanya ke DCI jam berapa aja, pasti akan ada yang menjawab, fast response pokoknya.

Sebenarnya apa output yang diharapkan dari DCI ini Om?

Image credit: Twitter / @DSLRCinemaID

Sebetulnya nggak muluk-muluk, kayak tagline kita “keep sharing, keep learning and keep growing” tadi. Supaya kita bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan, belajar dan berkembang bersama, itu aja. Karena kita sadar kalau pendidikan film di Indonesia amat sangat susah didapat, apalagi di Indonesia daerah terpencil. Nah DCI-lah tempat di mana semua orang bisa belajar dengan gratis. Nggak ada tuh istilah pelit ilmu di DCI. Satu orang nggak mau berbagi, masih ada 36.000 orang lain yang akan berbagi, membongkar ilmu sedalam-dalamnya. Orang pelit ilmu bukan di DCI tempatnya!

Mimpi jorok saya pribadi begini, anak-anak SMP bisa sekarang sudah belajar bikin film meski itu hanya film pendek. Saya mengharapkan apresiasi mereka terhadap film akan naik setinggi-tingginya. Suatu saat mereka akan bilang “bikin gitu aja mah gue juga bisa!”. Abis itu mereka kasih lihat karya yang lebih bagus, buatan sendiri. Mau nggak mau kan akhirnya ada standar kualitas film, ke depan jauh lebih bagus dibanding sinetron-sinetron kayak sekarang ini.

Member DCI saat ini menembus angka 36.000, apa harapan Om Benny dengan angka ini?

Alhamdulillah banget, kita nggak nyangka DCI bisa punya progress yang cepet. Harapan saya adalah anggota keluarga DCI akan terus berkembang, akan lebih banyak lagi teman-teman kita di seluruh Indonesia belajar cinematography dan berkarya. Sehingga, industri film kita akan terus berkembang di seluruh pelosok. Nantinya semoga industri ini nggak terpusat di Jakarta aja, akan ada film produksi Papua, film produksi Aceh, produksi Sulawesi Utara, produksi Bangka Belitung, dan lain-lain di semua provinsi di Indonesia. Asik kan?

Baca juga: #ziliun17: Film Indonesia Pemenang Award Internasional

Kita bisa tahu kebudayaan Indonesia dari kacamata orang-orang lokal. Nggak kayak sekarang, yang bikin film dan cerita adalah mereka orang Jakarta yang nggak pernah tau masyarakat Batak, sok bikin film tentang masyarakat Batak dan sok pake logat Batak. Saya sebel banget kalau ada ada orang Jawa yang sok logat Batak atau orang Jakarta yang sok logat Jawa. NGGAK BANGET!

Menurut Om Benny, bagaimana seharusnya DCI dan teman-teman sinematografer bisa lebih banyak berkontribusi positif untuk perkembangan industri kreatif Indonesia saat ini?

Well, ngomongin industri kreatif kok saya agak gatel ya. Terus terang saya bukannya anti pemerintah tapi agak pesimis aja sama pemerintah Indonesia. Siapapun presidennya ya, sama aja! Dari dulu film itu cuman diambilin duitnya aja, diambilin pajaknya aja, tapi pemerintah nggak bisa berbuat apa-apa untuk ngurusin distribusinya. Jadi akhirnya kita di DCI, bergerak sendiri dan nggak nungguin bantuan atau apapun dari pemerintah.

Kita lihat temen-temen kita di Singkawang. Mereka bikin film pake duit sendiri, puter film sendiri di bangunan bekas bioskop yang udah tutup (tapi masih bagus), jual DVD sendiri, kalo ada yang bajak, grebek penjual bajakannya sendiri. Alhamdulillah mereka bisa menjual tiket sebanyak 5-6 juta dan bisa ngejual DVD sebanyak 10-12 ribu keping. Apa bantuan pemerintah? Akhirnya kita mah tetap berkarya, sebarkan karya itu dengan berbagai cara, bikin layar-layar tancep di kota masing-masing. Secara nggak semua kota ada bioskop kan ya? Nah, di sana temen-temen kita yang banyak bergerilya dan berkarya.

Image credit: Google+ / Benny Kadarhariarto

Sebagai orang yang berkecimpung di industri kreatif, boleh berkomentar sedikit dong Om tentang intellectual property. Pernah mengalami nggak, karya milik Om dibajak orang. Kalau pernah, gimana Om menanggapi hal ini?

Nah, ini dia nih kesempatan! Kalo misalnya yang bajak itu temen sendiri dan di-upload ke YouTube, masih gampang ngurusnya. Kaya kemaren ada film tentang Kota Bandung, tapi footage-nya banyak banget pake karya anak-anak DCI. Itu langsung bantai di channel YouTube-nya dan langsung di-take down.

Yang repot justru stasiun TV yang pura-pura bego dan bersembunyi di balik kalimat “COURTESY OF YOUTUBE”. Itu ngeselin banget! Udah sering tuh karya anak-anak DCI yang dipakai sama acara mereka. Pernah ada acara salah satu stasiun televisi swasta, pake salah satu karya anak DCI. Ya abis itu kita bom Twitter mereka. Cuman itu yang bisa kita lakukan. Pernah juga karya salah satu anak DCI dipakai, terus diributin sama yang bikin, akhirnya tawar-tawaran harga. Padahal bukan harga yang kita mau, tapi ngasih pelajaran ke stasiun TV itu.

Baca juga: Joko Anwar: Online itu Cuma Media, yang Penting Kontennya!

Keluarga DCI itu kebanyakan kan YouTubers. Mereka upload karya mereka di YouTube yang nggak menyediakan fasilitas download. Kalau pun bisa download, harus pake third party apps, yang artinya mereka nyuri. Jadi saya sih menegaskan sama para stasiun TV, jangan sekali sekali menggunakan footage tentang Indonesia dari YouTube untuk siaran di Indonesia.

Kita di DCI menekankan, sebagai sebagai kreator yuk kita juga jangan ngebajak karya orang. Kita masih pake OS bajakan buat komputer, software buat ngedit juga bajakan, terus kalo karya kita dibajak ya nggak udah marah dong?! Untuk musik, kita juga menganjurkan jangan pake punya orang. Kalo kepaksa ya paling nggak tulis itu musik siapa, lebih bagus lagi kalau ijin langsung ke yang punya. Dan jangan juga mengumbar software, plugins bajakan di wall-nya grup juga kali.

Ada yang ingin disampaikan nggak Om kepada anak-anak muda kita yang sedang belajar sinematografi?

Pesan saya buat teman-teman yang mau belajar bikin film terutama soal teknis, silahkan join di DCI. Terus, coba deh kalo baru beli kamera jangan lalu dinyalain, pencet recording, ada gambar, trus langsung bilang ke temen-temen “Gue ini DOP!”. Saya aja yang baru 20 tahun lebih berkecimpung di industri ini, nggak berani bilang saya DOP. Coba baca dulu buku manual untuk tahu apa saja kemampuan kamera yang dipunya. Dengan begitu kita bisa memaksimalkan kinerja kamera dan menghasilkan sesuatu dengan maksimal juga. Kalo alat kita seadanya, tapi bisa menghasilkan film bagus, itu baru hebat!

Terus belajar, belajar, belajar dan belajar. Ada yang nggak ngerti, buka internet, tanya sama mbah gugel. Abis itu bikin film, sebanyak-banyaknya, lalu kirim ke festival. Menang ya syukur, kalah ya udah. Kalo di festival itu sebenernya yang menang adalah mereka yang kirim karya, yang nggak ngirim itu loser. Dengan begitu kita tahu sejauh mana kemampuan yang dimiliki dan apakah sudah bisa diapresiasi oleh orang lain. Oya, kalo bikin film nggak usah terlalu serius lah. Semua yang terjadi di depan kita, bisa kok dijadiin cerita.

Baca juga: Esensi Berkarya: Dapat Nama atau Bikin Perubahan?

Header image credit: panzbos.wordpress.com