Opinion

Perlukah Jadi Social Climber untuk Eksis?

Punya network yang luas emang banyak manfaatnya. Apalagi kalau lo punya mimpi besar, rasanya without networking it isn’t working. Ya, karena semakin luas network lo, semakin banyak kesempatan yang bisa lo ambil. Jadi eksis pun adalah buah dari the power of networking yang sangat lo pegang teguh.

Namun, suka banyak yang salah kaprah dengan networking. Banyak yang menganggap untuk memperluas network, lo harus bisa social climbing. Harus eksis, harus fancy, karena kalau gak, bakal susah untuk memperluas network dan dihargai.

Eh, tunggu dulu. Siapa sih yang ga pengen dikenal banyak orang?

Baca juga: What is Networking, Actually?

Iya memang ga ada yang ga pengen, toh semua orang pengen merasa diakui. Tapi untuk orang-orang ini lain cerita… tujuan mereka ngeksis ga jelas, ga ada tujuannya, ga berarti apa-apa buat dia dan orang lain. Saking ngototnya terlihat fancy, they’re willing do everything to get accepted by society. For the sake of networking, mereka merasa social climbing adalah cara yang tepat. “Biar mati, asal gaya” jadi motto hidup mereka.

Image credit: someecards.com

Misalnya, lo berada di posisi lingkungan yang serba brand-minded, terus lo jadi ngikutin lifestyle mereka dengan cara punya barang hip (yang padahal mungkin aja lo gak suka), demi bisa “networking” sama mereka. Padahal belum tentu juga beli barang ori, karena mikirin nasib dompet, ujung-ujungnya lo cuma beli KW-an atau ngutang sana sini. Udah ngeluarin duit banyak, tetep aja rugi karena orang-orang brand-minded ternyata bisa bedain mana yang ori dan mana yang KW. Poor you.

Padahal, kalau mau coba putar sudut pandang tentang manajemen pencitraan, ada hal lebih baik yang bisa dikejar: pengakuan positif. Semisal, lo ikut lomba dan keluar sebagai juara pertama yang idenya berhak diimplementasikan. Atas karya lo yang impact-nya jelas otomatis, lo gak hanya dapet apresiasi dari kalangan yang “strata”-nya lebih tinggi doang, tapi juga menjadi inspirasi buat mereka yang juga mau berkarya dan masih mengejar sampai ke titik lo sekarang.

Baca juga: Don’t Burn The Bridge!

Ingat kembali, social climbers doesn’t appreciate process. Walaupun lo pengen menciptakan citra positif pada diri lo, tapi caranya instan, ya sama aja dong kalo gitu cyiiin… Contoh kasusnya, lo pengen dapet pencitraan punya tingkat intelektual tinggi dengan cara bawa buku tebel ke mana-mana. Tujuannya sih pengen dibilang “Wih… gila bacaan lo berat banget, sob! Pasti wawasan lo luas banget, ya? Ga kuat deh gue,” meskipun sebenarnya lo sama sekali ga punya hobi baca buku.

Kalau lo mau memperluas network ke sekelompok orang tertentu, berpakaian dan berperilaku kayak mereka memang membantu, tapi hanya sebagai cara menciptakan first impression. Yang benar-benar matter adalah konsistensi lo dalam menunjukkan kualitas dan berkarya. Who knows, gara-gara reputasi lo yang udah bagus duluan, lo ga perlu susah-susah menciptakan first impression dengan image building yang palsu?

Daripada check-in di tempat fancy atau hipster di Path padahal cuma lewat doang, mendingan juga usaha untuk berkarya. Kalau karya lo ternyata membuahkan eksistensi, itu bonus, kan?

Baca juga: Jangan Termakan Online Persona di Social Media!

Header image credit: drafthouse.com