Opinion

Pak Rhenald Kasali, Ini Balasan Kami untuk Bapak

Meaning itu dibangun dengan cara yang berbeda dari yang ditempuh pekerja biasa, dari terobosan-terobosan baru.” – Rhenald Kasali

Kami awalnya membaca tulisan Bapak yang inspiratif itu dari broadcast message yang dikirimkan seorang teman via Line. Sungguh menggugah, dan kami terus menganggukkan kepala saat membacanya, setuju akan semua yang Bapak katakan.

Bapak bilang, “Di luar sana, anak-anak muda lainnya setengah mati mencari kerja, ikut seleksi menjadi calon PNS, pegawai bank, konsultan IT, guru, dosen, dan seterusnya. Seperti kebanyakan kaum muda lainnya, mereka semua didesak keluarga agar cepat mendapat pekerjaan, membantu keuangan keluarga, dan menikah pada waktunya. Cepat lulus dan dapat pekerjaan yang penghasilannya bagus.”

Ini fenomena yang tidak terbantahkan, Pak. Betapa keluarga seringkali tidak sadar mereka sebenarnya menekan anak-anak muda untuk cepat “mapan”, tapi makna kemapanan sendiri bagi mereka terlalu dangkal—bentuknya hanya terdefinisi oleh uang dan jabatan.

Kami pernah menulis tentang itu Pak, tentang anak-anak muda yang menyogok demi masa depan, hanya supaya bisa masuk ke ikatan dinas ternama yang menjanjikan pekerjaan langsung setelah lulus. Orangtuanya pun mendukung dan membiayai sogok-menyogok ini. Sungguh pengecut, kami bilang, seperti deal to the devil, rela melawan integritas hanya demi definisi dangkal dari “kemapanan” (seakan-akan rezeki itu tidak ada yang mengatur, ya, Pak).

Bapak juga bilang, “Sebagian dari mereka juga ada yang menjadi wirausaha. Tidak sedikit yang tersihir oleh kode-kode yang dikirim sejumlah orang tentang jurus-jurus cara cepat menjadi kaya raya. Bisa saja mereka berhasil meraih banyak hal begitu cepat. Namun, benarkah mereka berhasil selama-lamanya?”

Ini juga yang bikin kami prihatin: notion yang didukung dengan buku-buku dan seminar motivasi di luar sana, bahwa jadi wirausaha itu tujuannya agar cepat kaya. Anak muda tidak sadar, kalau bisnis-bisnis yang saat ini besar dan bertahan, semuanya mulai dari menyelesaikan masalah. Anak muda Indonesia cerdas dan penuh energi, tapi salah fokus. Salah memfokuskan energi mereka ke hal-hal yang lebih bermakna. Seperti yang Bapak bilang, lupa mencari meaning.

Image credit: lohky.blogspot.com

Kami pernah membaca sebuah tulisan di media asing, yang mempertanyakan: Kenapa para miliuner di dunia seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg misalnya, tetap bekerja, walaupun sudah punya uang, sudah kaya raya? Jawabannya ada di tulisan Bapak, dari kutipan yang Bapak ambil dari seorang pengusaha besar: “Uang itu memang tak punya mata, tetapi mempunyai penciuman. Ia tak bisa dikejar, tetapi datang tiada henti kepada mereka yang meaning-nya kuat.”

Ya, Gates, Zuckerberg, dan miliuner lainnya tetap bekerja keras karena sejak awal mereka bukan bekerja untuk uang, tapi untuk aktualisasi diri, untuk menjadi bermakna. Seperti kata Bapak, “Mereka bukanlah pengejar uang, melainkan pengejar mimpi-mimpi indah”.

Dan ini kebutuhan di hierarki paling tinggi yang anak muda lupa kejar: aktualisasi diri. Mereka lupa bertanya ke diri sendiri, apa yang membuat mereka prihatin, apa yang membuat mereka tersentuh, apa yang begitu menggelitik sehingga ingin mereka ubah. Jika saja semua anak muda negeri ini lebih dulu bertanya ke nurani sebelum memikirkan untuk belanja sana-sini, mungkin kita sudah lepas dari kebodohan masif sejak puluhan tahun lalu.

Bapak juga bilang, “Padahal, semua orang tahu orang yang mengejar meaning itu menjalankan sesuatu yang mereka cintai dan menimbulkan kebahagiaan. Bahagia itu benih untuk meraih keberhasilan. Orang yang mengejar gaji berpikir sebaliknya, kaya dulu, baru bahagia”.

Selain yang berpikir untuk kaya dulu baru bahagia, ada juga kelompok kedua, Pak, yang berpikir untuk kaya dulu, baru setelah itu menjunjung idealisme alias menemukan meaning. Alasannya, mereka bilang, untuk bertahan, idealisme butuh uang. Padahal, aktivis-aktivis semasa SMA dan kuliah juga lupa dengan idealisme mereka saat sudah mapan. Banyak yang masuk ke politik supaya bisa mempengaruhi kebijakan, tapi kemudian terbawa juga oleh arus dari sistem yang sudah mengakar. Kami pun jadi bertanya-tanya, sekejam itukah jalan yang harus ditempuh jika memilih meaning dibanding uang, sehingga meaning selalu dinomorduakan?

Terakhir, Bapak bilang, “Meaning itu dibangun dengan cara yang berbeda dari yang ditempuh pekerja biasa, dari terobosan-terobosan baru.”

Mungkin tidak banyak anak muda yang cukup berani untuk menempuh cara-cara yang berbeda, Pak. Tapi, benar kata Bapak, kalau tidak ada yang berani berbeda, tentu tidak akan ada Boedi Oetomo, dan tidak akan ada Kebangkitan Nasional.

Terima kasih atas tulisannya, Pak Rhenald Kasali. Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Header image credit: questformeaning.org