Opinion

Opera Tentang Sebuah Predikat

Menjadi pengikut tren yang sedang berkembang tidaklah haram, tapi haruskah menjadi sama seperti orang lain? Bukankah seharusnya tiap kepala memiliki kapasitas dan karakter berbeda dengan lainnya sekalipun kembar identik?

Image credit: bookcoverimgs.com

Aktualisasi diri dari sudut pandang muda-mudi masa kini sudah menjadi lebih dari sekadar ajang pembuktian eksistensi. Selain telah mempolakan gaya hidup, juga telah menjadi ajang pura-pura demi mencapai kata sandang sempurna. Sebagai bagian dari mereka, saya dibuat bingung. Terlalu banyak bentuk yang sama. Terlalu banyak kotak yang satu sama lainnya saling injak.

Banyak yang bilang remaja sekarang kurang kreativitas, tapi, menurut laporan pandangan saya, mereka justru terlalu kreatif. Dua tangan melakukan banyak hal dan auranya amat semringah saat mereka dilabeli multitasking person. Hal ini bisa jadi akibat terlalu banyak referensi untuk menjadi obsesif impulsif. Terlalu mau tahu. Terlalu mengekor pada peradaban. Terlalu haus sebuah pengakuan andal. Terlalu memaksakan keterbatasan. Usaha adalah hal lain yang terbatas.

Satu orang memotret dengan lensa terkini, mengarahkan film indie penuh imajinasi, menulis bergulung-gulung fiksi, menggowes sepeda di tengah polusi, menjadi pahlawan hijau saat bumi terlanjur menguning dan selusin akivitas kekinian lainnya. Apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan? Semua hal dilakukan seperti tuntutan lakon pada opera sabun yang menanti tepuk tangan. Tak jarang peran yang dilakoninya berimprovisasi dalam adegan saling merendahkan sesama pemeran. Menganggap dirinya paling juara sementara yang lain hanya aktor kacangan. Ia tak sadar bahwa perannya sama dengan banyak orang; sekadar tiruan.

Baca juga: Muda dan Belagu? Boleh!

Saya yakin banyak di antara kita akan merasa malu jika kedapatan mengenakan barang imitasi. Tapi, berapa banyak yang malu saat kedapatan mengimitasi orang lain?

Menjadi pengikut tren yang sedang berkembang tidaklah haram, tapi haruskah menjadi sama seperti orang lain? Atau berpura-pura menjadi orang lain? Bukankah seharusnya tiap kepala memiliki kapasitas dan karakter berbeda dengan lainnya sekalipun kembar identik? Kadang, seseorang memang lebih baik dari yang lain, tapi bukan berarti sempurna. 

Barangkali mereka lupa, sempurna hanyalah dongeng belaka, seperti Cinderella. Seperti pasangan yang selalu setia. Seperti jalan tol yang selalu terbebas dari hambatan. Mitos.

Baca juga: Kenapa Anak Muda Harus Jadi “King”, Bukan “Jack of All Trades”


Tulisan ini sebelumnya diterbitkan dengan judul “Generasi Gaul” dalam buku Saya (Cinta) Indonesia: Ocehan Komika tentang Kelucuan di Negerinya (MediaKita, 2012) 


Header image credit: splitshire.com