Story

Komunitas Historia Indonesia: Sejarah dengan Balutan Modernisme

Kemasan yang menarik dan kreativitas yang tinggi dalam membungkus sejarah adalah yang bisa bikin sejarah lebih dipedulikan dan dinikmati.

Pelajaran sejarah dimana-mana sering banget dikemas dengan gaya yang monoton, dan malah bikin siswa-siswanya merasa benci dan muak. Gak salah di siswanya juga, karena guru-guru yang ngajarin materi sejarah cenderung hanya mendikte murid-muridnya untuk mengingat tanggal dan nama tanpa paham peristiwa sejarahnya. Kebayang kan berapa banyak tanggal dan nama tokoh yang harus diingat dari periode Kerajaan hingga masa pasca-reformasi, selama negara ini berdiri? 

Akibatnya jelas, pesan dan maknanya gak sampai, padahal tujuan pembelajaran sejarah kan untuk meningkatkan awareness generasi muda tentang nasionalisme dan kebangsaan. Coba aja tanya sama adik-adik atau mahasiswa-mahasiswa yang udah khatam dengan sejarah, apa pada ngerti alasan dari suatu peristiwa yang muncul? Boro-boro ngerti, inget tokoh aja mungkin agak gelagapan, karena saking banyaknya.

Ketragisan ini, gak langsung mematikan semangat orang-orang yang tertarik sama sejarah. Malah seorang mahasiswa Sejarah bernama Asep Kambali mencoba untuk mendirikan komunitas sejarah pada tahun 2003 dengan nama KPSBI-Historia, yaitu singkatan dari Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia – Historia yang kemudian pada tahun 2005/2006, berubah nama menjadi Komunitas Historia Indonesia atau disingkat KHI. KPSBI-Historia inilah yang menjadi cikal bakal dari gerakan KHI sampai sekarang.

Baca juga: Menghargai Sejarah Indonesia Melalui Novel Grafis

Image credit: Google+/Komunitas Historia Indonesia

Awalnya, KHI memang hanya sebuah komunitas untuk edukasi sejarah dengan konsep yang rekreatif. Asep Kambali bersama enam orang teman sesama mahasiswa, dengan dana sendiri seadanya, memulai komunitas dengan menggelar acara tiap bulan. Setelah menjadi semakin besar, KHI mulai mandiri dari segi pendanaan dengan cara mengembangkan paket-paket wisata lintas sejarah yang unik, di antaranya yang cukup populer adalah Tour de Busway dan Night At The Museum. Pembuatan paket-paket tur ini bisa menjadi sumber penghasilan bagi anggotanya, apalagi kebanyakan pihak yang tertarik dengan program ini adalah institusi atau rombongan dari luar negeri.

Baca juga: Belajar Sejarah Indonesia Lewat Arsip Musik Digital

Salah satu program KHI. Image credit: komunitashistoria.com

Untuk menjalankan gerakannya KHI menggunakan tiga pilar utama yakni rekreatif, edukatif, dan entertaining. Nilai jualnya ada pada keunikan konsepnya. Di Tour de Busway, misalnya, para peserta berwisata di atas bus Transjakarta, lalu anggota KHI menjadi tour guide dan memberikan penjelasan sejarah mengenai jalan-jalan tertentu yang tidak banyak diketahui orang. Lalu, di program yang diikuti siswa sekolah, siswa melakukan napak tilas dan amazing race ke beberapa museum dan situs sejarah yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia selama satu hari penuh.

Selain itu juga ada berbagai acara lainnya di antaranya ialah berwisata malam di kota tua Jakarta, menjelajahi kampung-kampung Tionghoa, atau bahkan menginap semalam di museum. Semua program ini dibalut dengan kreativitas kekinian, sehingga engga aja menarik minat generasi tua tapi juga muda untuk makin mencintai sejarahnya.

Sebetulnya, banyak pihak yang tertarik dengan sejarah. Buktinya, jumlah anggota komunitas KHI saat ini sudah lebih dari 20.000 di Indonesia dan juga di negara lain. Lagi-lagi, kemasan yang menarik dan kreativitas yang tinggi dalam membungkus sejarah adalah yang bisa bikin sejarah lebih dipedulikan dan dinikmati. Lewat komunitas KHI sejarah menjadi hiburan menarik yang bisa dinikmati oleh siapapun.

Baca juga: Hal-hal Menarik Seputar Komik Indonesia

Header image credit: outsidethebeltway.com