Opinion

It’s Always The “Why” That Matters

Sebuah artikel di Wall Street Journal berjudul Why Some Entrepreneurs Feel Fulfilled–but Others Don’t memberikan insight kalau sebenarnya gak semua yang berbisnis itu puas sama yang dicapainya.

Padahal, sering banget kita denger kalau banyak orang yang memilih jalan sebagai entrepreneur itu untuk aktualisasi diri, untuk bisa memasukkan nilai-nilai pribadi dan interest mereka ke dalam bisnis yang mereka bangun. Logikanya, kalau nosi tersebut benar, jadi entrepreneur adalah jaminan untuk mencapai self fulfillment, dong?

Well, kenyataannya gak begitu.

Faktanya, menurut survey yang dilakukan seorang profesor manajemen bernama Leon Schjoedt, banyak entrepreneur yang merasa gak puas sama kerjaannya dengan beberapa alasan.

Misalnya, entrepreneur yang memang sejak awal mau berbisnis, jatohnya lebih ngerasa puas dibandingkan mereka yang jadi entrepreneur karena “kepepet” dari segi ekonomi.

Baca juga: Anak-Anak Mestinya Diajarin Jadi Entrepreneur!

Lalu, di kasus kedua, ada entrepreneur yang merasa kurang puas, gara-gara rasio antara modal awal yang dikeluarkan dengan return yang dihasilkan gak terlalu jauh, alias kurang berkali-kali lipat seperti yang mereka harapkan. Jadinya, mereka yang mengeluarkan modal awal lebih sedikit, cenderung bisa lebih puas sama kerjaannya.

Yang lucu lagi, ada entrepreneur yang merasa gak fulfilled gara-gara mereka lulus dari sekolah bagus, top college misalnya. Jadinya, mereka punya ekspektasi lebih tinggi terhadap pencapaian diri mereka sendiri.

Hasil survey ini jadi bikin gue sampai pada satu kesimpulan: it’s always the “why” that matters.

Baca juga: Tiga Bahan Bakar Entrepreneur

Ya, lo akan gampang merasa ga puas dalam kerjaan apapun, termasuk sebagai entrepreneur, kalau memulai sesuatu dengan alasan yang kurang tepat. Misalnya, yang mau berbisnis cuma demi uang, bakal ngerasa gak fulfilled kalau return yang dihasilkan sedikit. Begitu juga yang “terpaksa” mulai karena kepepet. Ya bagus sih, at least udah memulai. Tapi karena terpaksa, jadi kurang ikhlas. Terus, yang punya ekspektasi terhadap diri sendiri tinggi, gara-gara lulusan sekolah bagus, tujuannya adalah ingin membuktikan diri, which means susah banget untuk ngerasa puas (karena di atas langit masih ada langit).

Bukan berarti terus bikin bisnis gak boleh pengen dapet uang dan membuktikan diri, tapi menurut gue pribadi sih, semuanya harus dimulai dari keinginan menyelesaikan masalah. Uang dan recognition hanyalah side effect. 

Kalau kita focus on the fundamental thing, yaitu solving the problem, akan lebih gampang ngerasa fulfilled. Kenapa? Ya berarti kalau produk atau jasanya udah solve problem, udah puas dong, ya gak? Tinggal mikirin menambah kepuasan itu aja dengan bikin untung lebih banyak.

Inget ya, it’s always the “why” that matters. Kalau “why”-nya tepat, Insya Allah nih, self fulfillment-nya jauh lebih besar.

Header image credit: nathaliec24.wordpress.com