Story

The End of MAKKO and To The Brave Old World

TL;DR version: Business model yang gue rancang tidak cukup kuat untuk menahan keberlangsungan MAKKO ditambah banyak faktor eksternal yang gue tidak bisa ceritakan semuanya di sini. You can now fast forward to the very end of the article if you don’t have 5 minutes. -Sunny Gho

Dua tahun lalu — tahun 2013 — MAKKO, penerbitan komik online yang gw dirikan, menghilang dari publik. Sejak saat itu gue belum sempat pamit atau menjelaskan apa yang terjadi. The failure has been giving me an emotional rollercoaster and I went pretty much silent for almost a year after. Lewat post ini gue meminta maaf kepada teman-teman atas hal tersebut dan mau bercerita sedikit soal berdiri dan bubarnya MAKKO.

But, why now when it’s 2 years late? Jadi sebentar lagi gue akan launch “MAKKO 3.0” dan rasanya sangat salah jika MAKKO tidak pernah punya closure (kayak putus tapi enggak gitu kan), so I just I had to write this.

So, here you go.

Long version of what happened.

MAKKO didirikan akhir tahun 2010 dan mulai aktif online tanggal 11–1–2011 (maksudnya biar hoki, tapi ternyata gak ngaruh untuk yang kali ini) dengan 5 komik pertamanya: Wanara, Raibarong, 5 Menit Sebelum Tayang, Rokki, dan Guardian — beberapa yang menjadi komik terbaik yang pernah dipunya Indonesia setelah tahun 1996 (menurut gue sih, tenang aja). Library judul komik ini berkembang menjadi total 12 judul hingga akhir hayatnya MAKKO di tahun 2013.

Wanara by Sweta Kartika, one of the launch title.

MAKKO dibuat sebagai free-service dan pendapatan diharapkan dari pemasang iklan (secara tradisional, bukan lewat service macem AdSense dan kawan-kawannya). Kenapa Free? Tanpa riset sungguhan selain observasi lingkungan, gue menyimpulkan bahwa populasi Indonesia yang mau bayar konten digital adalah sangat kecil sekali, apalagi untuk konten komik lokal ( saat itu streaming services macem iTunes Music atau Steam belum populer ). Bahwa masih sedikit orang yang mau membayar untuk konten digital masih gw yakini sekarang — hey, who doesn’t love free stuff? — tapi rasanya juga dengan munculnya service-service yang gw sebut diatas, dan meningkatnya awareness terhadap komik lokal mungkin ada sebagian orang mulai mau membayar untuk akses konten komik.

Dengan asumsi diatas dan pola pikir start-up amatir yang yakin bahwa revenue boleh masuk belakangan setelah beberapa periode burning cash (“lihat tuh Twitter, Instagram berapa tahun ruginya”), MAKKO memutuskan untuk membuat semua komiknya bisa diakses gratis untuk mengincar eksposure seluas-luasnya dan membuat rencana untuk mendapatkan revenue dari iklan dan eksplorasi Intellectual Property (atau IP, bahasa kerennya). Contoh yang paling sederhana untuk ekplorasi IP adalah pembuatan merchandise, atau yang lebih keren, mengangkat cerita komiknya ke layar lebar ala-ala Marvel DC gitu deh.

OK, sounds like a plan yah? It did then.

Kenyataannya: waktu itu iklan tidak cukup kuat untuk menopang, merchandise belum sempat terwujud, kami tidak sempat cetak buku, satu komik yang mau jadi film juga gagal. Yak, setelah 2 tahun kami terpaksa harus shut-down.

MAKKO and After

It’s now sounds nightmarish on hindsight, but it wasn’t all lemons. I still feel we started something great (baca: keukeuh :P) dan akan melanjutkannya di “MAKKO 3.0” nanti.

Now I want share a bit about MAKKO vision, stance, and achievements during its short life.

Pertama, MAKKO memulai kembali model serialisasi komik di Indonesia. Sebelumnya ada beberapa percobaan dari teman-teman penerbit lainnya sebelum MAKKO, tapi mungkin karena MAKKO gratis gue rasa eksposurenya paling luas di generasi pembaca sekarang dengan 20.000 pembaca aktif per akhir 2012. Lalu kenapa serialisasi penting? Rata-rata buku komik 120 halaman di Indonesia dibuat dengan kecepatan 6–12 bulan, yang artinya: lama-banget-sob ! Di lain pihak, komik terjemahan ngebren (maaf, anak 90an) dengan kecepatan terbit rata-rata sebulan sekali. Jadi ketika kita tenggelam dalam banjir komik terjemahan, komik lokal terbit terlalu lama hingga sangat mudah “hilang”. Dengan menerbitkan serial per-chapter secara periodik meski sedikit jumlah halamannya, sebuah komik bisa stay di top-of-mind penggemarnya dan menjaga popularitasnya. Gue seneng banget sekarang udah banyak serialisasi komik, ada Re:ON, Shonen Fight dan Wook-Wook diantaranya and I think we still need more.

Salah satu komik bulanan MAKKO: Raibarong

Kedua, MAKKO gratis! Meski hal yang satu ini turut berperan besar menutup MAKKO, tapi gratis gak selalu buruk. Beberapa teman komikus yang turut ngomik di MAKKO gue rasa bisa merasakan manfaat dari penerbitan online gratis yang sekarang makin marak dengan berbagai macam pemain baru baik independen maupun raksasa. Mendapatkan uang dari halaman komik tidak hanya dengan menjual bukunya, itu sudah dibuktikan sama temen-temen muda kita sekarang kayak Faza Meonk dengan komik Si Juki-nya dimana dia berhasil mendapatkan revenue dari iklan maupun penjualan merchandise seperti rencana bisnis yang gue siapin untuk MAKKO tapi gak sempat kejadian. Jadi, model gratis ini bukan jelek, tapi mungkin kurang kompetensi hingga modelnya jadi bumerang untuk MAKKO. Bukti lain bahwa gratis pun bisa jalan, silakan riset tentang fenomena Nusantaranger dan WEBTOON yang baru masuk Indonesia milik raksasa LINE (tapi yang ini sih emang gak butuh duit dari komik :P)

Forever Free 🙂

MAKKO juga membayar page-rate untuk produksi komik creator-owned yang artinya komik yang diproduksi tidak dimiliki oleh penerbit/dibeli putus (kalau komikus dibayar untuk ngomik sih udah dari jaman Rajawali Graffiti . Walaupun rate-nya tidak tinggi, tapi senang rasanya hal ini menjadi sesuatu yang normal setelahnya karena banyak penerbit sekarang membayar page-rate dan banyak teman-teman komikus banyak yang bisa bekerja full-time untuk ngomik.

Komik Indonesia pertama pemenang International Manga Award: 5 Menit Sebelum Tayang

Lalu, komik 5 Menit Sebelum Tayang karya Ockto Baringbing dan Matto (Muhammad Fathanul Haq) memenangkan Silver Prize di International Manga Award tahun 2012. Yang pertama untuk komik dan komikus Indonesia! Waktu memulai MAKKO, gue bilang ke Mas Uwi Mathovani, Editor in Chief kami, kalo kita harus menerbitkan komik yang hanya bisa dibikin orang Indonesia, bercerita tentang Indonesia. Mau ceritanya sonen atau sojo, gaya gambarnya manga apel jeruk, settingnya di Jepang atau Afrika, tetep harus perspektif orang Indonesia (penulisnya) dan kalau ada yang pernah baca komik-komik MAKKO, gue berharap visi ini terlihat dari luar (tentunya ada juga yang tidak terlalu kelihatan, maaf kami khilaf). Lewat kemenangan Ockto & Matto, visi tersebut terbayar dan gue bakal terusin selama gue nafas (kalo masih nerbitin komik :P)

photo credit: Ockto Baringbing

MAKKO juga adalah Founder dari POPCON Asia, konvensi pop-culture pertama di Indonesia (sekarang masuk tahun ke 4) bersama KCB Convex dan Main Studios. Dulu sebelum tahun 2005 Indonesia punya banyak event untuk komunitas komik seperti PKN (PEKAN KOMIK NASIONAL) tapi karena satu dan lain hal acara-acara tersebut musnah macem dinosaurus. POPCON adalah event besar pertama yang mengusung model Comic-Con dengan fokus eksposure talent dan IP lokal untuk entertainment industry. Sekarang, meski diserbu berbagai convention dari EO luar negri, POPCON tetap one of the strongest convention to support local industry.

POPCON 2015! Please come!

And I guess that’s it! Tentunya masih banyak cerita lain yang gw tidak bisa gw ceritakan semuanya disini, dan banyak juga rencana MAKKO lain yang belum kesampaian dan akan gw teruskan di “MAKKO 3.0” nanti . If you still have any question regarding MAKKO, you can email me at: gho@outlook.com and I’ll try to answer when I can.

Lewat post ini gue juga mau berterima kasih sekali lagi buat seluruh tim MAKKO (order doesn’t matter, I really thank you all):

  • Mehdi Amrullah: pak bos harian MAKKO, this thing won’t run without you. Thanks so very much.
  • Steven Dian Marryko: the best graphic designer i get to know. MAKKO graphics is still the best out there 4 years later.
  • Uwi Mathovani: THE editor.
  • Wahyudi Lestadi: Man responsible for many better changes in MAKKO stories.
  • Jozef Thenu: Thanks for keeping the team together and be our confident face many many times.
  • Aditya Maulana: No MAKKO website without this guy.
  • Fahrani Qamadhieta: The girl behind MAKKO reports. Thanks for the voice.
  • Indra”Nabun”Arista: Brain behind our articles and social media strategies.
  • Galih Aristo: The event guy. Thanks for making us “happen”
  • Nuzuly Tara: Thanks for helping albeit briefly!
  • Pak Budi Kurniadi: Thank you for believing and kickstarting us.
  • Riza Helisandi: Thank you for covering for us and keeping us running!
  • Partners: STELLAR Labs, HAI Magazine, BOUNCHE, CAB Publishing, Main Studios, Malesbanget.com, POS Enterntainment, tim HEARTS, Bogalakon, Sprint, and many others. Thank you and sorry if we let you down.
  • All the comic artist: Alex Irzaqi, Sweta Kartika, Ockto Baringbing, Matto, WH.Rauf, Rhoald Marcellius, Azisa Noor, Erfian Asafat, Is Yuniarto, Cessa Lafalika, Jho Tan, Wahyu Sugianto, and many many more. Thank you for your hardwork and sorry for the trouble!
  • And lastly, YOU READERS, who kept asking “why the site is down”, “where can I read Wanara?”, “how I can read MAKKO comics?” “is the book gonna come out?” these 2 years. I’m sorry I didn’t have an answer back then but I finally can now.
The team at launch. THANKS guys! 🙂

So…

I guess that’s ends my closure to MAKKO. And to the brave old world, I’m now starting “MAKKO 3.0” meneruskan visi dan misi yang sama, menerbitkan komik-komik terbaik Indonesia dengan brand yang baru:

Tada!

See you guys there!


Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di blog pribadi Sunny Gho. dengan judul The End of MAKKO and To The Brave Old World.


 

Image header credit: prodidkvuntar.files.wordpress.com