Insight

Bisakah Video Games jadi Solusi Pendidikan?

“Most of the educational games that are out there today are really flashcards. They’re glorified drill and practice. They don’t have the depth, the rich narrative that really engaging video games have, that the boys are really interested in. So we need to design better games.”

Setuju gak kalo gue bilang, anak cewek itu biasanya lebih pinter daripada anak cowok di sekolah? Terus, anak cowok biasanya lebih nakal? Ya, bukan bermaksud stereotipe, tapi faktanya, ada statistik di Amerika kalau rasio anak cewek dibandingkan anak cowok yang dikeluarkan dari sekolah adalah 2:5.

Apa anak cowok yang salah karena mereka bandel? Kenapa kita gak coba putar balik sudut pandangnya kalau mungkin budaya sekolah yang gak cocok dengan anak-anak cowok?

Kalau katanya Ali Carr-Chelman–seorang mantan guru SD dan pemerhati pendidikan–di video ini, guru-guru suka menganggap video games adalah penyebab anak-anak cowok gak serius sekolah. Kalau kata Carr-Chelman sih, “Guess what? Video games are not the cause. Video games are a symptom. They were turned off a long time before they got here.”

Budaya sekolah yang sekarang itu toleransinya nol. Zero tolerance. Misalnya, satu kelas disuruh nulis puisi. Padahal, anak cowok gak mau nulis puisi, bisa aja mereka mau nulis tentang tornado, atau robot, dan lain-lain. Kalau budaya ini gak diubah, maka dari tahun ke tahun akan semakin banyak anak cowok yang ngomong, “Well I guess that was just a place for girls. It wasn’t for me. So I’ve got to do gaming, or I’ve got to do sports.”

Nah, Chelman di sini juga ngomong tentang solusinya, kalau mungkin aja video games bisa membantu proses belajar. Kalau aja berbagai pihak mau bikin educational games tapi yang sekelas World of Warcraft (dengan budget yang besar pula), budaya sekolah dan belajar bisa lebih sesuai sama kecenderungan para anak-anak cowok. Setuju?


Baca juga: Game di Indonesia, Sekarang dan Akan Datang

Header image credit: spotlight.education.uconn.edu