Featured

Big Data: Saat Data Gak Hanya Tumpukan Arsip Semata

“In God we trust. All others must bring data.” – W. Edwards Deming

Ibarat fashion, dunia IT juga ada trennya sendiri loh ternyata. Dan tren IT yang sekarang, dan beberapa tahun ke depan, lagi hangat dibicarain adalah cloud, mobile, media sosial, dan big data. Tapi, kayaknya kalau mobile sama media sosial udah sering dibahas ya. Penggunaan cloud juga saat ini udah gak asing. Nah yang terakhir kayaknya, udah sering diomongin di media luar, tapi masih belum jelas kelihatan batang hidungnya di Indonesia. Padahal big data ini punya segudang manfaat, dan pengaplikasiannya juga bisa diterapin di semua industri.

Sebelum kita ngobrolin big data, ada baiknya kita tahu apa big data sebenernya. Kalau dalam laporan McKinsey Global Institute (MGI), big data itu adalah data yang sudah sangat sulit untuk dikoleksi, disimpan, dikelola, maupun dianalisa dengan menggunakan sistem database biasa karena volumenya yang terus berlipatganda. Tidak hanya tentang ukuran data yang raksasa, di dalam big data sendiri terdiri varietas data yang heterogen–atau dengan kata lain–kompleks.

Baca juga: Masa Depan Bisnis di Tangan Teknologi Informasi

 

Kenapa big data sangat berpengaruh pada industri di masa depan? Karena menurut Warsaw Institute, kegiatan ekonomi kita di masa depan nanti semuanya bakal mengacu pada data-driven economy. Dibandingkan cara konvensional yang membiarkan tumpukan data cuma jadi arsip, dengan big data, semua data-data itu nantinya akan dimanfaatkan, hingga akhirnya pengambilan keputusan gak perlu pake intuisi lagi, tapi semuanya berbasis data.

Karena data bersifat universal, jadi penerapannya pun gak cuma dimanfaatkan oleh industri IT. Misalnya, dalam perbankan, di mana terdapat ribuan transaksi seharinya, dengan analisis big data, data transaksi itu bisa dipakai buat menyusun rencana Customer Relationship Management selanjutnya yang lebih efektif.

Baca juga: Belajar Mendengar Dengan Social Media

Ada juga contoh yang lebih keren, yaitu perusahaan sepatu, Nike, yang memanfaatkan big data dengan memasang sensor yang bisa dibaca pengguna iPhone. Bayangin, jutaan orang pengguna sepatu Nike secara gak langsung ngasih data setiap harinya ke Nike mengenai berapa lama mereka berlari, berapa jauh jaraknya, berapa banyaknya kalori yang terbuang, yang bisa jadi bahan pertimbangan mereka untuk mengenal perilaku konsumennya dan memprediksi pola pembelian sepatu selanjutnya! Gokil gak tuh?

Bahkan, dalam industri musik, penerapan big data bisa ngasih solusi untuk melawan pembajakan, dengan melakukan tracking pembajakan lagu pake satelit yang disebar di seluruh dunia, untuk melindungi haknya pencipta lagu!

Walaupun penerapannya bisa digunain di berbagai ranah, di Indonesia sendiri pemanfaatan big data sayangnya baru dipakai 3 sektor aja, yakni telekomunikasi, perbankan dan pemerintahan. Padahal, kalo dimanfaatin lebih luas, big data ini bisa dijadiin tambang emas lho. Keuntungan geografis dan populasi Indonesia adalah surga yang berpotensi jadi penambang data.

Kalo gitu, yuk kita berdoa semoga tren pemakaian big data gak cuma jadi buzzword di Indonesia!

Baca juga: Doing What You Love Doesn’t Always Mean Doing What You Like