Opinion

Working at Startup: Are You In for the Money or for the Values?

Gue punya temen seorang founder startup. Sekarang dia lagi struggling mau cari karyawan, karena satu per satu karyawannya cabut. Resign dengan berbagai alasan. Dia pun kalang kabut ketika startup nya yang sedang naik daun dan dapat banyak project mulai keteteran karena ngga ada orang yang bisa handle.

Dia kemudian mikir, jangan-jangan karena gaji yang dia tawarkan kekecilan. Dia pun kemudian menawarkan gaji yang (sedikit) lebih besar. Ada sih yang masuk. Tapi kemudian ngga seberapa lama keluar, karena karyawannya ditawari gaji lebih besar di perusahaan lain, yang juga lebih besar.

Dulu, pas gue lulus kuliah (jangan tanya tahun berapa), gue punya pemikiran bahwa abis kuliah itu cari kerja di perusahaan besar yang punya nama. Sementara orangtua gue, berhubung mereka PNS, sering banget nyuruh (baca: maksa) gue untuk jadi PNS.  Bahkan sampe sekarang, mereka masih pengen gue jadi PNS, just because they think it is far more secure than my current job. Kerjanya santai, ngga banyak tanggung jawab, ngga mungkin dipecat, pasti dapat pensiun lagi!

Pas gue lulus, berhubung gue ngga mau jadi PNS, seorang tante nyuruh gue ngelamar di perusahaan tempat di mana dia kerja. Perusahaan asing, dari luar. Perusahaan multinasional dengan karyawan ribuan. Ya udahlah, daripada nganggur. Gue ngelamar di sebuah posisi yang ngga ada hubungannya sama sekali dengan background kuliah. Gampang sih masuknya, abis gue overqualified. Soalnya kerjaan remeh temeh gitu sebetulnya ga perlu lulusan S1 PTN ternama. (Somboooooong)

Anyway, gue cuma bertahan 3 bulan. Selain gajinya yang kecil (which is fine, karena gue fresh graduate tanpa pengalaman), tapi lebih karena gue tahu this job will take me nowhere. I’m only a labor, a tiny part of a huge machine, which is very much replaceable anytime they want. Selain itu, my boss at that time, never motivate me to do anything. He just wanted to get by. He let the rest of the team to do what they want, which include taking recess whenever we want, doing our job just to meet the minimum requirement by the company.

So I moved on. Gue pergi ke sebuah perusahaan lain di bidang yang berbeda, untuk melamar sebuah posisi yang juga hampir ngga ada hubungannya dengan background kuliah. Pikir gue waktu itu, ngga apa-apa deh cari pengalaman. Nyoba hal baru di tempat baru, mumpung masih muda. But then I also disappointed. Gajinya naik dari yang sebelumnya (sedikit sih, tapi okelah). But most importantly, this is not what I want to do. I know I can do better, and I know I have the capability to be better, but not on this field. Ini bukan bidang yang gue mau.

I moved on again. A friend of a friend asked me to join this small PR agency. Kali ini bidangnya cukup nyambung. Gue kembali punya ekspektasi. Oke, kali ini, harusnya lebih bener dari yang sebelumnya. At least, bidang ini sesuai dengan background pendidikan, jadi kurang lebih gue tahu apa yang bisa gue lakukan. Kali ini, bos gue yang clueless. All his employees, except me, are friends and family. Doesn’t know what he’s doing. The worst part? Taking projects from stupid clients.

What went wrong?

Gue punya berbagai ekspektasi atas kerjaan yang gue mau lakukan. Motivasi gue pada saat itu adalah pengalaman. Pas awal-awal, gue pikir perusahaan besar bisa jadi tempat untuk belajar banyak. Boy, how wrong I was!

As a fresh graduate trying to explore the world, gue mau belajar dan dikasih berbagai tanggung jawab. Tapi kalo gue cuma dikasih satu jenis tanggung jawab dan ngga boleh tahu hal lain, why should I stay?

Sama halnya ketika dapet atasan yang ga ngerti cara memanfaatkan dan memaksimalkan potensi bawahannya. Paling parah sih yang ngga ngerti dan gak bisa kasih arahan. What’s the point of having them in the first place then?

Balik lagi ke cerita temen gue yang founder startup. Apakah kemudian gaji menyelesaikan masalah SDM? If you ask me, jumlah gaji tentu menjadi salah satu bahan pertimbangan. Tapi bukan yang utama. Gaji besar tapi bos tolol trus mau gimana?

As a startup, kita punya banyak pilihan untuk ngelakuin apa aja yang kita mau. Apapun yang kita bikin, siapapun yang kita ajak kerjasama, itu semua terserah kita. We have the opportunity to learn something new everyday. We get the chance to make change happen. We can change the world if we want.

Gue udah pernah kerja di berbagai perusahaan, nasional, multinasional, kecil, besar, tapi ketika kemudian gue memilih untuk bekerja di sebuah startup, alasannya bukan uang. Tapi kesempatan untuk belajar dan mendapat peluang untuk berkembang. Dan yang lebih penting dari itu, perusahaan harus punya visi misi yang sejalan dengan apa yang kita mau capai. Visi misinya gak berarti harus sama lho! Tapi harus sejalan. Gue yakin kalau perusahaan ini bisa bantu gue mencapai tujuan gue, melakukan aktualisasi diri, dan gue bisa melakukan hal yang baik dan membawa dampak yang bagus untuk orang banyak.

Gue percaya betul kalau seorang founder punya visi misi yang baik, tujuan yang jelas, impact yang besar, pasti ada orang yang tertarik untuk gabung dan ikut bareng.

I believe building a strong value for your startup – by visioning the right goal – is the most important capital to get talents.

Not (only) money, but most importantly, the right values.