Opinion

Pemimpin itu Harus Kepo

Lo pasti tahu istilah “kepo” yang lagi tren beberapa tahun belakangan. Ada yang bilang KEPO ini singkatan dari Knowing Every Particular Object. Intinya mau tahu banget urusan orang deh, termasuk stalking semua akun social media dari Twitter, Facebook, Instagram, Path, Blog, sampai Ask.fm. Zaman sekarang, gara-gara ada Internet, kepo itu gampang banget dilakuin.

Terus, manfaatnya apa dong? Di sini, gue mau ngebahas tentang manfaat kepo buat leader atau pemimpin. Pemimpin apa aja, baik pemimpin bisnis, organisasi, atau apapun, itu harus kepo sama orang-orang yang dia pimpin.

Katakan, ada seorang leader yang mau ngerekrut anggota-anggota baru buat organisasinya. Pasti setiap leader maunya dapet anggota yang oke dong, yang bertanggungjawab, bisa diandalkan, dan tentunya punya skill atau kualifikasi sesuai sama fungsi yang nanti dijalanin.

Biasanya, leader pada ngapain sih kalau bikin recruitment? Standarnya ya minta CV, terus kandidat yang CV-nya oke dipanggil deh buat wawancara.

Kepo (keepcalmstudio.com)

Baca juga: Don’t burn the bridge!

Sekarang, cara kayak gini masih relevan gak sih? Masih sih, tapi banyak banget kekurangannya, yaitu:

  • CV hanya menunjukkan apakah seseorang cukup aktif dan apakah pengalamannya relevan dengan fungsi yang akan dijalankan. Tapi, CV gak membuktikan kinerja orang tersebut selama dia menjalankan pekerjaannya.
  • Wawancara bisa bantu seorang pemimpin buat mengenal kandidat lebih dalam. Tapi, masalah utama dengan proses wawancara adalah kadang kita suka bias antara kandidat yang bagus dengan kandidat yang emang pinter ngomong. Ada suatu riset yang menyatakan bahwa saat seseorang berbicara, 30% dari isi omongannya yang benar-benar ditangkap oleh bawah sadar kita, sedangkan 70% yang kita tangkap adalah manner atau cara bicaranya.

Terus, gimana caranya kepo bisa ngebantu pemimpin buat menentukan the right man in the right place? Di sini, gue sangat menyarankan para leader buat stalk semua akun socmed anggota organisasi atau karyawan bisnis lo. Not suggesting you to be a freaky stalker, tapi apa yang orang nyatakan di akun media sosialnya bisa kasih gambaran apakah dia orang yang tepat lho.

Baca juga: Kolaborasi Atau Mati

Pertama, di media sosial pasti ada yang namanya Bio, atau deskripsi tentang diri sendiri, dan sejenisnya. Dengan ngebaca bio Twitter orang, kita bisa tahu bagaimana kesan orang tersebut terhadap dirinya sendiri. Misalnya, lo sedang mencari desainer buat bisnis lo. Kalo di profil Twitter dan Instagram dan LinkedIn-nya seseorang secara konsisten mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai “desainer”, lo jadi tahu bahwa orang itu sedikit banyak pasti senang dan percaya diri dengan pekerjaannya sebagai desainer. Jadi, lo tahu bahwa saat dia ngelamar jadi desainer, itu bukan cuma buat coba-coba karena dia sendiri sudah secara konsisten menganggap dirinya sebagai seorang desainer.

Kedua, di dunia maya, ada sih kemungkinan seseorang palsu dan berusaha memberikan impression yang baik yang gak sesuai sama kepribadian aslinya. Tapi, sepalsu-palsunya orang bisa sepalsu apa sih? Mungkin di Twitter, seseorang bisa sok-sokan nge-RT artikel-artikel bisnis biar terlihat pinter, tapi masih ada Following dan Favorites yang lo bisa percaya karena sedikit banyak pasti menunjukkan interest orang tersebut. Terus, masih ada Instagram buat lo ngelihat gimana orang itu menjalani kesehariannya (kalau fotonya rata-rata buku, berarti suka baca. Kalau isinya foto dia pakai macam-macam sepatu Nike, mungkin suka olahraga).

Baca juga: Follow Your Stomach!

Ketiga, kalau kandidat yang sedang lo seleksi ini punya blog aktif, lo bisa lebih memahami point of view dia terhadap suatu isu atau fenomena. Kalau ada cewek yang isi blognya tentang feminisme semua, berarti gak bijaksana kalau nanti dia keterima di perusahaan atau organisasi lo dan lo memperlakukan dia gak setara sama laki-laki. Kalau isi blognya galau semua, ya gak berarti jelek juga. Itu berarti orangnya melankolis dan suka bawa perasaan. Tinggal lo pertimbangkan apakah sisi melankolisnya justru akan menguntungkan atau merugikan.

Lebih jauh lagi, kepo gak hanya berakhir sampai rekrutmen. Saat seseorang udah mulai jadi bagian dari pekerjaan lo, lo harus tahu lo sedang bekerja dengan siapa. Siapa tahu ternyata ada tweet implisit kalau ternyata anggota atau karyawan lo bete sama lo, atau ngerasa dikasih pekerjaan yang gak sesuai sama ekspektasinya.

Baca juga: Rombak Pola Pikir

Sekarang, bukan zamannya lagi pemimpin otoriter. Organisasi sifatnya makin horizontal, gak vertikal lagi. Your people should respect you, not fear you. Mau gak mau, sebagai pemimpin, lo harus mendengarkan aspirasi semua orang dan berusaha mengkompromikan tujuan semua orang dengan tujuan lo. Gimana caranya? Ya dengan kepo.

Image header credit: picjumbo.com