Insight

Sparking Innovation Through Art in Facebook, Inc.

#ziliunSV adalah trip independen Ziliun mengunjungi Silicon Valley dan sekitarnya. Sebagai pusat industri teknologi dunia, Silicon Valley menjadi tempat untuk belajar gimana bisa bikin sesuatu dengan teknologi, yang kemudian berdampak global. Or at least, bikin sesuatu yang berdampak baik untuk Indonesia.

Seni dan Inovasi

Istilah “seni” biasanya mengarah kepada hal-hal yang tidak umum dan kadang sangat subjektif. Tidak semua orang dapat menikmati pameran karya seni di galeri-galeri, karena memang tidak semua orang dapat berpikir terbuka dan berusaha mengerti sudut pandang dari pencipta karya. Oleh karena itu banyak orang yang merasa bahwa karya seni diperuntukkan bagi kaum terpelajar.

“Art is not what you see, but what you make others see.” – Edgar Degas

Tapi menurut saya, perbedaan pendapat, perbedaan bahasa, perbedaan sudut pandang, segala sesuatu yang berbeda, unik, aneh, merupakan unsur seni dalam sebuah organisasi karena hal-hal tersebut biasanya memicu inovasi. Dan ada beberapa orang yang pada dasarnya memang punya imajinasi lebih yang sering melahirkan inovasi. Meskipun begitu, kebanyakan orang tidak terlalu menyukai ide yang terlalu nyeleneh atau baru yang dicetuskan oleh kreativitas para “seniman” ini. Banyak juga pemimpin yang membunuh ide bahkan sebelum ide tersebut selesai disampaikan. Memang sih, kenyataannya banyak gagasan besar kadang terlihat atau terdengar konyol. Hampir semua orang menertawakan gagasan Galileo bahwa bumi itu bulat, para ahli meragukan Wright Brothers yang berusaha terbang, atau orang awam (pada awalnya) menganggap ide Twitter untuk membatasi komunikasi ke dalam 140 karakter itu sia-sia.

Facebook, Seni, dan Inovasi

Aset terbesar dan paling berharga dari sebuah perusahaan adalah sumber daya manusia yang kompeten. Ketika sebuah perusahaan bertumbuh besar, tentu saja salah satu tantangan yang dihadapi adalah menjaga atmosfer internal tim agar tetap positif dan produktif.

Mengenai bagaimana menjaga dan mengembangkan sumber daya manusia ini, saya belajar beberapa hal menarik ketika mendapat kesempatan berkunjung ke kantor Facebook di Menlo Park, California, beberapa hari yang lalu. Sebagai catatan, jumlah karyawan Facebook saat ini mencapai 3000 orang, dan sebagian besar menempati kantor utama di Silicon Valley. Angka tersebut sangatlah besar jika dibandingkan dengan perusahaan teknologi di Indonesia.

Satu hal yang paling menarik dan cukup mengejutkan adalah bahwa perusahaan teknologi ini ternyata sangat mengapresiasi karya seni dari para karyawannya. Terlihat coretan-coretan mural yang indah di beberapa dinding kantor. Beberapa karya cukup menarik dan ekspresif, sementara beberapa lainnya abstrak dan terkesan aneh. Beberapa contohnya seperti ini:

Sebagai perusahaan yang menganut sistem “User Generated Content”, bukan hal yang mengejutkan bila Facebook membebaskan para karyawannya untuk mendekor dan mengisi kantor dengan berbagai karya seni. Di sepanjang dinding di kantor Facebook, kita bisa menemukan tempelan kertas dan coretan yang dibuat oleh karyawan. Setiap karyawan bebas mencoret dan menempel apapun.
Hal semacam ini sangat jarang kita temukan di Indonesia. Biasanya pemimpin perusahaan akan mendikte keputusan seperti dekorasi, tata letak meja, dan membuat peraturan-peraturan menyebalkan seperti tidak boleh makan di ruangan kerja, tidak boleh mengotori dinding, dan tidak-boleh tidak-boleh lainnya.

Pada prinsipnya, orang akan merasa memiliki jika mereka berkontribusi. Semakin besar kontribusi seseorang untuk perusahaannya, semakin besar pula rasa memiliki dan kepedulian orang tersebut bagi perusahaannya. Hal-hal besar dimulai dari hal kecil. Dalam hal ini kita tidak hanya berbicara dalam konteks dan skala pekerjaan saja, tapi juga suasana dan ruang kerja. Pemimpin yang mampu memberikan kepercayaan dan otoritas kepada karyawannya akan mampu memicu kontribusi pada skala yang lebih besar.

Yang lebih mengejutkannya lagi, seorang Mark Zuckerberg, founder dan CEO Facebook tidak memiliki ruangan sendiri. Mark duduk dengan rekan kerjanya di dalam ruangan yang sama seperti karyawan lainnya. Kalau kemarin saya main ke kantor Facebook tidak ditemani oleh teman yang juga karyawan di sana, besar kemungkinan saya tidak bakal percaya, karena tidak ada bedanya meja kerja Mark dengan orang lain. Mark duduk di tengah ruangan, tanpa sekat, di meja yang sama tinggi, sama warna, bahkan lebih kecil dan lebih berantakan dari beberapa meja di sekitarnya. Sayang sekali kami tidak diperbolehkan untuk mengambil foto ruang kerja Facebook. Yang jelas, rasa kagum saya meningkat kepada seorang Mark Zuckerberg yang sederhana dan mudah untuk dijangkau oleh rekan kerjanya.

Saya yakin kebebasan berekspresi bakal jadi insentif yang bagus untuk mendorong suasana kerja menjadi lebih baik. Ketika suasana semakin nyaman dan seru, semangat orang untuk bekerja juga jadi lebih tinggi.

Kreativitas memacu inovasi, dan inovasi melahirkan perubahan yang berdampak besar untuk orang banyak.