Opinion

Menolak Santun

Artikel ini tidak dikhususkan bagi individu tertentu tapi memang dikhususkan bagi pihak-pihak yang mengatasnamakan kesopanan di atas ketidakadilan bagi masyarakat.

“Saya mengkritik kalau eksekutif banyak bicara. Harusnya mereka banyak bekerja. Yang banyak omong itu harusnya LSM dan DPR. Siapa juga yang memperbudak. Dia ngomong  kemana-mana. Ahok sendiri yang ngomong kasar. Kita bangsa berbudaya, budaya itu harus dikedepankan.” – (tribunnews.com)

Coba kita bayangkan sosok Ahok yang santun dan berbudaya sesuai yang ingin Bapak kedepankan. Dengan kasar saja yang digertak masih berkomplot untuk menyerang balik dengan mencari-cari kesalahan (baca kasus pemanggilan istri Ahok atas hak angket). Apalagi dengan santun, yang salah mungkin berani berkoar-koar lebih keras lagi?

Image credit: globalindonesianvoices.com

Waktu saya mengenyam pelajaran sejarah tentang penjajahan di Indonesia, saya heran kok mau masyarakat diperbudak oleh kalangan kompeni yang datang ke negeri ini. Ternyata, mungkin salah satu elemennya karena kita terlalu sopan dan berbudaya untuk berani menegur bangsa asing yang mengeruk kekayaan kita. Betul, Pak?

Baca juga: Saat Bule Lebih Peduli Daripada Pemerintah Sendiri

Memang tugas DPR berbicara atas nama rakyat, tapi seringnya rakyat mengeluh karena pihak yang mewakilinya justru berbicara atas nama kelompok tertentu. Rakyat dibuat seperti komoditas. Lalu, kalau ada satu atau dua figur yang berani blak-blakan mendikte kesalahan pemerintah, menurut Bapak bagaimana perasaan rakyat? Tentu senang. Karena kami harus kritis akan ucapan dan tindakan nanti dijadikan komoditi terus. 

“Harus mulai dengan cara santun, baik, beradab, agar sama-sama enak.” –  (kompas.com)

Kenyamanan bukan yang masyarakat butuhkan. Kalau dalam hirarki Maslow, yang kami butuhkan pertama kali adalah physiological need – kebutuhan akan perut. Kedua, safety need. Nyatanya kebutuhan akan physiological dan safety belum didapat masyarakat, mana mungkin kami merasa butuh kenyamanan dan kesantunan. Yang kami butuhkan adalah figur-figur yang konsisten dalam melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme supaya kebutuhan terendah dalam hirarki Maslow (perut masyarakat) terpenuhi. 

Baca juga: #SaveHajiLulung: Beneran Ngerti Atau Cuma Ikut Nge-Bully?

“Pandangan kami sejauh Pak Ahok sudah on the track. Yang menjadi catatan adalah beliau perlu mengurangi statement-statement yang bisa menyakiti hati orang lain. Dia harus bisa mengayomi dan lebih lembut.” –  (republika.co.id)

Jadi yang harus dijaga perasaannya adalah pihak-pihak penguasa yang dikritik. Lalu, yang jaga perasaan rakyat siapa? Anehnya sekali lagi, kami tidak butuh menjaga dan dijaga perasaannya, yang paling penting adalah semua pemain dalam pemerintahan tahu diri dan bertanggung jawab. 

Kesimpulannya, rakyat sudah memberikan jangka waktu yang sangat lama bagi pemimpin yang sopan santun dan berbudaya tapi tidak memberikan hasil, yang dihasilkan hanyalah pencitraan ini dan itu. Jadi, apa salahnya kalau rakyat lebih menyukai pemimpin yang bicara blak-blakan dan mendikte kesalahan pihak-pihak tertentu atau bisa disebut ngomong banyak bertindak banyak, jangan seperti yang sudah-sudah ngomong banyak tapi tindakan secuil.

“Kalau baik-baik sama semua orang yang mencuri bersama-sama, saya lebih baik dicap tidak sopan.” – Ahok (detik.com)

Baca juga: Tri Rismaharini: Integritas, Konsisten, Peduli

Header image credit: theamericanschoolofprotocol.com