Story

Komunitas Hong, “Bertemu” dengan Yang Tradisional

Ketika gadget menguasai era teknologi saat ini, bahkan hingga di dunia game, miris banget mengingat anak-anak yang harusnya tumbuh dengan kecerdasan motorik individu yang baik malah terhambat dengan games di gadget yang bersifat pasif.

Sedihnya, permainan anak-anak zaman sekarang lebih mengeksplorasi kemampuan individual, sehingga mereka menjadi kurang kreatif, anti sosial, serba mau cepat, dan malas bergerak. Nggak kepikiran kan bahayanya sampai begitu? Kalau udah kecanduan permainan modern yang beberapa di antaranya justru mengenalkan kekerasan, bahayalah sudah. Kita rindu dan butuh mainan tradisional lagi, kawan!

Nampaknya, kerinduan itu juga yang dirasakan oleh pria asal Jawa Barat ini. Dia adalah Mohammad Zaini Alif atau sering disapa Kang Zaini, seorang Dosen Seni Rupa di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang juga merupakan salah seorang pecinta mainan rakyat.

Image credit: rajatourbandung.com

Kang Zaini meneliti tentang seni dan budaya sejak 1996, kemudian pada tahun 2005 dirinya mendirikan komunitas permainan tradisional bernama “Hong” yang secara harfiah berarti “bertemu”. Filosofi di baliknya adalah, saat kita bermain permainan tradisional adalah ketika kita benar-benar bertemu dengan kawan-kawan sepermainan.

Baca juga: Kata Hukum Tentang Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia

Melalui komunitas yang diresmikan tahun 2008 ini, serta dilatarbelakangi penelitiannya mengenai permainan Sunda (Jawa Barat), Kang Zaini berniat bercita-cita untuk menghidupkan kembali berbagai khazanah permainan tradisional Jawa Barat dan Nusantara. Dari inisiatifnya di Komunitas Hong, Kang Zaini mendapat penghargaan sebagai Social Entrepreneur dari British Council 2010 atas upayanya dalam pemberdayaan masyarakat sekitar melalui komunitas tersebut.

Dalam kesehariannya, komunitas Hong mempunyai agenda kegiatan rutin ataupun kegiatan besar. Komunitas Hong sering bermain bersama sehabis pulang sekolah di ladang, sungai, dan jenis permainannya pun berbeda tergantung musim. Sounds exciting, eh? Hal tersebut nggak bakalan kita temukan saat bermain game di gadget!

Dan asiknya, di Komunitas Hong, bermain bukan hanya tentang menjadi lihai dan tangkas. Tapi, kita juga diajarkan untuk tahu apa makna atau filosofi di balik permainan tersebut. Menurut Kang Zaini, mainan tradisional itu dapat membantu membentuk watak anak, terutama melatih jiwa kreatif, inovatif, sosial, berbudi, beriman, dan berbudaya. Lengkaplah pokoknya.

Baca juga: Mengapa Harus Berkomunitas?

Saat ini, sudah ada 250 permainan tradisional dari Sunda yang berhasil dikumpulkan di Komunitas Hong ini. Ada surser, jajangkung (enggrang), keprak (batang bambu yang dibelah salah satu ujungnya menjadi lengkungan, hatong (batang bambu yang disobek dan dilubangi), celempung (bambu yang dilubangi dan dipukul), boy-boyan, dan bebentengan.

Dari sekian banyak mainan yang telah dikumpulkan oleh Komunitas Hong, ada satu yang paling meninggalkan kesan mendalam bagi Kang Zaini, yaitu Kerkeran. Mainan ketangkasan ini adalah sejenis kipas angin, yang terbuat dari dari biji pohon karet dan kluwak yang dipakai sebagai penyangga baling-baling dan terbuat dari bambu. Untuk memainkannya, kita tinggal menarik tali dari tanaman rambat yang sudah tergulung pada peyangga baling-baling. Kenapa namanya Kerkeran? Karena mainan ini mengeluarkan suara “Ker, ker, ker,” saat ditarik.

Komunitas ini masih bernafas hingga sekarang dengan kegiatan besarnya yaitu pembuatan kampung ‘kolecer’ (workshop), tempat melatih mainan dan permainan rakyat yang ada di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Subang. Setiap empat kali dalam sepekan, sekitar 50 orang penggiat Komunitas Hong yang rata-rata masih berusia sekolah, berkumpul untuk bermain bersama dalam sebuah kegiatan yang bernama Buka Leuit (lumbung mainan), upacara hempul, dan hong jaga leuweung (wana wani wano). Kegiatan ini dibuka untuk umum, jadi semuanya bisa dateng kalau mau nostalgia.

Video credit: youtube.com/British Council Indonesia

Dari workshop di Kampung Kolecer inilah, Komunitas Hong bisa memberdayakan para anggotanya dengan mengembangkan wisata hiburan bernama Festival Kolecer, yaitu festival mainan rakyat dengan berbagai upacara adat. Terbukti, permainan tradisional saat dikemas bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

Nah kan, nggak semua “gadget” tradisional itu kuno dan kolot kok! Selain bermain dengan mengasyikkan, kita justru sekaligus mendapatkan ilmu mengenai seluk beluk mainan tradisional dari Jawa Barat dan Nusantara. Asyik, kan?

Baca juga: Komunitas Historia Indonesia, Sejarah Dalam Balutan Modernisme

Header image credit: sosbud.kompasiana.com