Opinion

Trial and Error, Bukanlah Motivasi

Nggak apa-apa salah, namanya juga nyoba,”

Satu kalimat penuh makna ini biasanya kita jumpai sebagai bentuk dukungan atas kegagalan yang kita alami. Percaya atau tidak, jauh lebih mudah menjadi seorang motivator untuk orang lain daripada menjadi motivator untuk diri sendiri. Coba ingat, bagaimana rasanya terpuruk jatuh dan orang lain memberi semangat dan nasihat? Tentu saja, tidak akan semudah itu untuk menerima, bukan? Karena mengiyakan support mereka sama dengan mengakui kegagalan yang kita alami.

Lalu, bagaimana?

Percayalah, tidak ada yang namanya gagal. Kegagalan adalah apa yang sedang kita pikirkan hingga pada akhirnya hal tersebut menjadi doktrin. Pahamilah bahwa, semua hanya soal belum berhasil. Segala sesuatu yang dipandang dari perspektif positif akan memberikan dampak yang positif pula. Jika semua sudah tertanam gagal, gagal, dan gagal maka selamanya kita akan gagal.

Baca juga: Kata Siapa, “Harus Jadi Sarjana Dulu Kalau Mau Sukses” ?

‘Trial and Error’ bukan sebuah motivasi. Jangan pernah mencoba sesuatu yang mengantarkanmu pada kegagalan. Berkaryalah untuk sesuatu yang akan membuatmu semakin berkembang dan tahu bagaimana sebuah karya bisa menjadi baik. Seperti, mengganti doktrin error dengan measure. Lebih manis mana menurutmu, ‘trial and error’ atau ‘trial and measure’?

Penggantian ini bukan hanya sekadar perubahan kata saja, melainkan juga makna. Bukankah, semakin kita tahu akan maknanya, akan semakin baik pula rencana kita ke depan? Jika error mengajarkan kita untuk percaya bahwa setiap hal yang gagal itu wajar, maka measure akan mengajarkan kita bahwa selalu ada yang bisa kita petik dalam setiap kejadian.

Baca juga: Kerdilnya Moralisme Masyarakat dan Bungkamnya Orang-orang Baik

Mencoba, lalu mengukur. Sejauh mana kamu telah berusaha? Apa yang kurang dalam usahamu sampai  pada akhirnya kamu gagal? Bagaimana jika elemen yang hilang kamu tambahkan pada percobaan selanjutnya? Is it works? Jika iya, maka kamu adalah termasuk yang berhasil.

Jika kita telah memiliki mental seperti ini, tidak akan sulit untuk menjadikan diri kita sampai kepada tujuan yang ingin kita capai. Kalian ingat Thomas Alva Edison, bukan? Sang inspirator penemu lampu pjar yang semagatnya tak pernah redup. Tidak hanya 10 kali atau 1000 kali. Beliau, pernah melakukan 10.083 percobaan hingga akhirnya berhasil. Apa yang membedakan kita dengan Beliau? Yes, kegigihannya dan semangatnya yang luar biasa pantang menyerah.

Baca juga: To Earn or Learn

Beliau selalu mencari dimana letak kesalahannya, lalu membenahinya sedikit demi sedikit sampai pada akhirnya kita semua bisa hidup dalam kondisi yang terang tanpa kekurangan cahaya sedikitpun. Coba bayangkan bila pada saat itu, Beliau berpikir bahwa Beliau telah gagal? Selesai sudah. Dunia akan gelap, aku, kamu, kita tidak akan pernah bisa menikmati bagaimana lampu jalan yang menerangi jalanan kita.

Lagi-lagi, doktrin sekitar telah memaksa kita untuk percaya bahwa error itu baik. Sekarang, tergantung bagaimana pribadi kita menyikapinya. Apakah akan tetap teguh pada ‘trial and error’ ataukah beralih pada ‘trial and measure’.