Insight

Susah fokus di satu bidang? Justru itu yang dibutuhkan masa depan

Kamu selalu mencoba hal baru, mempelajari pengetahuan baru, atau melatih kemampuan beragam? Banyak yang menganggap hal ini adalah sesuatu yang buruk. Seharusnya kita bisa fokus pada satu kemampuan saja, karena tanpa fokus kita tidak pernah benar-benar ahli dan dapat diandalkan dalam satu bidang. Banyak sekali pepatah berkonotasi negatif mengenai mereka yang kerap mencoba beragam bidang pekerjaan. “Jack of all traits, master of none,“ “Equipped with knives all over, yet none is sharp,” atau “Nine trades, the tenth one – hunger.” Sepertinya semua orang di dunia setuju bahwa sebaiknya kita mulai fokus mendalami satu bidang saja.

Tipe orang yang memilih mendalami banyak bidang ini pernah sebelumnya kami bahas. Di artikel ini kami menyebut mereka seorang scanner. Julukan untuk para generalis sebenarnya banyak. Philosopher King pada masa Aristoteles, Renaissance person seperti Da Vinci, Gentleman scholar seperti Thomas Jefferson, hingga sebutan yang sekarang digunakan yaitu Polymath dan Modern Polymath.

Berkebalikan dengan pemahaman kebanyakan orang, menjadi Polymath justru bisa membuat seseorang mampu mengeluarkan gagasan yang di luar ranah pikir para spesialis. Kenapa? Karena mereka memposisikan diri mereka sebagai integrator ide, dan bisa mengambil sudut pandang lebih dari satu spesialis. Charles Darwin membutuhkan pola pikir ahli geologi, alam, dan biologi kelautan untuk bisa mengembangkan teori-teorinya. Elon Musk menjadi seorang fisikawan, insinyur, desainer dan teori manufaktur untuk mendirikan kerajaan bisnisnya. Dan yang paling terkenal adalah Steve Jobs yang menggabungkan hardware dan software komputer dengan desain, menjadikan apple salah satu perusahaan terbesar abad ini.

Seorang Polymath mampu memiliki kompetensi tiga atau lebih bidang tanpa menjadi ahli dari ketiganya namun dapat mengembangkannya menjadi kemampuan yang unik baginya. Meskipun ketertarikan seseorang pada beragam bidang banyak ditentang, namun sekarang justru adalah masa yang tepat untuk menjadi Polymath. Berikut beberapa alasannya.

Tidak perlu jadi paling ahli, kombinasi dua kemampuan bisa membuat kamu cukup unik.

Ada dua jalan yang bisa kita pilih jika ingin menjadi luar biasa.

  1. Pilih satu bidang dan jadi yang 1% yang terbaik di bidang tersebut.
  2. Jadi salah satu yang terbaik (25% teratas) di dua bidang atau lebih.

Pilihan satu sangat sulit diraih. Hanya ada beberapa posisi setiap minggunya di top chart billboard, ada kurang dari 10 tim sepakbola terbaik di dunia, dan setiap tim hanya punya tempat untuk belasan orang. Pilihan kedua sedikit lebih masuk akal. Kamu yang memiliki selera humor cukup dan bisa menggambar ilustrasi cukup bisa memilih menjadi komikus. Kamu yang bisa menulis cerita dan mengambil gambar video bisa menjadi pembuat film.

Hampir semua terobosan kreatif lahir dari kombinasi unik beberapa kemampuan.

Riset yang dilakukan Brian Uzzi, seorang profesor di Northwestern University Kelogg school of Management, menganalisis lebih dari 26 juta skripsi dan tesis sejak ratusan tahun lalu menunjukkan bahwa makalah yang berdampak besar lahir dari tim multidisiplin. Ini menunjukkan bahwa mereka yang secara inheren memiliki kemampuan multidisiplin berkesempatan untuk melahirkan terobosan kreatif tanpa harus bekerjasama dengan terlalu banyak pihak. Bayangkan jika sebuah tim berisi beberapa Polymath! Jumlah pemikiran yang hadir bisa datang dari banyak sekali bidang.

Mempelajari beragam kemampuan menjadi lebih mudah di era internet.

Update hasil riset dan ilmu pengetahuan sangat cepat dan mudah di akses. Dengan kemampuan menyaring yang baik, pelajaran yang didapat dari internet menjadi sangat bisa diandalkan. Selain itu, konten ini juga menjadi sangat terjangkau. Tidak pernah kita membayangkan sebelumnya kita bisa mengikuti kelas dengan sutradara atau astronot ternama sebagai pematerinya. Tentu saja kita melihat rekaman secara online, namun teknologi memungkinkan kita untuk menontonnya dalam resolusi 4K hingga pengalaman belajar bisa nyaris serupa dengan tatap muka. Salah satu kisah yang terkenal adalah seorang bocah berumur 12 tahun yang mempelajari tarian dubstep dalam hitungan bulan. Sebelum era YouTube, mungkin ia bahkan tidak tahu apa itu tarian dubstep, dan pun dia tahu, tidak ada seorang guru atau kelas yang bisa ia ikuti di tempat tinggalnya. Ia bukan satu-satunya. Seorang bocah berumur 13 tahun mampu membuat game yang mencapai top 100 apps, dan bocah lainnya yang masih berumur 11 tahun berhasil menyanyikan lagu-lagu opera berteknik tinggi. Semuanya berkat YouTube!

Sekarang kita tahu seberapa terbukanya peluang menjadi Polymath di era ini, satu hal yang masih harus kita jawab. Apa yang membuat seorang mampu mempelajari banyak disiplin ilmu?

Tentu jawabannya tidak mudah. Karena kemampuan belajar manusia tidak semuanya sama, dan banyak juga di antara kita yang justru terfokus dalam satu hal saja. Namun satu yang menjadi kunci mendasar adalah seperti apa mental model kita.

Mental model adalah cara kita melihat beragam hal di dunia. Mental model menjadi sangat penting karena berlaku seperti lensa untuk pikiran kita. Dengan mental model yang tepat kita bisa mempelajari jauh lebih sedikit dan mendapatkan jauh lebih banyak. Memiliki mental model yang tepat tidak akan membuat kita jadi manusia paling tahu, namun bisa memberikan kita nilai utama dibalik banyak hal tanpa harus menghabiskan banyak waktu. Contoh mental model yang penting adalah 80/20 rule, yang pada dasarnya menyatakan bahwa terdapat 20 persen bagian kehidupan yang lebih memberikan dampak daripada 80 persen sisanya. Dengan memahami satu mental model ini saja, kita bisa mulai mencari 20 persen yang terpenting dari seluruh hal di hidup kita baik itu pekerjaan, hubungan, hingga hiburan.

Untuk menjadi Polymath, kita bisa mulai mendalami mental model yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan, dan bisa terus mempelajari hal-hal baru yang berdampak lebih pada perkembangan diri kita maupun karya kita.

 

Referensi: Michael Simmons on Medium