Insight

Startup 101: Strategi Agar Startup Lo Bisa Bersaing dengan Perusahaan Konvensional

Untuk lo yang berjiwa inovator dan ingin bikin startup, pernah enggak sih takut bersaing sama perusahaan konvensional yang lebih besar? Tapi apa bener dilema itu cuma akan dimenangin sama perusahaan konvensional yang udah mapan aja?

Clayton Christensen dari Harvard Business School mengemukakan konsep yang namanya “Innovator’s Dilemma” Konsep ini membahas situasi di mana ada perusahaan konvensional yang sudah mapan, berusaha untuk melakukan peningkatan terhadap produk mereka agar lebih berkelanjutan, atau sederhananya: agar bisa menguasai pasar anak millennials. Namun, perusahaan konvensional itu dihadapkan dengan para inovator yang kerap mengganggu pasar mereka.

Hal yang dianggap gangguan itu sebenarnya hanya menyerang sebagian kecil dari bisnis mereka dengan margin yang biasanya sangat rendah. Pada titik ini, biasanya perusahaan konvensional itu memutuskan untuk tidak bersaing dalam bisnis tersebut karena takut akan mengorbankan bisnis utama mereka.

Akibatnya, pendatang baru alias para inovator kemudian dapat menangkap pangsa pasar yang signifikan di segmen tertentu.

Misalnya cerita Jeff Bezos si pendiri sekaligus CEO Amazon. Pada 1995, Bezos memutuskan untuk menjual buku secara online. Saat itu, penjual buku terbesar di Amerika Serikat adalah Barnes and Noble dan Borders. Bezos memahami bahwa ia dapat mengganggu industri buku karena memanfaatkan internet sebagai saluran distribusi yang baru.

Amazon diluncurkan dan tumbuh secara eksponensial. Sedangkan Borders butuh tiga tahun untuk meluncurkan situs web mereka. Pada tahun 2001, Borders memutuskan untuk membiarkan Amazon menjalankan situs webnya untuk mereka. Karena mereka berpikir tidak terlalu banyak orang membeli di internet dan mereka lebih memilih untuk menginvestasikan sumber dayanya ke dalam bisnis utama mereka yaitu toko buku ritel. Tapi kenyataannya, pada 16 Februari 2011 Borders mengalami kebangkrutan.

Contoh lainnya yang relevan seperti startup Netflix: bioskop, Go-jek: ojek konvensional, Zynga: Gaming Company, AirBnB: Chains Hotel, dan Box: Sharepoint. Ada alasan mengapa begitu banyak startup yang dapat menggunakan konsep-konsep dari innovator’s dilemma. Internet menyediakan platform luar biasa untuk membangun produk yang “mengganggu” industri konvensional serta membuat dan memanfaatkan saluran distribusi yang baru.

Menurut Christensen ada empat hal yang perlu diingat tentang innovator’s dilemma

  1. Pahami apa industri konvensional yang lo “ganggu”. Apakah yang lo buat merupakan produk baru, cara baru, atau cara baru dalam pendistribusian produk? Menurut Christensen, ini akan membantu kita untuk memahami apakah inovasi lo benar-benar mengganggu pasar atau hanya membangun produk tambahan.
  2. Perhatikan peluang di saluran distribusi baru. Misalnya inovasi terbesar yang dilakukan Zynga dengan cara mengambil keuntungan dari Facebook sebagai saluran distribusinya sebelum perusahaan game konvensional lain mengenal Facebook.
  3. Mulailah pemasaran ke customer perusahaan konvensional yang sudah mapan. Tetapi, pilih customer yang memiliki memiliki ketertarikan terendah terhadap perusahaan besar itu. Jangan menargetkan ke customer yang sudah loyal karena, menurut Christensen, mereka justru akan menghancurkan bisnis lo.
  4. Ingat tiga hal di atas ketika perusahaan lo sudah berada di puncak.

Menurut Christensen, karena startup biasanya beroperasi di lingkungan sumber daya yang terbatas, maka perlu membuat strategi agar dapat bersaing dengan pemain lama yang kuat. Kesimpulannya, Konsep innovator’s dilemma hanya salah satu alat untuk memahami masalah, namun untuk menyelesaikannya, lo perlu terjun langsung dan menemukannya sendiri! Good luck!