Featured

Sekuel Filosofi Kopi: Ben & Jody, Mengajak Masyarakat untuk Berkolaborasi (1)

Intinya sebenernya adalah dari story, karena itu yang utama dan dari situ kita bisa mengembangkannya menjadi sebuah engagement. — Handoko Hendroyono

Seperti yang sudah kita tau, Filosofi Kopi karya sutradara muda Angga Dwimas Sasongko berhasil menembus Box Office Indonesia dalam waktu 12 hari penayangan. FilKop pun rencana akan dibuat sekuelnya lho! Tapi ada yang beda nih di sekuel ini, sang produser Handoko Hendroyono mengumumkan kalo mereka memberi kesempatan kepada masyarakat untuk kasih ide cerita film ini. Nggak cuman itu, dari film ini dibuat juga kedai kopi, merchandise yang semuanya adalah hasil kolaborasi tim FilKop! Nyah.

Di Popcon Asia 2015, Ziliun sempat berbincang dengan Handoko Hendroyono. Kayak gimana sih kolaborasi yang dimaksud? Simak ya!

ziliun_filosofikopi2
Image credit: dok. Ziliun

Baca juga: Infografik: Perjalanan Industri Film Indonesia

Ziliun melihat FilKop itu berani banget, kayak misalnya dari awal udah merencanakan turunan IP yang banyak juga. Kenapa sih FilKop bisa berani banget, bahkan sampe mikirin kedepannya akan dikembangkan seperti apa?

Seperti yang kita tahu, jaman sekarang adalah jaman IP, dimana kita bisa ngembangin segala sesuatunya, istilah kita adalah bisa di-monetize. Nah, itu jadi disiplin kita, yaitu gimana monetize konten yang kita punya. Jadi kita kan udah punya crowd-nya tuh, punya konten yang bagus, nah disini kita bisa maksimalin. Tentunya tanpa publik merasa ada jarak, publik bener-bener kayak memiliki karena kita punya konten yang sama. Ini adalah prinsip membangun konten di jaman sekarang ini.

Jadi, tadi kan sempet nyebut crowdsourcing ya. Dulu sebelum film pertama memang ada crowdsourcing ide, nanti di sekuel juga bakal ada?

Iya, otomatis. Kita memang mengajak publik untuk berkreasi mulai dari ceritanya sendiri, dari animasinya, juga yang lain. Dan kalau dilihat, saat ini kita mulai merintis untuk bikin produk merchandise. Kita mengajak temen-temen untuk berkolaborasi, entah dari kulit, dari kayu, dari kanvas, segala macem. Jadi dalam format yang kecil, kita ingin memasyarakatkan ekonomi kreatif, karena pondasinya kita begitu banyak. Intinya sebenernya adalah dari story, karena itu yang utama dan dari situ kita bisa mengembangkannya menjadi sebuah engagment, kurang lebih gitu.

Baca juga: Chicken-and-egg Dilemma di Perfilman Kita

Kalau ngomongin kolaborasi dalam tim, di FilKop sendiri gimana pembagian perannya?

Yang menarik dari FilKop ini kalo ngomongin kolaborasinya itu sangat indah ya, karena masing-masing contribute. Kita nggak memandang harus dari sini harus dari sana, tapi saya punya ide ini, kamu punya ide begitu. Bisa dari Rio Dewanto, bisa dari Chicco Jerikho, bisa juga dari yang lain. Dan itu terjadi dengan cara kita saling berdiskusi, seperti kita tau kan kita ada kedainya, kita sering ketemu. Kalo ngomong siapa yang berkontribusi dan bagaimana, yang paling efektif  justru pada waktu kita nggak terlalu serius. Waktu kita nongkrong-nongkrong, tiba-tiba ada ide wah ini diginiin aja, itu digituin aja. Ini bisa terjadi di tim ini karena rasa memiliki kita juga cukup besar dari tim. Jangan lupa ada Glenn Fredly juga yang men-direct dan berkontribusi cukup besar.

Jadi sekuel ini, pemain-pemain lama akan dipertahankan?

Hanya dari Ben dan Jody saja. Bakal banyak tokoh baru, seperti yang dibilang tadi, gondrong-gondrongnya, cewek-ceweknya akan lebih banyak. Tapi hanya Ben dan Jody yang sama, makanya kita kasih judul Ben dan Jody.

Baca juga: Bangkitkan Kreativitas, Bangkitkan Film Indonesia!

Image header credit: grapplergourmet.com