Story

Sarjana Pecundang dan Mimpi-mimpinya (1)

Tak berlebihan rasanya bila kalian menyematkan gelar S.Pc di belakang nama saya. Pantas memang saya menyandang Sarjana Pecundang untuk segala hal yang saya jalani hingga detik ini. Lulus kuliah dari Perguruan Tinggi yang membawa nama besar negara ini. Tak sekedar lulus, cumlaude pun menghiasi selembar kertas bernama ijazah yang diagung-agungkan itu.

Saya menghabiskan lima setengah tahun lamanya makan bangku kuliahan. Tiga tahun untuk jenjang diploma, dan dua setengah tahun menjalani program ekstensi untuk meraih gelar Sarjana. Secara kuantitas waktu, saya membuang satu setengah tahun lebih lama dibandingkan teman-teman yang bisa meraih gelar Sarjananya dalam waktu empat tahun saja.

Saya tidak pernah menyesal dengan apa yang saya jalani. Bagi saya, itu adalah perjalanan hidup yang membentuk saya. Hingga akhirnya saya bertemu dengan titik perjalanan yang begitu berat.

Semua berawal dari apa yang saya jalani sejak lulus SMA pada tahun 2007 lalu. Saya bersama seorang teman saya menggerakkan sebuah komunitas kecil yang bergerak di bidang pendidikan. Ini dimulai dari rasa prihatin saya kepada mereka yang tak punya kesempatan untuk mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah karena keterbatasan biaya.

Baca juga: Manusia Pelacur

Saya merasa ada ketidakadilan bila hanya orang berduit saja yang anaknya bisa les. Untuk itulah komunitas belajar itu lahir. Meskipun tak pernah menjadi wanita yang melahirkan, bisa digambarkan betapa senangnya mengandung, melahirkan, hingga mengiringi pertumbuhan komunitas belajar ini bersama teman-teman saya.

Semuanya tampak indah. Melihat orang-orang bertumbuh di dalamnya. Saya selalu percaya dengan kekuatan setia pada proses. Saya terlalu yakin, segalanya akan berbuah manis nantinya.

Sebagai sarjana, saya lebih senang bila orang-orang mengenal saya sebagai entrepreneur. Namun, tidak demikian dengan kedua orangtua saya yang sama sekali tak berlatar belakang wirausaha. Bagi mereka, bekerja di perusahaan ternama lebih membanggakan ketimbang mengurus sebuah komunitas belajar.

Baca juga: Membangun Startup: Sakitnya Tuh di Sini!

Saya tak pernah menyalahkan orangtua saya. Bagi saya, mereka sudah sangat banyak mendukung gerakan ini. Mereka memberikan ruang tamu rumah yang berukuran 3×4 m yang saya sulap menjadi ruang belajar pada siang hari dan malam harinya telah berubah kembali menjadi ruang tamu. Begitulah setiap harinya selama dua tahun awal komunitas belajar ini berdiri. Mereka dengan setia mengiringi saya.

Bagi saya, komunitas belajar ini bagaikan buah hati saya. Saya bahagia menyapa setiap tumbuhnya. Saya bahagia di tengah kondisi yang serba terbatas. Justru, di sana saya belajar untuk mendobrak keterbatasan. Saya tak pernah menyalahkan keadaan. Hingga akhirnya keadaanlah yang justru menyalahkan keberadaan saya.

Keadaan itu bernama usia. Atas nama usia, mimpi saya harus terusik. Atas nama usia, saya seperti didesak untuk membuat buah hati saya yang baru berusia delapan tahun ini untuk segera berlayar di saat layarnya masih belum terkembang sempurna. Dan atas nama usia, saya merasa didesak untuk berpisah dengan buah hati saya.

Baca juga: Sarjana Pecundang dan Mimpi-mimpinya (2)

Header image credit: 7-themes.com