Opinion

Salah Jurusan, Salah Siapa? (1)

Apakah lo semua sudah menjajaki dunia perkuliahan? Bagi yang sudah, selamat, lo datang di dunia pembelajaran yang sesungguhnya, dimana belajar tidak lagi disiapkan dan diajarkan dengan rapih. Ilmu yang lo mau dapat harus diusahakan sendiri untuk dicari karena sebenarnya kita memang dituntut untuk itu. Mencari dan bereksplorasi dengan diri kita sendiri. Buat survive di dunia perkuliahan, ngga bisa dipungkiri niat adalah hal yang utama. Bahasa kerennya sih, you get what you deserve. Kalo lo mau usaha lebih, ilmu yang lo dapet akan lebih banyak dan beragam. Mulai dari ilmu berorganisasi, bidang yang kita tekuni, atau malah ilmu yang berkaitan dengan hidup.

Tapi, nyadar ngga sih? Untuk menghadirkan niat pada bidang yang kita ambil, diperlukan keinginan yang besar didalamnya. Nah disini masalah mulai muncul. Semasa perkuliahan, gue sering banget ketemu orang – orang yang mempermasalahkan jurusan yang telah dipilihnya. Beragam deh, mulai dari ga srek sama mata kuliahnya, ngga sesuai passionnya lah, ngga ada hitung – hitungannya lah, terlalu banyak menghafal, dan segudang keluhan lainnya yang membuat kuping gue pengang. Anehnya lagi, biasanya, mahasiswa – mahasiswa ini berumunculan saat mereka sudah ditengah jalan menuju kelulusan. Yaa semester – semester tanggung lah, kira – kira sekitar 4 – 5, walaupun ada juga yang sudah sadar sejak semester awal.

Karena merasa tanggung itulah mereka merasa mubazir untuk pindah dan akhirnya melanjutkan masa perkuliahannya hingga wisuda. Padahal, menurut gue, kalau mereka melanjutkan dengan niat yang setengah – setengah ilmu yang didapat malah bisa ga sampai setengahnya, bisa jadi lupa semua pas diwisuda. Efeknya? Tentu aja sulit banget bersaing didunia kerja. Banyak loh lulusan yang melenceng dari bidangnya. Memilih pekerjaan yang sebenernya jauh banget dari jurusan yang mereka pilih saat masa perkuliahan.

Baca juga: Salah Jurusan itu Bullshit!

“Kalau lo merasa ga sesuai, kenapa malah dipilih?”

Dilema, kenapa gue bilang dilema? Jujur aja, gue sendiri dulu sempat bingung untuk memilih jurusan yang gue masuki. Selain pilihannya banyak, tentu aja harus sesuai minat dan nilai, iya ngga sih? Ada yg diminat, eh gradenya ketinggian. Sekalinya pas, jurusannya jauh banget dari harapan. Bukan cuma karena nilai dan embel – embelnya, tapi kata ‘gengsi’ masih menjadi pengaruh terbesar seseorang dalam memilih jurusan.

God, seriously, Cuma karena jurusan itu ada di universitas ternama dan terkenal, bukan berarti berbagai pertimbangan menjadi di anak tirikan. Paling ngga pikir dulu lah baik buruknya jika mengambil jurusan di universitas tersebut, mulai dari srek di hati apa ngga, banyak diperlukan di ranah kerja Indonesia apa ngga, dan pertimbangan baik buruk lainnya. Iya emang sih universitasnya bagus, terkenal, dan bisa dibilang high class, tapi bukan berarti memastikan universitas tersebut menjamin mahasiswanya mendapat sebuah pencapaian yang gemilang. Be mature lah guys, kalau niat dan cinta, yang namanya keberhasilan pasti nempel kok.

Baca juga: Kenapa Hanya Ada Hukuman? Perlukah White Court?

Selain yang gue sebutkan di atas, ada juga orang – orang yang salah jurusan karena kurangnya pengetahuan tentang jurusan tersebut. Semacam tebak – tebak buah manggis gitu, dipikirnya enak eh gataunya melenceng jauh banget. Mungkin karena dipikirnya yang penting dapat universitas ternama, jurusan yg di pilih bisa jadi opsional. Absurd banget emang, namun kenyataannya ada aja yang begitu.

Tapi yang paling penting itu jurusan bener – bener lo mau apa ngga? Catet dan pikirin dalam – dalam nih kata – kata.

Baca juga: Kenapa Kita Belajar Sejarah?

Image header credit: picjumbo.com