Story

Mencari Tambal Ban dan Bengkel Terdekat Sekarang Bisa Lewat Aplikasi

Pernah mogok atau mengalami kebocoran ban di tengah jalan? Apa yang kalian lakukan? Mendorong kendaraan sampai ke bengkel terdekat? Menelepon montir atau tukang tambal ban langganan?

Sebuah startup dari Surabaya yang merupakan finalis Startup Sprint, Banku, berusaha menyelesaikan masalah di atas dengan teknologi. Startup yang digawangi oleh Faza Abadi sebagai CEO ini merupakan aplikasi mobile yang menyediakan informasi tentang lokasi dan kontak tambal ban, bengkel, hingga kantor polisi terdekat untuk berjaga-jaga jika pengguna mengalami musibah di jalan.

Faza Abadi selaku CEO memang memiliki keinginan membuat startup sejak di awal bangku perkuliahan. Ia sering membaca tentang kisah para founder seperti Larry Page dan Sergey Brin, Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan lain-lain. Dari kisah yang ia baca, ia menyimpulkan bahwa para founder tersebut tidak memulai startup dengan tujuan mendapatkan uang, tetapi justru untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Dari situ ia berpikir bahwa dalam membuat startup, ia harus mulai dari suatu problem, apalagi di Indonesia yang notabene merupakan negara berkembang ada banyak masalah yang belum terselesaikan.

Dalam memulai Banku, Faza pun memulai dari suatu permasalahan bahwa di Indonesia, jumlah kendaraan bermotor sangatlah banyak, dan jumlahnya hampir separuh jumlah penduduk. Pemilik kendaraan bermotor kerap mengalami permasalahan seperti kesulitan mencari bengkel dan tambal ban yang bagus. Hal ini juga berdasarkan pengalaman pribadi co-founder-nya, Dwi Karya Maha Putra, yang sering mengalami ban bocor dalam perjalanan menuju kampus, sehingga terlambat mengikuti perkuliahan karena sulit mencari tambal ban atau bengkel.

Baca juga: Kalau Kehilangan Barang, Pergilah ke Bantutemuin

Aplikasi Banku yang bertujuan untuk membantu pemilik kendaraan, menurut Faza, akan mempertemukan pemilik kendaraan dengan jasa-jasa terkait seperti bengkel dan tambal ban.

Banku mulai dikembangkan sekitar dua bulan yang lalu oleh Faza dan dua orang temannya, Ian Firdaus dan Putra. Hebatnya, mereka hanya bertemu setiap weekend di Surabaya, karena di hari kerja, Faza harus berkuliah di Malang. Ian Firdaus dan Putra juga masih berstatus mahasiswa, sehingga akhir pekan benar-benar mereka manfaatkan untuk mengambangkan Banku.

“Tiap akhir pekan, saya harus bolak balik Malang – Surabaya. Kurang lebih 90 km harus saya tempuh untuk ke Surabaya, jadi total jarak bolak-balik 180 km. Tapi, jarak tidak jadi permasalahan, karena yang penting niat dan semangatnya. Alhamdulillah jadi juga, meskipun startup-nya masih perlu banyak perbaikan,” kata Faza.

Baca juga: Belajar Bikin Startup dari Cerita Superhero

Kesulitan menemukan waktu yang cocok untuk bekerja sama juga diungkapkan oleh Putra, “Tentunya sulit mencari waktu untuk bisa bekerja sama, karena kami berasal dari kampus yang berbeda – beda, sehingga masing-masing dari kami memiliki jadwal mata kuliah yang berbeda-beda juga. Akhirnya kami memutuskan untuk meluangkan waktu pada hari Jumat-Minggu untuk bisa bertemu dan bekerja sama.”

Para co-founder Banku sendiri sebelumnya sudah familiar dengan entrepreneurship dan teknologi. Faza sempat membuka usaha kuliner, yang berselang tiga bulan sejak didirikan langsung ditutup. Alasannya karena produk yang dijual tidak laku. Beberapa bulan kemudian, ia mencoba membuat startup, Wizkul.com, yang menyediakan fitur reservasi restoran dan delivery service. Namun, karena visi awal membuat startup ini hanya untuk kompetisi, setelah kompetisi para anggota tim kurang berkomitmen untuk melanjutkan, sehingga terpaksa bubar.

Sementara Putra, sejak dulu memang ingin membuat startup, dan baru saat bertemu teman-teman di Banku lah ia menemukan rekan sevisi untuk membuat startup bersama. Putra sendiri pernah memenangkan kompetisi game di Lomba Cipta Elektronik Nasional (LCEN) dan INAICTA.

Baca juga: Foodsessive.com, Inisiatif Anak Muda Surabaya untuk Membantu Pengusaha Kuliner

Pengalaman dalam berbisnis dan mengikuti kompetisi telah membekali mereka dengan pola pikir yang tepat.

Mindset yang paling penting dan harus dimiliki untuk berhasil adalah komitmen dalam suatu hal /projek, bukan hanya terlibat di dalamnya,” tutup Putra.