Opinion

Masih Adakah Random Kindness di Zaman Modern Ini?

Kalian tahu dong, biasa sebelum masuk ke airport itu kita harus masukin barang-barang ke alat pendeteksi dulu. Kemarin ini sewaktu mau check in di Cengkareng saya ngeliat ada seorang ibu yang kesulitan ngangkat kopernya ke alat pendeteksi karena terlalu berat. Melihat keadaan itu otomatis saya langsung bantu angkat kopernya supaya bisa masuk ke alat pendeteksi, lalu sewaktu keluar saya angkat lagi.

Si ibu kayaknya sedikit bingung. Mungkin dipikir saya mau nyolong kopernya ya? (ya kali nyolong koper di airport..mau digebukin petugas?). Tapi abis itu dia sadar dan langsung terima kasih berkali-kali begitu tahu saya bukan berniat jahat. Dari gelagatnya keliatan banget kalo dia kaget, kesannya kayak itu sesuatu hal yang aneh banget. Dari situ saya jadi mikir, apakah yang namanya perbuatan baik tanpa imbalan itu memang sudah langka sekali ya di jaman sekarang ini?

Untuk sedikit latar belakang – saya ini sekarang berdomisili di Amerika Serikat, dan sudah tinggal disini sekitar 14 tahun. Banyak yang mengira kalau orang-orang disini tuh sifatnya individualistis. Tetapi yang saya rasakan justru sebaliknya. Orang-orangnya banyak yang sekali murah tangan. Mereka biasanya otomatis membukakan kita pintu masuk ke gedung jika melihat tangan kita penuh misalnya. Sewaktu di bis, kereta, atau kendaraan umum lainnya, biasa yang lebih muda otomatis langsung berdiri buat ngasih tempat duduk ke manula atau ibu yang sedang hamil. Atau misalkan ada yang kesulitan menaikkan barang ke kabin pesawat, pasti ada yang langsung menawarkan bantuan.

Beda banget pengalaman pas saya di Jakarta. Pas saya ngeliat ada orang yang keberatan masukin barang ke alat pendeteksi di airport, boro-boro ada yang nawarin bantuan. Yang ada orang-orang main serobot aja dulu-duluan masukin barang. Sewaktu boarding pesawat juga orang-orang langsung rebutan duduk ke tempatnya. Kalau ngeliat ada yang kesulitan naikin koper ke kabin malah ngedumel karena memblokir lorong. Pernah juga saya hampir kegampar pintu gara-gara orang depan nggak menahan pintu sewaktu saya mengikuti dibelakang nya. Pas giliran saya bukain pintu buat orang masuk, dianya langsung ngelengos aja sambil jalan terburu-buru (ya mungkin emang lagi telat juga kali ya.. Saya sih berpikir positif aja).

Sepertinya orang-orang di Jakarta itu selalu terburu-buru menuju ke tempat tujuan, tanpa perduli lagi keadaan sekitar nya. Sedikit nggak biasa juga sih, secara saya juga nggak sering-sering amat pulang ke Indonesia. Lumayan culture shock juga.

Kemarin ini saya baca buku komik yang isinya tentang sindiran-sindiran. Salah satunya terlihat seperti berikut ini:

Untitled drawing

Jadi ceritanya sewaktu jaman perjuangan dulu, orang sudah biasa menempuh perjalanan jarak jauh dengan berjalan kaki berminggu-minggu sebelum sampai di tujuan. Penduduk setempat biasanya menaruh air atau makanan di depan rumah nya dan siapapun yang lewat boleh menikmati. Ini ditujukan untuk meringankan beban orang-orang yang menempuh perjalanan jauh seperti ini.

Dari kecil kan kita diajarin untuk gotong royong, kerja sama, dan kolaborasi. Apakah kebiasan-kebiasaan ini hanya masih lazim dilakukan di daerah-daerah saja? Bagaimana dengan orang-orang yang tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta? Apakah masih menganut dasar UUD? (Ujung Ujungnya Duit) Semua harus ada imbalannya? Nah mari kita simak penggalan komik berikut ini:

ilus2

Masih dari jaman yang sama, disini dijelaskan kalau penduduk lokal dulu akan menawarkan tempat menginap kepada orang asing yang sedang menempuh perjalanan jauh. Bisa bayangin ini kejadian di jaman sekarang? Saya sih enggak. Yang ada takut rumahnya dirampok atau lebih serem lagi dibunuh. Pertanyaan nya kenapa justru dengan jaman yang semakin menjadi modern, nilai-nilai ini jadi semakin pudar?

Ayo kita coba buktikan bahwa di jaman modern ini perbuatan saling membantu tanpa mengharapkan balasan itu masih ada!


Penulis adalah salah satu Top Kontributor Google, dimana sehari-harinya meluangkan waktu secara sukarela untuk membantu pengguna produk Google sewaktu mengalami masalah. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang programnya, bisa dibaca di tautan berikut ini: https://topcontributor.withgoogle.com/

Jika ingin bertanya seputar program Top Kontributor, penulis bisa dihubungi langsung di profil Google+. Penulis bukanlah pegawai Google