Story

Life Lesson dari Kisah ‘Super’ Kebangkitan Marvel

Sekarang, para penikmat film terutama penggemar Marvel sedang bersenang hati dan berusaha untuk cepet-cepetan beli tiket nonton Spider-Man: Far From Home. Bagaimana tidak,  film ini disebut-sebut menjadi pembuka Marvel Cinematic Universe Phase berikutnya dari studio yang menguasai perfilman di genre superhero. Begitu hebatnya, Marvel Studio bahkan sudah mengantongi keuntungan lebih dari 21,5 Miliar US Dollar di Global Box Office! 

Setiap nonton kisah pahlawan super, rasanya kurang afdal kalau belum ada momen terendah pahlawan kita. Saat si pahlawan sudah babak belur dan hampir putus asa, sementara si penjahat super sudah tersenyum licik untuk menghabisinya. Walau begitu, sang pahlawan menolak untuk menyerah dan terus berjuang hingga akhirnya… menang! Begitu pula yang pernah dilalui oleh Marvel, dan momen terendah itu dimulai pada tahun 1996.

Musim dingin tahun 1996, Marvel mengalami penurunan performa ketika minat pembeli terhadap komik menurun drastis. Selama 30 tahun, Marvel berhasil membuat tren dan membuat publik percaya bahwa komik adalah barang yang collectible bernilai tinggi. Para kolektor berlomba untuk memburu dan melengkapi komik dengan harapan dapat menjual kembali dengan harga yang menguntungkan, hasilnya, banyak toko komik yang dibuka. Ketika para kolektor berusaha untuk menjual koleksinya, rupanya tidak ada yang berminat karena hampir setiap orang sudah memiliki komik yang sama.

Marvel terlilit hutang, nilai saham terjun bebas, dan akhirnya terancam bangkrut. Sebagai usaha agar tidak benar-benar mati, Marvel menjual hak kepemilikan berbagai franchise, contohnya X-Men dibeli oleh Century Fox dan Spider-Man dibeli oleh Sony Pictures. Film-film tersebut akhirnya menghasilkan banyak uang ke berbagai pihak, kecuali Marvel, yang hanya bisa mengantongi sebagian kecil keuntungan. 

Pada tahun 2003, David Maisel mengusulkan cara untuk dapat mendapatkan hak 100% dari karakter yang mereka miliki, dengan cara membuat studio independen, memproduksi sendiri film, dan menikmati hasilnya tanpa harus dibagi. Sebuah konsep yang menarik, namun tentunya membutuhkan dana yang besar dan beresiko tinggi. Dengan segenap tekad, Marvel akhirnya membuat persetujuan dengan bank yang bernama Merill Lynch dengan mempertaruhkan hak milik 10 karakternya, salah satunya adalah Captain America. Kebayang, dong, kalau waktu itu Marvel gagal, kita gak akan pernah bisa menyaksikan aksi Chris Evans sebagai kapten yang membeku selama 70 tahun. 

Pilihan untuk membuat film perdana Marvel akhirnya jatuh kepada Iron Man yang dirilis pada tahun 2008. Namun,  tokoh tersebut tidak termasuk di dalam perjanjian, sehingga Marvel harus memproduksi film Iron Man dengan dana sendiri. Untungnya, Marvel berhasil mendapat keuntungan mencapai 500 juta US Dollar dan melahirkan Marvel Cinematic Universe

Setelah mengetahui ceritanya, gue sangat terpukau dengan segala usaha Marvel agar bisa bertahan, bahkan bisa jadi franchise yang paling berpengaruh dan dicintai oleh banyak kalangan. 

Terus, apa yang bisa kita pelajari dari kisah super Marvel?

Kita butuh waktu

Gak ada yang instan, apalagi untuk bangkit dari keterpurukan! Marvel membutuhkan waktu hingga 12 tahun untuk bisa kembali berjaya. Selama itu, tim Marvel juga gak cuma diam di kamar sambil berdoa atau nyalah-nyalahin keadaan, tapi terus berusaha. Hal ini membawa gue ke poin berikutnya.

Terima kesalahan yang kita buat dan move on!

Marvel ngerti kalau kesalahan utama mereka justru adalah bagian dari identitas perusahaan mereka sendiri, yaitu terlalu banyak nerbitin komik. Mereka gak buang-buang waktu buat nyalahin orang-orang yang ninggalin komik, dan muter otak buat bertahan. Hingga akhirnya, mereka memilih jalan keluar dengan membawa karya mereka ke media lain, yaitu film, walaupun harus rela diambil alih oleh pihak lain.

Jangan terlalu keras kepala mempertahankan milik kita

Selama beberapa tahun, Marvel harus rela melihat karakter-karakter hasil karya mereka harus diambil alih kepemilikannya dan memberikan keuntungan untuk orang lain. Tapi hal itu memang harus dilakukan demi menunjang keuangan perusahaan. Marvel bersabar dan membuat keputusan-keputusan yang bijak hingga akhirnya bisa kembali mengklaim hak milik karakter-karakternya. 

Marvel berhasil berkarya dan memukau sekaligus menjadi life changer bagi banyak orang. Gue salah satunya. Gak cuma terhanyut oleh jagadnya yang kompleks dan seru, tapi juga kisah perjuangan para pahlawan ‘super’ yang ogah buat nyerah. Gue harap kita jadi ikut termotivasi, biar gak cuma far from home.. tapi juga far from the start, dan bisa bilang dengan bangga kalimat yang banyak berseliweran di internet, “Started from the bottom, now we’re here.”