Story

#kreavi28: Andrey Pratama, Melawan Pakem Konten Animasi Lokal

Kalau sudah cinta, memang sulit untuk berhenti. Inilah yang terjadi pada Andrey Pratama, seorang 3D & concept artist kelahiran 1990 yang film animasi buatannya, Moriendo, mendapatkan berbagai recognition dan penghargaan baik pada tingkat nasional maupun internasional. Sejak kecil, ia sangat suka menggambar, mengaku bahwa tidak pernah ada satu hari pun yang ia lewatkan tanpa menggambar. Andrey menggambar setiap kali ada kesempatan, baik di sekolah ataupun di rumah.

Seperti orangtua pada umumnya di masa itu, orangtua Andrey kurang mendukung hobi ini. Pasalnya, hobi menggambar Andrey membuatnya bercita-cita menjadi komikus, profesi yang dianggap kebanyakan orang tidak bisa menghasilkan penghidupan. Namun, saat diminta orangtuanya untuk lebih fokus ke sekolah, Andre tetap curi-curi menggambar komik. Ia rela bangun jam 3 pagi, agar bisa menggambar diam-diam hingga jam 6 pagi.

Komik buatan Andrey semasa sekolah ini tidak dinikmatinya sendiri. Layaknya artist yang berdedikasi, ia menunjukkan komik buatannya ke teman-teman sekelas, yang secara berkala memberikan apresiasi dan masukan. Dari para “pembaca” setia komiknya inilah, Andrey banyak belajar hal mulai dari skill menggambar, estetika, hingga storytelling.

Baca juga: #kreavi28: Mariska Adriana, Menggabungkan Desain dan Bisnis ke dalam Profesi Designpreneur

sudIMG-Director - Moriendo web
Andrey Pratama. Image credit: 21shortfilm.com

Dari Komik ke Animasi

Sifat keras kepala, tekad, dan dedikasi Andrey dalam menjalani passion ini kemudian dilihat oleh kedua orangtuanya. Setelah sebelumnya membatasi hobi Andrey, kedua orangtuanya kemudian memberikan kebebasan untuk memilih jalan sendiri.

Walaupun telah dibeberi kebebasan, Andrey sendiri juga melihat bahwa di Indonesia profesi komikus masih sangat jarang, sehingga saat akan mendaftar kuliah, ia memutuskan untuk memilih jurusan desainer grafis, dengan alasan bahwa bidang desain grafis masih memiliki sangkut-paut dengan dunia ilustrasi.

Namun, Andre kemudian baru mengetahui bahwa ada jurusan khusus bidang animasi. Ia pun akhirnya tidak berpikir dua kali untuk mengambil jurusan tersebut.

“Karena kecintaan saya yang begitu besar kepada dunia animasi, saya memutuskan untuk mengambil jurusan itu, dan saya merasa saat itu adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya untuk memilih dunia animasi, khususnya 3D,” kata Andrey.

Animasi 3D memang terbilang medium baru dalam berkarya. Perkembangan teknologilah yang mendorong maraknya animasi, baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Andrey mengatakan bahwa profesi 3D & concept artist yang dijalaninya saat ini merupakan penggabungan atas tiga hal—menggambar, animasi, dan teknologi.

Baca juga: #kreavi28: Eno Bening, Punya Prinsip Hidup “Berangkat dari yang Ada”

Membangun Kredibilitas Lewat Moriendo

Berkarya dengan passion memang memiliki banyak tantangan tersendiri. Setelah sebelumnya berhasil meyakinkan orangtua, Andrey kemudian menghadapi struggle yang nyata, yaitu bagaimana profesinya sebagai freelance artist tersebut dapat membiayai kehidupannya dan keluarganya. Sampai saat ini, ia memang belum pernah bekerja di bawah naungan studio tertentu.

Tentunya salah satu yang penting untuk dilakukan oleh seorang artist, terutama mereka yang bekerja lepas, adalah membangun kredibilitas. Andrey sendiri kebingungan untuk memulai bekerja dari mana sebagai profesional setelah lulus dari kuliah. Namun, Andrey tahu pasti bahwa untuk membangun kredibilitas, selain membuat karya yang berkualitas, he simply needs to show his works. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengikutsertakan karya tugas akhirnya, sebuah animasi pendek bertajuk Moriendo, ke ajang XXI Short Film Festival. Moriendo sendiri mendapatkan nilai tugas akhir terbaik di jurusan Andrey, dan Andrey menganggap animasi pendek sebagai salah satu karya terbaiknya.

 

Singkat cerita, pada tahun 2012, Moriendo berhasil menjadi official selection di Libelula Animation Festival di Spanyol dan menjadi finalis Europe on Screen. Kedua prestasi itu kemudian diikuti oleh berbagai penghargaan lainnya hingga saat ini–Best Animation di XXI Short Film Festival 2013 dan Festival Film Online Kineria 2015, hingga screening di Frankfurt International Book Fair 2015, dan banyak lainnya. Dari situ, Andrey mendapatkan exposure yang cukup besar sehingga dirinya dan karyanya mulai dikenal oleh publik.

Idealisme dalam Berkarya

Andrey sendiri cukup terbilang idealis dalam berkarya. Jika local content dalam cerita-cerita di Indonesia biasanya terkait erat dengan unsur-unsur tradisional, dalam proses pembuatan Moriendo, Andrey mencoba mendefinisikan ulang makna local content.

“Di saat awal pembuatan Moriendo, saya berpikir keras, apa yang bisa membuat sesuatu animasi itu spesial? Potensi apa yang bisa dihasilkan dari sebuah karya animasi? Bagaimana sebuah animasi dapat dikatakan memiliki local content–apakah harus bertema wayang atau berasal dari cerita rakyat?” Andrey menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang ia tanyakan kepada diri sendiri saat membuat Moriendo.

“Saat itu saya menyimpulkan bahwa animasi yang spesial bagi saya pribadi adalah animasi memiliki pesan dan meninggalkan kesan bagi audience. Saat itu, saya terbayang akan indahnya karya-karya puisi lokal, cerita-cerita pendek yang dalam ketetbatasan jumlah kata-katanya bisa meninggalkan kesan yang tak terbatas bagi setiap pembacanya,” lanjut Andre.

Dari pemikiran ini, Andrey pun memutuskan untuk mengadaptasi cerita pendek berjudul “Sebuah Pagi dan Seorang Lelaki Mati” karya Noviana Kusumawardhani sebagai ide cerita Moriendo. Adaptasi ini diharapkan Andrey dapat menjadi kolaborasi yang indah, antara aksara, bahasa, dan elemen visual yang ia representasikan dalam animasi.

Baca juga: #kreavi28: Andre Pradiktha, Ingin Menginspirasi Dunia Lewat Arsitektur

Idealisme yang tidak biasa ini memaksa Andrey keluar dari zona nyaman, dan melewati pakem-pakem animasi lokal pada umumnya. Menurut Andrey, animasi yang bagus tidaklah harus selalu seperti animasi yang diproduksi studio-studio besar. Persepsi tersebut justru akan membatasi kreativitas animator.

“Potensi karya sastra lokal kita sangat besar sekali dan dapat memberikan warna tersendiri dari karya kita. Jangan takut untuk menjadi berbeda.”

Idealismenya ini tidak hanya termanifestasi di karya animasinya. Dalam kehidupan sehari-hari, Andrey mengaku bahwa ia juga cukup idealis. Namun, hal ini dengan jujur diakuinya sebagai suatu sifat yang naif.

“Ada masa di mana saya hampir tidak memiliki teman, karena nilai-nilai atau idealisme yang saya percayai berbeda dengan apa yang mereka yakini. Saya lupa bahwa semua orang diciptakan unik, berbeda dari satu dengan yang lainnya. Ada kalanya kita ingin menggapai bintang yang sangat tinggi, namun bagi yang lain. mungkin memandanginya dari jendela saja sudah cukup. Ada yang menyukai karya pribadi kita, ada juga yang membenci tanpa alasan. Saat itu saya gagal memahami bahwa setiap hal di dunia ini bagaikan dua sisi mata uang. Waktu itu saya masih terlalu naif, namun akhirnya saya bisa mengatasi itu semua dengan menyadari bahwa pasti akan ada orang yang membenci kita atau karya kita.”

Lalu, apa mindset yang Andrey percayai akan membuatnya berhasil?

“Tekad, dedikasi, konsistensi, eksplorasi, dan motivasi untuk berkembang menjadi lebih baik lagi. Itulah hal-hal yang selalu saya tanamkan dalam diri saya,” tutup Andre.


#kreavi28 adalah kolaborasi Kreavi.com dengan Ziliun.com yang berisi 28 Talenta Kreatif Indonesia dengan usia maksimal 28 tahun. Para talenta kreatif ini berkarya di berbagai bidang mulai dari mode, komik, ilustrasi, animasi, event, kuliner, film, hingga game.


Header image credit: mubi.com