Insight

Ketika Kita Ngerasa Bosan dan Kehilangan Dorongan Untuk Kerja

Masuk kerja waktu matahari baru terbit, dan pulang pas langit udah gelap. Di perjalanan capek banget dan waktu sampai di rumah rasanya pengen cepet-cepet istirahat. Kegiatan yang sama, lingkungan yang sama, dan bersama orang-orang yang sama?

Bosen nggak sih?

Tapi coba kita bandingin sama masa ketika pertama kali masuk kerja. Waktu itu kita dipenuhi informasi baru, percakapan baru, dan energi yang baru. Kebanyakan orang lebih antusias karena terus-menerus mempelajari hal-hal baru yang belum pernah diketahui sebelumnya. Ikut setiap percakapan dengan rasa ingin tahu, dan kemudian bikin catetan baru. Kamu kayak gitu juga nggak? Atau jangan-jangan tiap hari kerja malah pengen cepet-cepet weekend?

Sebenernya, apa sih yang jadi sumber utama kebosenan itu?

American Phsychological Association menjelaskan kebosanan sebagai the unfulfilled desire for satisfying activity”. Mengapa itu terjadi? Padahal secara teori, bukankah pekerjaan kita yang dapat memacu kita? Nah, apa yang terjadi adalah fenomena psikologis yang disebut habituasi. Semakin kita terpapar pada hal yang sama, semakin sedikit stimulasi kita. Ketika kita terbiasa, kita tidak merasa senang karenanya.

Ketika setiap hari di kantor kita bertanya, “Apa yang harus gue lakukan hari ini?” kita  telah begitu terpapar dengan hal-hal yang berulang, sehingga otak kita memeriksa dan mengabaikan rangsangan baru. Pekerjaan selesai, tetapi pikiran kita tidak.

Kebosanan di tempat kerja itu sebenernya berbahaya nggak sih?

Tenang aja, yang terpenting di sini adalah kita tidak kehilangan kemampuan untuk belajar. Kalo kata Rajiv Nathan, CEO Startup Hypeman, kita hanya perlu menginvestasikan kembali kesadaran kita dan menempatkan diri kembali ke pekerjaan kita.

Alihkan pola pikir kita dari “Apa yang perlu gue lakuin hari ini?” Ke “Apa yang bisa gue pelajari hari ini?

Rajiv Nathan juga menyarankan kita untuk membuat semacam “sistem pelacakan” atas hal-hal baru apa saja yang kita pelajari setiap harinya. Gini nih cara bikinnya.

Kamu tahu komedian sukses asal Amerika Serikat Jerry Seinfeld? Seinfeld terkenal dengan sistem pelacakannya untuk menjadi seorang komedian yang hebat. Kita namain aja The Seinfeld Tracking System.

Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang anak muda yang bercita-cita menjadi komedian yang sukses. Dia bertanya kepada Seinfeld apakah dia punya nasihat untuk anak-anak muda. Dia lalu mengatakan cara untuk menjadi komedian yang baik adalah membuat lelucon yang lebih baik, dan cara membuat lelucon yang lebih baik adalah menulis setiap hari.

Seinfeld mengatakan, dia punya kalender besar yang dia gantung di dinding. Setiap dia menulis, dia akan memberi tanda X pada hari itu. Lama kelamaan, tanda X itu akan berantai dan ia tidak ingin rantai itu putus.

“Just keep at it and the chain will grow longer every day. You’ll like seeing that chain, especially when you get a few weeks under your belt. Your only job is to not breaking the chain.”

Yup! Lama kelamaan pekerjaan akan jadi kebiasaan, tapi tidak membosankan.

Gimana cara menerapkan The Seinfeld Tracking System?

Bikin spreadsheet 2 kolom. Judul kolom 1 “Tanggal”, dan kolom 2 “Apa yang saya pelajari hari ini?”

Di ujung hari sebelum lo pulang, tulis tanggal di kolom 1, dan di kolom 2, tulis SATU hal yang lo pelajari hari itu, baik tentang diri lo, pekerjaan lo, rekan kerja lo, atau perusahaan lo.

Setelah melakukan ini, paginya saat kita akan berjalan ke kantor, hal pertama yang akan kita tanyakan adalah, “Apa yang bisa saya pelajari hari ini?”

Ketika ini jadi pola pikir utama kita, maka kita akan punya rasa ingin tahu yang lebih, menemukan lebih banyak cara untuk jadi kreatif, dan masuk ke dalam percakapan dengan pola pikir yang sama sekali baru.

Jadi, semangat mencatat!