Opinion

Hoax dan Otak yang Tak Terpakai

Punya otak, tapi berita-berita heboh tidak dipikirkan dan dianalisa. Sayang otaknya.

Beberapa hari yang lalu sebuah status melintas di lini masa Facebook saya. Seorang kawan Facebook membagikan status yang isinya semacam pengungkapan kalau nama GAP ternyata adalah singkatan dari “Gay And Pride”. Sontak status teman itu dibanjiri komentar, ada yang sekadar mengucapkan istighfar, ada juga yang langsung berjanji tidak akan menggunakan lagi pakaian merek GAP-nya.

2015-07-08_155452
Image credit: indonesianhoaxes.com

Ketika melihat status itu saya sudah geli sendiri. Dari narasinya saja sudah ada yang aneh, meski mungkin itu hanya perasaan saya saja. Saya sampai menelusuri status yang dibagikan kawan saya itu, menenggelamkan diri sejenak di kolom komentarnya dan membaca berderet-deret komentar di bagian bawahnya.

Dari komentar-komentar di status itu saya menemukan banyak sekali yang beristighfar, mengutuk dan seolah-olah tercerahkan sehingga akhirnya bertekad membuang semua produk GAP yang dia punya.

Baca juga: Jangan Lupa Mengasah Kapak

Berita itu muncul ketika badai kontroversi pernikahan sejenis di Amerika Serikat belum benar-benar surut, momentumnya pas sekali. Pantas saja berita itu menyebar luas dengan sangat mudahnya.

Selang sehari kemudian sebuah bantahan atas klaim itu muncul. Isinya adalah penjelasan kalau sebenarnya GAP itu bukan singkatan dari “Gay And Proud”, tapi diambil dari istilah generation gap. Bantahan ini juga menyebar dengan cepat dan segera mempermalukan orang-orang yang pertama kali menyebar berita sebelumnya.

*****

SUDAH BERAPA KALI ANDA MENEMUKAN BERITA-BERITA ATAU KLAIM-KLAIM seperti kasus GAP di atas? Orang menyebutnya hoax atau berita bohong. Sebuah istilah yang sudah dipakai sejak abad ke-18 tapi kemudian menjadi jamak di jaman ketika internet menjadi teman terbaik manusia modern.

Internet yang sifatnya memang cair membuat informasi-informasi yang bermutu rendah dan jauh dari kata benar bisa menyebar dengan sangat cepat. Sialnya, kecepatan penyebaran itu tidak diimbangi dengan kecepatan berpikir, menganalisa dan cross check dari pengguna internet. Jadilah kemudian beragam berita-berita yang aneh bin ajaib menyebar dan dipercaya banyak orang.

Berita hoax harusnya dianalisa, dipikirkan, biar otaknya terpakai.

Ada banyak orang (kita sempitkan jadi orang Indonesia ya) yang kadang lupa kalau dia punya otak, benda yang diberikan Tuhan dan ditanamkan di kepalanya. Benda yang harusnya jadi pusat pengontrol segala kegiatan dan pikirannya. Mereka punya, tapi kadang lupa dipakai sehingga ketika ada berita-berita yang sebenarnya palsu mereka tak merasa perlu berpikir atau menganalisa. Apalagi ketika berita itu membawa-bawa kepercayaan atau norma-norma umum dalam masyarakat, makin lupalah orang untuk menggunakan otaknya.

Baca juga: Apa yang Salah dari Media Saat Ini?

Sayangnya, pelaku penyebaran hoax ini bukan hanya mereka yang dikira punya IQ sedikit atau pendidikannya kurang tinggi. Pelakunya juga ada yang sebenarnya punya pendidikan dan jabatan tinggi sehingga kemudian hoax yang disebarkannya langsung dipercaya banyak orang. Masih ingat tagar #GazainJakarta yang disebarkan oleh seorang senator beberapa waktu lalu? Itu contoh sebuah berita hoax yang disebarkan oleh seorang ibu terhormat anggota senat republik ini.

Hoaxhoax yang menyerempet kepercayaan memang paling renyah untuk dikunyah dan disebarluaskan. Kepercayaan adalah soal hati, soal hubungan dengan sang pencipta yang bagi sebagian orang adalah harga mati dan tidak boleh dirasionalkan. Titik inilah yang jadi sasaran para pembuat dan penyebar awal hoaxhoax itu. Kalau sudah menyangkut kepercayaan, efeknya pasti cepat terasa.

Lalu, apa sih bahayanya hoax itu? Yang paling jelas terasa adalah banyaknya orang kemudian naik pitam dan kemudian dengan mudah menuduh atau mencaci pihak lain yang mungkin selama ini sudah berseberangan dengan mereka. Contohnya hoax yang menceritakan tentang pembantaian etnis atau pemeluk agama tertentu di negeri yang jauh di sana. Hoax ini menyebar luas dan mengundang rasa empati serta amarah orang sampai akhirnya gelombang kebencian menyeruak, memanas dan siap membakar. Bahaya kan?

Baca juga: Yang Muda, Yang Cekatan?

Bahaya lain dari hoax adalah menurunnya fungsi otak. Tuhan sudah menciptakan otak manusia dengan segala kerumitan dan kelebihan yang Masya Allah hebatnya, tapi kalau tak dipakai dan malah lebih mengedepankan amarah maka fungsinya bisa hilang sedikit demi sedikit. Sayang kan? Sudah dikasih otak bagus-bagus tapi malah tidak terpakai.

Jadi kalau tidak mau negeri kita terpecah belah atau tidak mau otaknya mengkerut karena tidak terpakai maka setiap kali ada berita-berita heboh di media sosial cobalah untuk mencari tahu dulu sumber dan kebenarannya. Jaman sekarang gampang koq, tinggal sisihkan waktu di internet. Googling kata orang sekarang, atau kalau memang belum tahu faktanya setidaknya tahanlah diri untuk tidak membagikan berita-berita itu sampai ada fakta yang bisa dipercaya.

Lebih baik terlambat menyebarkan kebenaran daripada berada di garis depan menyuarakan kesalahan. Itu kata saya sih, Anda bisa punya pendapat sendiri. Selamat berpuasa! [dG]

Baca juga: Orang Kita Pinter, Cuman Salah Fokus


Tulisan ini sebelumnya dimuat di blog pribadi penulis, Daeng Gassing, pada 8 Juni 2015

Image header credit: hdwallpaperscloud.com