Opinion

Di Simpang Jalan Gelap, Kita yang Bawa Terang

Hari-hari belakangan terasa muram. Sesak, terjebak dalam petak. Pergi jadi cuma mimpi. Apalagi perjalanan, rasanya cuma khayalan. 

Ingat nggak? Awal-awal tahun kita masih sempat berjumpa. Dalam ruangan-ruangan kaca, diskusi soal apa saja. Menyusun rencana-rencana. 

Ingat nggak? Sejak akhir tahun lalu, kita terburu-buru mengejar segala target kutu kupret. Berharap keparat yang bernama tenggat itu segera minggat. 

Sekarang, semua rencana yang sudah disusun itu cuma jadi pertanyaan. Diganti oleh ketidakpastian. Kita cuma bisa berpikir sampai melintir: apa yang harus dilakukan? 

Yuval bilang, dunia ada di persimpangan. Antara memilih jalan gelap paham tirani atau jalan sulit bernama edukasi. Sayangnya, jalan gelap itu singkat dan cepat. Bisa jadi, banyak yang akan memilih jalan ini. 

Di jalan gelap itu, dengan dalih kesehatan, semua orang akan diawasi. Bukan hanya gerak dan lokasi, tapi juga denyut nadi. Bayangkan dunia yang bahkan bikin bingung para petinggi, tidak pernah rakyat senurut ini.

Di jalan gelap itu, pakar-pakar ekonomi juga sibuk, menyusun hitungan dari data-data yang menumpuk. Semua seperti sepakat menyanyikan koor tentang krisis, inflasi dan depresi.  

Di jalan gelap itu, isolasi bukan cuma nama perekat prakarya anak-anak untuk tugas sekolah. Isolasi bukan cuma hukuman bagi napi yang paling keji. Isolasi jadi paham, isolasi jadi idealisme. Tapi mereka membungkusnya dalam janji manis nasionalisme dan demokrasi. 

Sebelum sampai ke jalan gelap itu, kita masih di sini. Diam di rumah saja. Terjebak dalam ruangan. Mencoba menikmati hari-hari, belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Salah satunya, bisa saja ditinggalkan (boleh karena lupa, atau memang sengaja). 

Sebelum sampai ke simpang gelap itu kelak. Kita masih di sini. Masih menyusun janji dan harapan: setelah wabah, kita kumpul-kumpul lagi ya! Masih dengan ceria mengatakan: setelah wabah, kamu sekolah lagi ya! 

Jangan remehkan harapan. Cuma itu satu-satunya yang tersisa, dalam ruang yang paling gelap dan sempit sekalipun. 

Jangan remehkan harapan, karena cuma itu yang bisa menjaga nyala api. Nyala yang mendorong dan mendesak, untuk kita nanti tetap bisa bergerak. 

Hari-hari ini, kita butuh menjaga. Menjaga pilihan untuk tetap waras. Menjaga pikiran agar tetap sadar. Menjaga agar tidak larut dalam takut. Menjaga agar masih bisa bersuara, masih bisa berkarya. 

Ya, di simpang jalan gelap, kita yang harus bawa terang.


Ditulis oleh: Wicak Hidayat

Disunting oleh: Azwar Azhar