Story

Bagaimana Basha Market Dimulai: 960 Brand Dihubungi, 10% Berhasil Didapat

Satu fakta unik yang tim Ziliun temukan saat ngobrol dengan Devina Sugono–co-founder Basha Market–adalah bahwa Basha Market pertama kali dimulai dengan cara yang sama seperti startup teknologi pada umumnya: acquire users one by one.

“Aku message [brand] satu per satu. Jadi kalo di Whatsapp gak dibalas, coba di Line, kalo Line gak dibalas coba di BB. Di BB gak dibalas, telepon aja.  Kalo telepon gak dibalas, ya di-SMS. Kalo sms juga gak dibalas, ya udah berarti mereka gak mau.”

Devina dan Erin memang mencari satu per satu kontak dari brand lokal yang mereka ingin ajak, lalu mereka kirimkan dokumen berupa proposal. Determinasi ini yang membuat Basha awalnya berhasil mengajak 95 vendor, dari 960 vendor yang mereka hubungi. Setidaknya, 10 persen dari brand lokal yang menjadi prospek berhasil didapatkan. 10 persen inilah yang kemudian mengantarkan Basha Market bisa jadi seperti sekarang, dengan rangkaian event mulai dari market-nya sendiri, arcade, pop up, dan initiatives.

Baca juga: Basha Arcade: Mad Lab, Udah Saatnya Go International Bukan Lagi Wacana

IMG_0065
Devina Sugono di Konferensi Pers Basha Market

Mengajak brand lokal untuk bergabung ke Basha Market juga gak gampang. Masalahnya, Basha Market diadakan di Surabaya, sementara local bazaar seperti Basha biasanya lebih lazim diadakan di Jakarta dan Bandung, yang industri kreatifnya sudah terbukti potensinya.

Devina mengaku banyak keraguan dari brand lokal saat ditawarkan membuka booth di Basha Market, “Untuk bazar di Surabaya kan kita memang yang pertama untuk skala sebesar ini. Jadi vendor-vendor yang dari Surabaya maupun Jakarta tuh masih ragu, ‘Kenapa kita harus ikut Basha Market? Aku di Jakarta enak-enak aja kok. Bazar ada tiap minggu’.”

Jalan keluar yang diambil Devina bersama co-founder-nya, Erin, adalah mengedukasi para vendor bahwa Surabaya juga punya buying power yang besar.

Baca juga: Devina Sugono dan Basha Market, Merayakan Industri Kreatif Surabaya

“Nah itu, kita harus educate mereka. Kayak [kota] ini tuh populasi terbesar kedua di Indonesia, buying power-nya itu sangat gede. Makanya personal communication itu sangat penting untuk di awal. Jadi awalnya mereka ragu, kemudian mereka ikut dan kemudian lihat market Surabaya, kan jadi word-of-mouth ya.  Dari satu vendor, ke satu vendor, ke satu vendor. Jadi sekarang lebih mudah juga, orang udah bisa ngomong ‘Basha Market bagus market-nya’,” kata Devina.

Sebagai entrepreneur muda, Devina dan Erin menganut prinsip kalau semua usaha harus dicoba.

“Kita promo lewat Instagram. Sosmed yang kuat. Terus kita pasang billboard, baliho. Itu lumayan banyaklah. Dan minta teman-teman untuk minta ajakin yang lain. Whatsapp. Email blast. BBM Broadcast. Pokoknya semuanya deh dicoba.”

Baca juga: Masa Depan Industri Kreatif Ada di Bazaar-Bazaar Lokal