Opinion

Substansi bukan Instansi

Sebagian orang mengatakan god is in the details, sementara sebagian lain mengatakan the devil is in the details (salah satunya yang saya kenal, Brian Molko) (ya deh, kenal). Kalau Anda termasuk aliran yang mana?

59227002

Menurut pendapat saya yang tak ada artinya ini, dengan adanya substansi, detail bisa menjadi tuhan, sementara dengan tak adanya substansi, detail bisa jadi iblis. Sebuah film, misalnya. Jika saya bertanya ke teman saya yang baru saja menonton sebuah film, “bagaimana? Bagus?” lalu dijawab, “gambarnya keren!” atau, “sinematografinya gila bagus banget!” saya langsung berasumsi kalau secara substansial filmnya kurang bagus (who am I kidding, maksud saya jelek). Karena jika seseorang menonton pertama kali, dan akhirnya yang diperhatikan adalah detailnya daripada terbawa ke dalam cerita film, ikut tertawa, menangis, sehingga terlalu larut dengan semua kesatuan film tersebut, hingga detailnya tidak terasa, karena semua saling mendukung, hanya satu jawaban yang akan dikeluarkan; “BAGUSSS!” atau, “I CRIED!”. Itu bukan satu jawaban sih. Dan mungkin saya saja yang suka baper terhadap film.

Baca juga: Anak Muda Gak Boleh Hidup Jadi Medioker!

9c6ca3b849d9b04f86e09a88e592894a472700f7a03436cdb0948367426dd6cd

Contoh lain, desain busana. Sebuah baju boleh kaya detail yang hanya bisa dibuat dengan keahlian khusus, dijahit tangan hingga jari jari pegawai di bawah umur berdarah, penuh dengan bordir yang dibuat oleh para biarawati buta dari pegunungan Alpen, atau payet yang dipasang oleh perawan tingting yang baru haid sekali dua kali, tetapi ketika dikenakan  membuat seorang model saja, jadi tidak cantik, alias tidak flattering, bagaimana nasib perempuan biasa dengan tonjolan bokong ekstra? Esensinya seorang perempuan membeli pakaian berbagai rupa, karena ingin terlihat (atau paling tidak, merasa) cantik. Tetapi saya melihat ada beberapa perancang yang sering kali lupa hal ini.

Baca juga: Menghidupi Potensi, Mengobati Impotensi

42232253fg_12_f

Bro!

Sebuah restoran bisa jadi memiliki playlist musik yang membuat betah nongkrong berjam-jam, desain ruangan yang unik, piring dan gelas yang tak ditemui di tempat lain, dan menu yang ciamik. Tetapi jika makanan dan servisnya biasa-biasa saja, atau bahkan di bawah rata-rata, pun akan tutup juga. Sebuah aplikasi, sebagaimana kerennya UI desainnya, cepat dan ringan, logonya juga kelihatan begitu keren menempel di home screen Anda, jika tidak ada tempat atau fungsi nyatanya dalam keseharian Anda, akhirnya akan dihapus juga jika storage hampir penuh dan Anda membutuhkan aplikasi baru.

Intinya sebenarnya bisa dirangkum dengan satu kutipan dari Maya Angelou, “I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.” Sementara memori akan sesuatu atau seseorang tanpa substansi, tanpa ketulusan biasanya membuat kita merasa melompong, tidak bisa larut, dan terbawa memerhatikan detail yang kurang penting. Seperti upil yang menempel di ujung hidung, atau sayuran hijau yang menyelip di antara gigi, belek yang masih ada di dekat mata, dan… ah Anda pasti sudah mengerti maksud saya lah.

Baca juga: Menolak Sensor


Artikel ini ditulis oleh Leisafira dan sebelumnya telah dipublikasikan di linimasa.com.