Story

Q&A: Mas Gepeng & Njawani, Tetap Kekinian dengan Tema Tradisional

Di tengah dunia yang heterogen, masyarakat kita dihujani oleh derasnya kultur non-lokal yang menjadi warna baru. Mulai dari Barat kaya fashion ala SWAG sampai ke Timur macam K-Pop. Tentu gak ada salahnya kita ikut tren dan perkembangan jaman. Yang jelas, budaya lokal harus tetap dihidupkan. Jangan sampai budaya negeri sendiri diakui sama negara lain. Terus marah-marah dan bikin cicicuit di sosmed plus pake hashtag #saveculture yang jelas-jelas gak bisa menyelamatkan.

Emangnya lo udah berkontribusi apa sama budaya lokal? Asal ikut arus tapi gak bisa berdiri tegak di atas kaki sendiri. Menjadi update gak harus ikuti semuanya yang berbau mancanegara, seperti Mas Gepeng, owner Njawani Studios, yang membalut tema tradisional Jawa dengan cara yang kreatif dalam pembuatan merchandise. Ziliun berkesempatan untuk mewawancarai Mas Gepeng dalam event Popcon Surabaya 2016, berikut ceritanya:

Bagaimana keluarga dan masa kecil mempengaruhi mindset dan kreativitas?

Saya besar dari keluarga buruh batik, mulai dari Nenek, Ayah, dan Ibu. Saya sudah hafal keluh kesah mereka, antara lain minimnya upah buruh yang tidak sebanding dengan banyaknya kebutuhan keluarga. Berangkat dari situ, saya belajar banyak hal, dari cara membatik, mencari biaya kuliah sendiri, dan mencoba mengangkat derajat budaya di kalangan anak muda. Bagaimana caranya mengubah pakem ornamen, batik, wayang, dan lain-lain sehingga anak muda tidak alergi dengan budaya.

Baca juga: Njawani Studios: Yuk Balik Ke Budaya Kita!

Image: njawani.com
Image: njawani.com

Apa alasan Mas Gepeng dalam membuat karya dan menciptakan Njawani?

Asal mula ‘Njawani’ dari kata ‘Jawa’. Njawani artinya adalah ‘seperti Jawa’.

Jadi Njawani itu bukan pakem, hanya mirip. Itu yang menjadi konsep berkarya. Saya tidak mengarah ke pakem tetapi memodifikasi sehingga orang masih bisa mengenali.

Berdasarkan apa yang saya lihat dan rasakan di tahun 2000-an dimana anak muda sedang gandrung dengan brand luar negeri, sementara gambar wayang hanya menjadi kaos oleh-oleh kelas pasar. Memakai kaos dengan gambar budaya kita sendiri terkadang malu karena yang sedang booming adalah brand luar. Saya mulai berpikir bagaimana budaya kita bisa diterima anak muda, bukan hanya budayawan & orang tua saja. Ternyata ini bukan perkara mudah karena justru budaya barat & jepang lah yang menjadi idola remaja. Ditambah lagi dengan hilangnya beberapa hak paten tradisi budaya kita. Nah kalo gini anak muda baru marah, sementara ditanya tatah sunggung itu apa, mereka jawab gak tau. Harus ada yang bergerak, harus ada inovasi, dan harus berani memperkenalkan.

Berhubung background saya desain grafis, saya mencoba memaksimalkan apa yang saya bisa untuk memperkenalkan kembali budaya kita. Saya mencoba mengikuti beberapa kompetisi yang bisa dimasuki unsur local culture.

Penghargaan pertama yang saya dapatkan adalah juara Favorit Djarum Black Urban Art untuk kategori vector art. Dari beberapa penghargaan lain yang  didapatkan setelahnya, saya mulai giat membuat karya bertema budaya meskipun untuk kepentingan sendiri. Sampai pada akhirnya, beberapa teman menyarankan untuk desain saya diaplikasikan di kaos dengan tujuan untuk membuat brand lokal citarasa Indonesia sekaligus memperkenalkan budaya dan semangat nasionalisme.

Akhirnya tahun 2011 saya mulai memproduksi kaos dengan kualitas desain yang detail, berkarakter Jawa, dan harus bisa diterima anak muda dengan nama Njawani. Desain pertama dengan  tema Garuda Pancasila digabungkan dengan ornamen batik dan wayang sukses mendapatkan antusias yang baik. Kemudian untuk desain dari kaos berjudul “Kenyataan Harus Digambarkan” yang mengangkat tema korupsi mendapatkan penghargaan GOLD Pinasthika 2012. Selain itu, kaos Njawani juga sudah dipakai orang-orang Indonesia yang tinggal di beberapa negara seperti Korea, Singapura, Malaysia, Jerman dan Swiss.

Baca juga: 3 Hal yang Dibutuhkan Industri Komik Indonesia

Bisa ceritakan struggle dalam membuat karya?

Perjuangannya adalah produksi karena  minimnya pengetahuan saya di dunia t-shirt yang berkualitas serta sulitnya mencari produsen yang bisa mencetak kaos sesuai dengan keinginan saya dengan jumlah yang tidak banyak.

Njawani terkenal dengan desainnya detail dan rumit. Mayoritas vendor tidak mau yang ribet, style distro juga masih sederhana. Jadi mereka kerepotan melayani permintaan saya. Struggle kedua adalah menentukan selera pasar karena target saya untuk anak muda sementara mindset mereka, ‘gaul’ itu ala Amerika & Jepang. Kalo ‘budaya’ identik dengan anak ndeso dan orang tua, jadi sangat sulit menentukan tema cerita, dan style desain yang bisa masuk kalangan anak muda.

Apa kegagalan terbesar yang pernah dialami? Dan bagaimana mengatasinya saat itu?

Kegagalan terbesar ketika saya beberapa kali salah analisa selera pasar, serta unsur pakem dan modifikasi. Saat itu saya mengejar pakem karena idealisme. Tetapi ternyata pasar gagal menerima dan produk saya malah seperti kaos oleh-oleh. Dari situ Njawani sempat vakum 1 tahun lebih untuk riset style desain, riset karakter yang mudah diterima pasar, dan meningkatkan skill menggambar.

Dampak positif apa yang Mas Gepeng coba ciptakan di Indonesia melalui karyanya dalam Njawani?

Dampak positifnya saya lebih ke anak muda yang saat ini tidak malu lagi memakai produk budaya (dalam cakupan tertentu) dan Njawani menjadi inspirasi dalam berkarya untuk mengangkat tema budaya yang digarap dengan serius. Selain itu sudah ada beberapa brand serupa tapi tak sama yang mengikuti jejak Njawani.

Pertanyaan terakhir nih Mas, apa mindset paling penting yang harus dimiliki untuk berhasil?

Njawani sendiri belum bisa disebut berhasil karena masih dalam lingkup kecil dan segmented. Mindset saya  adalah menjajah Indonesia dengan budaya Indonesia sehingga budaya kita tidak dijajah olah negara lain. Semoga budaya kita menjadi primadona di negeri sendiri dan negara lain, dan semoga bertambah banyak anak muda yang berkreasi mengolah budaya kita untuk memperkenalkan ke dunia.

Baca juga: Aghi Narottama dan Film Scoring: Mesti Kolaborasi Untuk Menghasilkan Masterpiece