Story

Leonika Sari, Founder Reblood: Setelah ke MIT, Ingin Fokus Bikin Startup

Kata kutipan-kutipan bijak di luar sana, luck is what happens when preparation meets opportunity.

Itu yang benar terjadi kepada Leonika Sari, mahasiswi Sistem Informasi ITS. Berawal dari iseng-iseng mengikuti online course di edX, ia mendaftar ke program MITx Global Entrepreneurship Bootcamp. Siapa sangka kemudian dia lolos, dan mendapat beasiswa untuk mengikuti short course tersebut selama seminggu.

Walaupun hanya seminggu, pengalaman luar biasa ini berhasil merombak pola pikir Leonika yang awalnya ingin bekerja di perusahaan, menjadi ingin membuat startup sendiri, yang menciptakan dampak buat orang lain. Ide yang dibawanya ke MIT, yaitu blood bank information system, dikembangkannya menjadi Reblood, sebuah startup yang ingin mendorong lebih banyak orang mendonorkan darahnya. Simak ngobrol-ngobrol Ziliun dengan Leonika Sari berikut.

IMG_9150
Kapan pertama kali mulai tertarik dengan teknologi?

Sejak SMA tertarik banget sama dunia IT, karena suka banget pakai produk-produk IT. Tapi begitu masuk kuliah di bidang itu, tepatnya jurusan Sistem Informasi, ternyata bikin aplikasi ga segampang pakainya. Well, you can give whole critics in minutes, but building a simple calculator app can take a whole day.

Baca juga: Udah Bukan Zamannya Perempuan itu Gaptek

Apa sih alasan di balik kamu membuat Reblood? Apakah ada latar belakang atau pengalaman tertentu yang mendorong kamu membuat startup di bidang kesehatan ini?

Aku paling suka sama pelajaran Biologi sejak SMA, nilai pelajaran yang paling bagus di rapor, ga pernah kurang dari 90. Jadinya pengen masuk kuliah kedokteran. Tapi karena berbagai macam pertimbangan (kuliah kedokteran lama, minat di bidang kesehatan ga harus jadi dokter, dan lain-lain), akhirnya kuliahnya di bidang IT.

Dan pas kuliah, sempat terlibat karya di bidang e-health, spesifiknya donor darah, dan akhirnya ngerti banget susahnya cari darah buat pasien plus ga gampang mau donor darah rutin, akhirnya memutuskan untuk niat bikin teknologi yang bisa berkontribusi di hal tersebut. Plus aku punya ‘hutang’ banyak sejak mengikuti karya tersebut, hutang yang ga bisa dibayar dengan uang. Maksudnya? Aku bisa menang beberapa kompetisi nasional plus diundang ke MIT itu kesempatan yang berharga banget, dan harus aku bayar dengan mewujudkan mimpi tersebut. Intinya, aku ga pengen mimpi tersebut hanya berakhir sebagai presentasi manis untuk kompetisi, tapi bisa membantu orang banyak karena permasalahan donor darah ini udah menyangkut hidup dan mati jutaan masyarakat di Indonesia lho. Alangkah baiknya bisa melakukan perubahan terhadap masalah tersebut.

Baca juga: 3 Hal yang Bikin Kita Termotivasi: Play, Purpose, dan Potential

Gimana ceritanya waktu awal membuat Reblood?

Reblood bukan yang pertama. Sebelumnya juga pernah ngalamin beberapa kegagalan yang akhirnya jadi pelajaran. Mulai dari bikin produk ga dari problem, ditinggal anggota tim, kurang research dan lain-lain, tapi justru dapet pelajaran supaya ga jatuh di lubang yang sama.

Akhirnya saya dengan rekan-rekan yang lain memulai Reblood dari permasalahan bahwa Indonesia mengalami kekurangan darah minimal 1 juta kantong setiap tahunnya, bahkan tahun 2013 mencapai 2,4 juta. Solusinya? bikin yang donor lebih banyak dong. Dari situ kita juga tahu ternyata banyak orang yang belum rutin donor darah, karena alasan-alasan seperti:

Pertama, sulit ke PMI langsung. Pendonor memiliki latar belakang dan kesibukan yang beragam. Kebanyakan tidak sempat donor karena jam kerja, sibuk kuliah dan sebagainya. Akhirnya kita kasih solusi dengan menginformasikan event donor darah yang diadakan baik di kampus, kantor, sekolah, mall, dan sebagainya pada hari kerja bahkan hari libur. So, udah ga ada lagi alasan ga bisa donor karena tempat jauh, sibuk dan lain-lain kan?

Kedua, ternyata masalah lain muncul, di mana banyak yang dateng ke event donor darah, tapi banyak juga yang ditolak. Rata-rata hanya 40-50% pengunjung yang diterima untuk donor. Kok bisa banyak yang ditolak? Soalnya kurang tidur, makan ga teratur, lupa sarapan, yang akhirnya bikin gak lolos tes hemoglobin dan tekanan darah. Akhirnya kita kasi reminder melalui Reblood supaya pendonor lebih siap pada saat hari H.

Baca juga: Vina Zerlina, UX Designer Amazon yang Pulang Kampung untuk Berkontribusi

IMAG0387
Leonika di MIT (dok. Pribadi)

So far, kegagalan paling besar yang pernah dialami apa? Dan bagaimana mengatasinya?

Gagal untuk menyeimbangkan profesionalitas dan persahabatan.Jujur aku bukan orang yang tega untuk mengkritik apalagi mengambil keputusan yang tegas terkait anggota tim. Kalau ada anggota tim yang ga perform bahkan benar-benar menghilang, aku ga berani ngambil keputusan soal itu, hanya berani untuk memberikan nasihat yang ga ingin merusak persahabatan tapi ternyata akhirnya malah menciptakan culture yang ga baik dan mempengaruhi segala sesuatunya.

Akhirnya aku belajar bahwa ini adalah startup, di mana segalanya tetap harus berjalan untuk mencapai target secara profesional namun juga tidak merusak hubungan pertemanan. Pilih anggota tim yang benar-benar sevisi, bukan karena udah akrab atau sahabat kepompong sejak kecil, atau karena dia pinter banget eh tapi ga komitmen ternyata. Jika di tengah jalan ada yang tidak jalan, bisa didiskusikan dengan baik dahulu, dan jika tidak membaik dan tidak sesuai, bisa ditegaskan. Intinya, aku udah belajar untuk tidak takut dan sungkan, karena toh udah sepakat di awal kan kalau ini startup bukan jejaring pertemanan untuk yang manis-masing aja 🙂

Terkait program MITx yang pernah kamu ikuti, gimana sih pengalaman kamu di sana membantu kamu mengembangkan Reblood?

One of the best experiences I’ve ever had. Salah satu penyebab kenapa aku memutuskan untuk fokus startup setelah lulus kuliah, dan ga pengen kerja di perusahaan. Karena bikin startup itu ga pernah gampang, tapi bukan berarti mustahil. Butuh yang namanya persistence dan pengalaman gagal. Aku jadi tahu bahwa kegagalan-kegagalan sebelumnya itu terjadi karena plan yang kurang tepat dan memang wajar terjadi untuk pemula! Jadinya ngerti yang bener gimana, dan semangat bahwa aku di jalan yang tepat.

Baca juga: Ketika Software Engineer Amazon Mengabdi di Sukabumi

Dapet tantangan untuk membangun startup dalam 5 hari dengan anggota tim yang ga pernah kenal sebelumnya, dengan latar belakang dan kebangsaan yang berbeda, itu wow banget. Dari pagi jam 7 sampai jam 11 malem kita dapat materi banyak banget dan ga jarang ide startup dijatuhin sama mentor. Well, pada akhirnya tim ternyata berhasil untuk present dengan baik di hari terakhir dan dapet second position 🙂 Totally unforgettable experience dan ngerasa beruntung banget bisa belajar dari orang-orang luar biasa pas di MIT 🙂

Kamu pribadi ingin menciptakan dampak apa di Indonesia dengan karyamu?

Simple. Untuk membangun Indonesia yang lebih baik dengan menyelamatkan lebih banyak nyawa melalui donor darah. Di masa depan, kita ga ingin melihat lagi ada orang yang meninggal karena terlambatnya transfusi darah.

Menurut kamu, mindset apa yang paling penting dimiliki untuk bisa berhasil?

Sukses ga akan diraih dengan mudah. Kalau mudah, pasti orang-orang kayak Mark Zuckerberg, Steve Jobs, dan Bill Gates udah bertebaran dimana-mana. Jangan mudah menyerah, tetap ingat bahwa kegagalan itu harus dan terus berusaha untuk membuat produk yang bermanfaat. Useful then successful, not the reversal. Cepat gagal, cepat belajar, cepat berhasil.

Well, success is really really hard, but it doesn’t mean impossible 🙂

Header image credit: huffpost.com