Insight

Bikin Startup Cuma Modal Passion, Yakin?

Sustaining a successful business is a hell of a lot of work, and staying hungry is half the battle. Wendy tan White, Co-Founder and CEO Of Moonfruit

Awalnya dulu gue pikir setelah memiliki cita-cita buat startup dan terwujud, itu cukup. Dulu gue selalu membayangkan tentang bagaimana enaknya hidup para CEO, dan startup founder yang telah berhasil mengibarkan bendera mereka sendiri. Tapi siapa sangka kalau ternyata perjalanan nggak semudah itu. Bahkan, setelah mengumpulkan nyali yang cukup untuk mengibarkan bendera sendiri (startup), para startup founder nggak boleh buru-buru untuk sampai di ‘puncak’ dengan cepat.

Setelah baca Enterpreneurship Campus gue jadi belajar kalau ada sifat-sifat yang nggak boleh startup founder lupakan untuk bisa sustain the startup biar nggak gulung tikar di tengah jalan.

Lebih Sabar dari Orang Sabar

Gue yakin orang-orang seperti gue kelak kalau bikin startup pasti mikirn profit. Manusiawi, sih. Tapi manusiawinya lebih ke matre kalau kita sangkut pautin sama startup. Namanya babat alas (mulai dari nol) ya berarti harus sabar. Sabar di sini bukan hanya berarti sabar untuk berteman dengan waktu, tapi juga sabar untuk menanti konsumen datang dan percaya kalau kehadiran startup lo bisa bantu masalah yang sedang mereka hadapi.

Patience is the key to sustaining your startup. Nggak perlu buru-buru mikirin kapan kaya. Karena nggak jaminan juga bisnis yang tumbuh secara perlahan adalah bisnis yang nggak sukses. Pun dengan bisnis yang merangkak cepat nggak ada jaminannya dia bakal bisa lebih sustain dan stable. Just because your company isn’t evolving at the speed of lightening doesn’t mean it’s failing.

Kalau emang visi yang lo punya saat mendirikan startup adalah untuk memberikan solusi bagi kehidupan orang lain, itu artinya lo harus banget sepenuh hati ngelakuinnya. I mean, klien lo butuh waktu untuk memahami bahwa startup lo ada dan nyata. Makanya, lo nggak bisa mikir praktis kalau sekalinya jadi startup founder bisa langsung terkenal secara instan.

Kenali Kembali Tujuanmu

Sebenarnya, seberapa penting sih  tujuan dari sebuah startup sampai harus berulang-ulang kali gue tegaskan kalau sebelum bikin startup, seorang startup founder harus mengkaji ulang tujuan mereka. Pada hal apa dan pada siapa mereka seharusnya fokus.

Kalau emang tujuannya cari customer, ya carilah customer dengan cara yang benar. Jangan awalnya fokus cari customer, di tengah jalan fokusnya jadi cari duit. Kan beda haluan parah. Dan seringkali hal ini bisa jadi pemicu paling cepat untuk menghancurkan startup yang sudah dirancang sedemikian matangnya. Jadi sayang, kan?

Belajar Ngomong Itu Nggak Cukup

Dulu, dosen gue bilang kalau “berbicara itu nggak cuma bersuara”. Iya, pas belajar komunikasi, dulu gue diajari tentang bagaimana komunikasi seharusnya dipahami. Komunikasi itu bukan hanya sekadar ngomong.  Seorang komunikator harus punya pesan yang harus bisa dimengerti oleh si penerima pesan. Kalau penerimanya nggak ngerti, ya berarti gagal, to?

You may have a supervision, an authentic idea, and a business model that’s going to hold up no matter what, but if you’re not a good communicator as an entrepreneur and don’t know how to portray your company to others nobody is going to want to hear about your startup. You need to be able to practice communication and do it on the regular.

Kalau hal basic gini aja nggak ngerti, gimana lo bisa jadi seorang startup founder yang baik coba? Padahal sejatinya, startup founder itu dipandang sebagai orang yang paling cakap untuk bisa berkomunikasi dengan karyawan dan partner kerjanya, baik di lingkungan internal atau di luar perusahaan. Apalagi, komunikasi yang baik bisa jadi media yang tepat untuk menarik dan meyakinkan calon konsumen.

Envisioning

Realistis itu boleh, tapi kalau lo punya cita-cita yang keren untuk diwujudkan, kenapa enggak? Jadi seorang startup founder itu susah. Mereka itu berpikir bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga memikirkan orang lain. Mereka baru boleh makan setelah memastikan semua karyawan mereka makan. Kalau ternyata kelak lo berhasil dan cuma mikirin perut lo sendiri, ngapain lo bikin startup?

In order to sustain a startup, you need to have a vision, not just for the present or close future, but for the next 20 years.

Visi dan misi yang sudah lo catat sejak pertama kali bercita-cita membuat startup pun harus terus progress dan progress. Catat setiap pencapaian, lalu evaluasi terus dan terus apa yang kurang di dalam setiap pencapaian lo. Kalo kurang puas? Ya bikin target yang lebih keren lagi, dong! Berani?

Be A Smart Leader

Nggak akan ada orang yang peduli lo mau mulai dari garasi mobil rumah gedongan atau pinggiran jalan. Nggak akan ada yang peduli kalau lo dulu cuma punya 1 laptop butut dan nggak dikenal siapa-siapa. Nggak akan ada yang peduli aset lo pas mulai buka startup berapa rupiah. Jadi, jangan pernah mempermasalahkan atau membandingkan diri lo dengan orang lain. Ketika lo sudah di atas awan (sukses), lo tetap harus bersikap rendah hati dan memiliki sikap yang bijak.

Great leaders know how to spend and when to invest their money.

Ini artinya, kalo lo pengen jadi leader yang baik buat anak-anak lo, lo harus belajar tentang manajemen. Lo harus tahu bagaimana memanajemen waktu, tahu kapan harus menginvestasikan uang dan kapan lo harus stop pengeluaran. Biar apa? Ya, biar company lo tetap berjalan sebagaimana mestinya. Jangan gegabah buang-buang duit pas profit lagi banyak-banyaknya.

Memang sih, nggak ada jaminan juga kalau poin-poin di atas bisa sustain startup lo. Yang gue pengen sampaikan di sini adalah, jangan males belajar meskipun lo sudah bisa mempekerjakan dan menggaji karyawan. Minimal, lo ngertilah karakter seorang startup founder yang diimpikan oleh calon karyawan lo kelak. Jadi, pastikan lo bersiap dari sekarang, ya!