Opinion

Tentang Zona Nyaman, Self-Development, dan Adaptasi

Kehangatan lingkungan yang akrab dan aman selalu mampu memberikan nuansa nyaman yang terlalu sulit untuk ditinggalkan. Namun seperti hal-hal lainnya, beberapa hal baik pun tidak bisa berlangsung selamanya. 

Dalam satu titik dalam hidup, secara terpaksa atau memutuskannya sendiri, kita harus meninggalkan segala kenyamanan yang ada untuk melanjutkan babak baru kehidupan; entah itu pergi merantau, pindah ke rumah mertua, kehilangan seseorang, perubahan jenjang karir, dan lain sebagainya.

Pergeseran gaya hidup ini akan memberi sedikit banyak dampak pada rutinitas dan perilaku kita ke depannya. Tidak diragukan lagi memang, butuh keberanian untuk melakukan langkah pertama (dalam beberapa kasus, kita bahkan perlu melompat), dibandingkan ratusan langkah selanjutnya.

Sebagaimana ucap Dig 301, salah satu karakter dari serial Altered Carbon: With each choice we make, we are led somewhere new

Sudut Kota | Foto: Michael Erlangga
Sudut Kota | Foto: Michael Erlangga

Melangkah dari zona nyaman memberikan kesempatan bagi kita untuk bertemu wajah-wajah baru di tengah aktivitas-aktivitas baru. Walaupun pada awalnya kita merasa kesepian, pada akhirnya kita akan belajar bahwa kita tidak pernah sendirian di dunia ini. 

Ada barista favorit di kedai kopi langganan, ada sepasang warga lokal yang memberi tumpangan di tengah jalan ketika kamu tersesat, ada juru mudi taksi yang ramah menemani perjalanan, dan banyak individu unik lainnya untuk menemani kita menjalin sebuah pertemanan baru. Menakjubkan melihat betapa cepatnya orang asing bisa menjadi teman.

Berkumpul | Foto: Michael Erlangga
Berkumpul | Foto: Michael Erlangga

Di tengah proses itu, kita juga akan belajar bahwa terkadang hidup bisa sangat berat dan tidak adil hingga akhirnya nanti kita bisa mencari pijakan kokoh untuk berdiri di antara dua kaki sendiri. Selayaknya masa ‘kasmaran’ di antara dua insan manusia, kita akan menemukan bobrok dan hal-hal tidak menyenangkan yang semakin terlihat sebagai ujian dari zona nyaman ini. 

Bagaimanapun, hal ini juga tidak akan berlangsung selamanya, kita akan menerima pemakluman-pemakluman yang akan membentuk “normal” baru bagi kebiasaan kita.

Tanpa pijakan yang kokoh, kita akan merasa dunia selalu berguncang dan menganggap tiada lagi tempat yang nyaman.

Mungkin setelah kita bertanya pada Tuhan “mengapa harus saya?”, atau mempertanyakan keputusan-keputusan diri sendiri, meneteskan satu atau dua tetes air mata sangat bisa dimaklumi. And life must go on.

Taman Kota | Foto: Michael Erlangga
Taman Kota | Foto: Michael Erlangga

Dalam kasus saya, pergi merantau ke benua lain tanpa memiliki pengalaman merantau sebelumnya, untuk memiliki kehidupan yang cukup berbanding terbalik adalah cara saya keluar dari zona nyaman. Tentu saja dituntun oleh rasa penasaran mengetahui kehidupan seperti apa di belahan dunia lainnya.

Sisi lain dari dunia yang kita tinggalkan menawarkan banyak sekali kesempatan dan pengalaman yang siap untuk dijelajahi. Saya pikir mencari pekerjaan akan menjadi tantangan tersulit yang akan dihadapi, namun meremehkan keahlian hidup dasar seperti memasak, mencuci pakaian, merawat rumah, dan lain sebagainya, adalah salah satu kesalahan.

Perihal sederhana seperti ini memaksa membentuk kita menjadi individu yang serba bisa dan mandiri. Dengan begitu memiliki apresiasi yang lebih mendetail untuk sekecil apapun hal yang kita lakukan. Bekal yang bisa menjadi landasan dasar untuk memulai tantangan baru lainnya di kemudian hari, seperti membangun bisnis misalnya. 

Kangguru Melintas | Foto: Michael Erlangga
Kangguru Melintas | Foto: Michael Erlangga

Memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan stabil dan membangun perusahaan adalah salah satu dari sekian banyak kisah inspiratif dari para pendiri startup yang telah saya temui sejak tahun 2013. Keluar dari zona nyaman demi mengembangkan sebuah ide menjadi sebuah produk yang cocok untuk pasar, melakukan riset dan survei, lalu mengadopsinya menjadi solusi terkini, adalah proses iterasi yang berkelanjutan. Proses ini membutuhkan para pendiri startup untuk lebih sensitif dalam mendengar kebutuhan konsumen seraya terus membawa perusahaan tetap berada dalam jalur kompetisi di industri.

Dalam kasus lain tentang keluar dari zona nyaman, menjalankan praktik Work From Home (Bekerja dari Rumah) karena pandemi COVID-19 selama setidaknya dua minggu bisa jadi tantangan tersendiri bagi beberapa orang. Praktik ini menuntut kita untuk lebih responsif, bertanggung jawab atas manajemen waktu yang lebih fleksibel, dan efisiensi beban kerja, yang mungkin tidak bisa ditemui dalam rutinitas jam kerja pada umumnya. 

Terpaksa atau tidak, keputusan kita untuk melangkah menjauh dari zona nyaman mungkin tidak pernah mudah, tapi itu akan menjadi suatu keputusan yang tepat pada akhirnya. Ketika tiba saatnya, kita hanya harus beradaptasi pada lingkungan baru di mana kemampuan kita akan ditempa, kecakapan kita akan berkembang, pengalaman kita akan melambung, dan perlahan namun pasti akan membentuk individu yang baru.

Mengutip Dee Lestari dari salah satu bukunya: “Tak ada kiat baru, semua taktik dan siasat akan bermuara pada opsi tunggal manusia untuk bisa bertahan hidup dari mulai zaman kera sampai zaman manusia bangsat; Adaptasi.”

Zona Nyaman? | Foto: Michael Erlangga
Zona Nyaman? | Foto: Michael Erlangga

***

Tulisan ini merupakan kontribusi dari Michael Erlangga, penulis asal Indonesia yang sedang menjalani fase baru dalam hidupnya di benua Australia. 


Disunting oleh: Azwar Azhar