Opinion, Story

Udah Bukan Zamannya Produk Indie Cepat Mati

“I think in the world of indie music there’s this sort of false modesty.” -Alex Kapranos

Gue punya teman yang katanya sih passionate banget sama musik. Dia punya band, dan aliran musiknya juga anti-mainstream, dia gak mau nyanyiin lagu-lagu Pop dari band-band yang terkenal, dan setia sama genre musiknya yang indie. Tiap gue ketemu dia, pasti ada aja band “mainstream” yang dia kutuk.

Masa katanya kalau mau diundang manggung, gue kudu main aliran ini. Ogah. Alay banget nyanyiin lagu band itu.

Jadilah teman gue ini seumur hidup terperangkap dalam ke-”indie”-annya dan jadi jarang manggung. Kalau band-band sepergaulannya udah manggung dari satu pensi ke pensi lain, dia gitu-gitu aja, setia sama fans-nya yang niche.

Baca juga: Melawan Pembajakan Dengan Model Bisnis Yang Tepat

Sekarang bikin video clip juga bisa sendiri, kok! Image credit: mediaworkspro.com

Salah? Gak. Namanya anak muda ya pasti idealis. Salahnya adalah, teman gue yang punya mimpi besar untuk berkarir di musik ini, selalu menjadikan ke-”indie”-annya sebagai justifikasi dari kegagalannya menjadi sukses dan terkenal.

Padahal, kalau kita lihat, produk indie itu nasibnya udah gak kayak dulu. Sepuluh tahun lalu, mungkin band indie masih struggle kalau gak kontrak rekaman sama label besar. Sekarang udah ada YouTube, SoundCloud, dan lain-lain. Band-band tanpa nama bisa tiba-tiba aja punya fan base di Twitter, karena karya indie udah ada pasarnya. Jazz, yang notabene jarang orang yang demen, sekarang malah punya panggung sebesar Java Jazz.

Baca juga: Belajar Sejarah Indonesia Lewat Arsip Musik Digital

Kesimpulannya? Teman gue tidak sukses bukan karena alirannya gak gampang diterima orang, tapi karena dia-nya aja kurang open-minded dan gesit dalam memanfaatkan kesempatan yang ada. Teknologi informasi udah ngebuka banyak pintu. Kalau ada anak-anak muda yang keluar dari jalur mainstream dan gak eksis dan masih pakai alasan “Iya soalnya kan gue gak ngikutin pasar”, itu berarti kurang berusaha aja bukan karena ke-“indie”-annya.

Jadi, udah bukan zamannya lagi deh, cari-cari excuse gak sukses cuma gara-gara lo “idealis”. Idealisme sekarang udah bisa dijual, asal mau usaha dan berpikiran terbuka.

Baca juga: Jangan Termakan Online Persona di Social Media

Header image credit: indiecurrent.com