Featured, Opinion

Tahun Baru Merayakan Apa?

“Celebrate what you want to see more of.” – Tom Peters

Tahun baru selalu punya bau yang khas. Abang-abang penjaja kembang api mulai berderet sepanjang jalan. Diskon bertebaran, tiket kereta ludes, tiket pesawat melambung. Pergantian tahun emang identik dengan guyub, pesta, pelesir, euforia. Dari mal, landmark kota, tepi pantai, sampai puncak gunung, padat semua.

Traveller sibuk update status packing dan check-in di stasiun, bandara, sampai objek wisata. Kebanyakan emang sibuk berlomba-lomba ngejawab pertanyaan: tahun baruan di mana. Dan kalo yang ngedekem di kamar atau malah kerja lembur itu rasanya dipandang pilu banget.

Image credit: wego.co.id

Kembang api di langit pertama tahun baru selalu dinanti, baik itu dari atap rumah komplek warga, sampai yang diliput televisi segala. Biasanya, euforia satu malam ini selalu ngasih “oleh-oleh” pagi harinya. Entah itu tumpukan sampah berserakan, atau ekstrem-nya korban luka atau pingsan segala karena kerumun manusia.

Baca juga: Kalau Makan Aja Impor, Mau Jadi Apa?

Penghujung tahun, nggak beruntungnya Indonesia direntet bencana. Mulai dari longsor Banjanegara, kebakaran di Pasar Klewer Solo, sampai meletusnya Gunung Gamalama di Ternate sana.

Yang masih panas-panasnya, barusan aja puing-puing AirAsia yang membawa 162 manusia ditemukan di Selat Karimata. Keluarga yang dirundung duka histeris nangis diliput media, masih berharap Tuhan kasih keajaiban. Nggak lama sebelumnya, tanah Banjarnegara ambles ke bawah mengubur warga. Menjadikan Indonesia berstatus Tanggap Darurat Bencana.

Kalau kayak gini, tahun baruan merayakan apa sebenarnya? Uang yang dibakar jadi bunga api cantik di udara itu kalau ditotal, bisa bangun berapa rumah korban longsor, atau bisa ngasih makan berapa banyak orang. Budget tahun baruan kalau dialihkan, pasti bisa lebih bermakna dari sekedar foya-foya berapa jam.

Baca juga: Don’t Just Go With The Flow. Be The Flow!

Rangkaian bencana di penghujung tahun emang harusnya bisa jadi bahan renungan. Buat refleksi diri selama setahun belakangan. Bukan fokus menghamburkan uang untuk satu perayaan yang jadi dipertanyakan, sementara saudara sendiri lagi berduka.

Banyak cara untuk berempati sama korban bencana. Banyak gelaran tahun baruan yang sebenernya lebih positif untuk dilakukan. Kayak berbagi rezeki sama yang lebih membutuhkan, atau sekadar berdoa bareng. Tahun baru kan harusnya harapan baru, bukan hanya untuk kamu. Melainkan untuk para korban bencana juga.

Tulisan ini bukan nyuruh kamu langsung ngebatalin tiket liburan layaknya Wapres Jusuf Kalla nggak jadi terbang tahun baruan di Bali. Tapi mungkin, di Bali, atau di tempat-tempat lainnya kita pergi pergantian tahun ini, kita bisa menunjukkan empati dengan cara yang berbeda-beda. Dan melewatkan 2014 dengan cara yang lebih sederhana, lebih bermakna. Sambil nyelipin doa di antaranya.

Baca juga: Run Without Growing Pains

Header image credit: wikimedia.org